filsafat-heidegger

Bijak Bersama Heidegger

Filosof barat maupun timur sebelum menemukan teori, ia merenungi keseharian dan realitas di sekitarnya. Martin Heidegger pun menemukan teorinya melalui kerja merenungkan keseharian. Martin Heidegger dilahirkan di kota Merskirch pada 26 September 1889. Filsuf ini dikenal melalui bukunya Sein und Zeit (Ada dan Waktu, 1927). Buku ini menjadi karya monumental sang filsuf karena mengungkapkan pertanyaan eksistensial : “Mengapa segala sesuatu itu ada dan bukan tiada?”.

Bagi kita yang ada di Indonesia tentu saja pemikiran Heidegger tak mudah kita fahami dikarenakan kendala bahasa. Beruntung kita mendapati F. Budi Hardiman yang menekuni Heidegger sekaligus cukup bagus menguasai bahasa Jerman. Ia membantu kita untuk menyelami lebih jauh apa yang menjadi pemikiran sang filsuf.

Di buku Heidegger dan Mistik Keseharian ini, kita akan diajak untuk menelusuri fenomenologi terlebih dahulu. Fenomenologi diartikan sebagai ilmu tentang hal-hal yang menampakkan diri, dengan kata lain, segala yang terlihat oleh kesadaran kita disebut fenomen (h.25). Ia mempelajari dari gurunya Husserl. Ia meradikalkan konsep intensionalitas yaitu keterarahan kesadaran.

Menurut Heidegger kesadaran bukan sekadar kesadaran akan sesuatu, yaitu memiliki isi tematis tertentu, melainkan kesadaran dalam/ sebagai sesuatu. Artinya kita tak sekadar menyadari sesuatu melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran kita (h.33). Selain diajak untuk mengenali lebih jauh konsep keterlemparan, konsep berada-menuju kematian, kita juga disuguhi beberapa kontroversi mengenai sang Filsuf. Heidegger sendiri cukup kontroversial tatkala ia bergabung dengan nazi. Selain itu, ia juga memiliki dua noda lain yakni selingkuhnya dengan Hannah Arendt dan keretakan hubungannya dengan ‘sistem agama katolik’ (h.18).

Pemikiran Heidegger menyadarkan kita bahwa modernitas tak sepenuhnya layak kita puja. Pasalnya, seiring dengan munculnya modernitas, manusia menjadi lebih terpaku pada alat-alat. Modernitas ingin menakar segala hal secara rasional sehingga semuanya dapat diprediksi dan diantisipasi secara persis. Dalam mentalitas semacam ini—yang mengagungkan kenikmatan yang tiada habisnya dengan sedikit mungkin rasa sakit, dan pengorbanan—pengorbanan dianggap irasional. Heidegger justru menunjukkan bahwa manusia sejak awal sudah tidak bisa lain kecuali menyerahkan diri ke dalam hidupnya. Dia harus hidup, meski hidupnya tidak dapat dikalkulasi sebelumnya. Hidup, yaitu bereksistensi, adalah suatu keniscayaan, suatu “lompatan” keberanian ke dalam yang tak terkalkulasi sejak awal mula. Keberanian untuk hidup berarti berupaya memahami keterlemparannya. Tetapi memahami keterlemparan secara paradoksal berarti adalah lari darinya (h.84).

Dalam bahasa sederhana penulis menunjukkan kepada kita bahwa kecemasan, merupakan bagian dari eksistensi manusia. Ketika manusia merasa cemas, ia akan merasa sadar dan memahami bagaimana ia harus melakukan sesuatu. Saat itulah manusia bisa dikatakan “ada”.

Waktu

Sein und Zeit mengajak kita menyusuri misteri waktu. Meskipun waktu sudah menjadi kajian beberapa filsuf sebelumnya seperti Aristoteles, Agustinus, Kant, Hegel, dan Bergson, tapi pemikiran waktu menurut Heidegger memiliki kekhasannya. Pemahaman Heidegger bukanlah pemahaman waktu objektif seperti waktu yang melekat pada Arloji. Waktu yang dimaksud Heidegger berkait erat dengan suasana hati kita, cara berada kita di dalam dunia ini, penghayatan kita—waktu yang dalam berbagai bentuk.

Di saat manusia merenung, di saat manusia merasakan takut, kecewa, disaat ia cemas ia mengalami keterlempatan, keseharian, dan kemungkinan–mati kita menjadi transparan. Kecemasan dapat menyingkap, betapapun liarnya waktu mendesak kita masuk ke dalam tirani kesibukan pasar global dan masyarakat informasi. Kita melihat arloji, lalu berkata “Sekarang waktu untuk ….” dan siap terjun ke kolam kesibukan. Inilah kritik Heidegger, ia mengajak kita bukan ke arah ateisme, melainkan menuju perigi rohani di tengah-tengah gurun nihilisme, penemuan religiusitas di zaman yang tidak lagi religius—suatu mistik keseharian tentang ada (h.160).

*) Penulis adalah Pengelola doeniaboekoe.blogspot.com, Guru MIM PK Kartasura

, , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan