dongeng-anak-dan-ibu-tiri

Bolehkah Memaafkan Ibu Tiri?

Portal – Ibu tiri. Dua kata itu seringkali mengingatkan kita pada sosok wanita dalam dongeng-dongeng masa kecil yang berkarakter jahat dan sering menyiksa anak yang bukan anaknya alias anak tiri. Kekejaman ibu tiri ini sudah digambarkan dalam berbagai bentuk wahana kesenian, di antaranya drama, film, dan dongeng. Yang terakhir disebutkan ini, sejatinya merupakan salah satu jenis wahana kesenian yang mempunyai banyak penggambaran mengenai karakter ibu tiri yang kejam.

Ibu tiri kejam merupakan salah satu karakter yang sering dijumpai dalam dongeng-dongeng Indonesia. Masyarakat Indonesia tentu mengenal kisah “Bawang Merah dan Bawang Putih”, yang sudah diceritakan kembali dalam berbagai bentuk kesenian. Orang Jawa sendiri mempunyai kisah “Ande-Ande Lumut”, yang merupakan cerita dari Jawa Timur, dan juga merupakan varian dari kisah-kisah Panji. Dalam cerita-cerita itu, dikisahkan bahwa ada seorang anak baik yang harus kehilangan ibunya, ayahnya menikah lagi dengan wanita lain, yang otomatis menjadi ibu tirinya; atau diangkat sebagai anak oleh sebuah keluarga. Ibu tirinya itu kejam dan sering menyiksanya. Pada akhirnya, anak itu mempunyai akhir yang bahagia dan ibu tirinya mendapatkan balasan atas perbuatan jahatnya.

Pola seperti inilah yang sering dijumpai dalam dongeng-dongeng ibu tiri di Indonesia. Pada denouement, yakni pada bagian akhir cerita di mana pengarang memberikan pemecahan soal dari semua peristiwa, biasanya ibu tiri akan mendapatkan hukuman atas perbuatan kejamnya. Hal ini menggambarkan seolah-olah semua perbuatan jahat seharusnya mendapatkan balasan yang setimpal, atau, dalam konteks ini, semua perbuatan kejam ibu tiri tidak dimaafkan dan yang bersangkutan harus diberi hukuman. Haruskah selalu seperti itu?

Dalam dongeng “Dewi Menur Seta”, pengarangnya memberikan denouement yang berbeda. Tokoh utama dongeng itu, yakni Dewi Menur Seta, memilih untuk memaafkan ibu tirinya daripada menghukumnya.

Menyelami Karakter Dewi Menur Seta

Mungkin tak banyak orang yang tahu tentang “Dewi Menur Seta”. Tetapi kalau “Putri Salju”, tentunya banyak orang yang tahu. Ya, “Dewi Menur Seta” adalah versi dari “Putri Salju”. Versi, menurut Danandjaja, adalah setiap ucapan ulangan dari suatu bentuk folklor. “Dewi Menur Seta” merupakan pengulangan “Putri Salju” dalam bentuk tembang macapat yang menggunakan bahasa Jawa Baru, yang beberapa unsur-unsur di dalamnya sudah disesuaikan dengan kebudayaan Jawa. Dongeng ini ditulis oleh Mas Hardjawiraga, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bagian dari Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah. Dongeng ini ditulis menggunakan aksara Jawa yang dialihaksarakan oleh A. Hendrato, dan diterbitkan pada tahun 1978.

Ringkasan ceritanya sebagai berikut. Dewi Menur Seta adalah seorang putri cantik berkulit seputih bunga menur dan berpipi kemerah-merahan mirip darah. Setelah beberapa bulan dilahirkan, sang ratu meninggal karena sakit. Karena Dewi Menur Seta masih kecil dan membutuhkan sosok yang bisa ngemong, sang raja segera menikah dengan seorang putri cantik yang masih muda. Ratu baru ini iri dengan kecantikan Dewi Menur Seta, apalagi ketika kaca kemayan-nya selalu mengatakan bahwa Dewi Menur Seta-lah yang paling cantik sejagad. Berbagai cara dilakukan ibu tiri itu untuk melenyapkan anak tirinya sendiri. Mulai dari menyuruh mantrinya untuk membunuh Dewi Menur Seta karena ingin memakan hatinya mentah-mentah, menjerat leher sang dewi dengan kalung, kemudian menusukkan sisir beracun ke kepalanya, hingga meracuni sang dewi menggunakan kue beracun. Akibatnya, sang dewi tertidur lama sekali dan membuat orang-orang cebol yang menolongnya merasa sedih. Pada akhirnya, sang dewi baru bangun ketika kue yang tersangkut di kerongkongannya mencelat keluar. Dia menikahi pangeran yang menolongnya. Pada pesta pernikahan, dia mengundang ayahnya dan ibu tirinya yang jahat. Kejahatan ibu tirinya terbongkar. Sang raja ingin menghukum permaisurinya yang jahat, tapi dicegah oleh Dewi Menur Seta yang memilih untuk memaafkan ibu tirinya yang kejam itu. Akhirnya semua hidup bahagia dan rukun.

Mas Hardjawiraga membuat karakter Dewi Menur Seta sebagai putri cantik yang polos, lugu, dan baik hati. Hal ini terlihat dari bagaimana Dewi Menur Seta menanggapi ucapan mantri yang ingin membunuhnya. Dia bahkan menyuruh sang mantri untuk segera membunuhnya, karena tidak ingin mengecewakan ibu tirinya yang kejam. Kebaikan hati Dewi Menur Seta juga terlihat pada akhir cerita. Ketika semua kejahatan ibu tirinya terbongkar, sang raja ingin menghukum si ibu tiri, tetapi dihentikan oleh Dewi Menur Seta sendiri. Hal ini diceritakan pada pupuh Mijil pada 18 dan 19:

  1. Amung siji kangjeng prameswari tumungkul acelom, lan sang prabu ical ing sabare, arep males ukum menyang sori, nanging Menur Putih, menggak ora mathuk.
  2. Awit kabeh wis ketemu becik, ora prelu ngono, malah aja diraos-raoske, ing wusana wis tentrem saiki, manten atut becik, prabu sepuh rukun.

Terjemahan bebas:

  1. Sang permaisuri terdiam dan wajahnya pucat. Sang raja hilang kesabarannya dan ingin menghukum permaisurinya itu, tapi Menur Putih tidak setuju.
  2. Karena semua berakhir baik, tidak usah seperti itu, sebaiknya tidak usah dirasa-rasakan. Pada akhirnya semua hidup tentram, baik sang Dewi dengan suaminya dan sang raja dengan permaisurinya.

Orang Jawa sendiri mempunyai ungkapan yang tepat mengenai sikap Dewi Menur Seta itu, yakni legawa. Dengan legawa, semua masalah dapat terselesaikan karena pihak yang dirugikan mau memaafkan. Dalam konteks ini, Dewi Menur Seta memilih untuk memaafkan ibu tirinya.

Bolehkah Memaafkan Ibu Tiri?

Tentunya ada beberapa alasan mengapa denouement dalam dongeng ibu tiri kejam hampir mirip, yakni kebahagiaan pada anak tiri yang tersiksa dan hukuman atas perbuatan kejam si ibu tiri. Pertama, karena pengarang ingin memuaskan pembaca. Tokoh jahat harus menerima suatu perlakuan buruk. Atau, kedua, karena pengarang ingin mengajarkan moral pada anak-anak. Pada akhirnya, yang selalu berbuat baik akan menerima ganjaran atas perbuatannya, dan yang berbuat jahat harus menerima hukuman. Begitulah karma seharusnya berjalan.

Lalu, apakah boleh begitu saja memaafkan ibu tiri?

Setiap pengarang mempunyai hak untuk mengakhiri cerita yang dibuatnya. Akhir cerita juga ditentukan oleh karakter tokoh utama. Dalam “Dewi Menur Seta”, Mas Hardjawiraga membuat sang dewi yang cantik nan baik hati itu untuk legawa; memaafkan ibu tirinya daripada membalas perbuatan jahatnya.

Meski begitu, memaafkan perbuatan jahat, terutama dalam dongeng anak-anak, adalah suatu bentuk perbuatan berani. Dongeng untuk anak-anak pada umumnya dibuat untuk memberikan ajaran moral. Yang baik mendapat ganjaran, yang jahat mendapat hukuman. Mas Hardjawiraga dengan berani membuat denouement yang berbeda dari yang lain. Hal ini tentunya karena ada alasan tersendiri. Mungkin saja beliau ingin mengajarkan moral pada anak-anak dengan wewaler Jawa: wong linuwih iku ambeg welas lan sugih pangapura. Artinya, orang yang bijaksana adalah orang yang berbelas kasihan dan pemaaf.

, ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan