cerita-dari-digul-kumpulan-cerpen

Cerita dari Digul

Boven Digul, bisa juga diartikan Atas Digul (boven dalam bahasa Belanda berarti atas), adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua, Indonesia. Tempat ini bersejarah. Di sinilah tahanan politik, khususnya tawanan Pemberontakan PKI 1926, dibuang oleh pemerintahan Belanda. Siapa yang sangka, ternyata Boven Digul menyimpan banyak kisah.

Cerita dari Digul” adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh mantan tahanan Digul (eks-Digulis). Ada lima cerpen di dalamnya. Kelimanya ditulis dalam bahasa Indonesia. Beberapa cerpen yang ditulis eks-Digulis lainnya tidak dimuat dalam buku kumpulan cerpen karena ditulis dalam bahasa Belanda. Ada juga cerpen yang ditulis tanpa diketahui nama pengarangnya. Cerpen itu berjudul, “Minggat dari Digul”.

Kumpulan cerpen dalam buku ini boleh dikata berisi roman. Semua cerita dilatari kisah cinta antar manusia. Ada kisah tentang sepasang kekasih atau kisah cinta suami dengan istri. Boven Digul menjadi semacam irisan yang menyatukan semua kisah roman ini.

Lewat kumpulan cerpen ini, kita diajak untuk melihat bagaimana situasi Boven Digul. Kita bisa berimajinasi untuk melihat betapa kerasnya alam Boven Digul. Belantara hutan luas yang dikeliling sungai penuh dengan buaya membuat Digul cocok jadi penjara alam. Penjara alam buat tahanan politik kelas berat. Lewat cerpen ‘Minggat dari Digul’ ini, kita bisa membayangkan bagaimana susahnya para tahanan yang mencoba melarikan diri dari Boven Digul. Bukan hanya alamnya yang menakutkan. Penyakit malaria juga jadi momok tersendiri bagi penghuni tahanan Digul.

Dengan gaya realisme sosial, kumpulan cerpen ini menyajikan kepada pembaca tentang sejarah. Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berjuang melawan penjajahan Belanda lewat pemberontakan 1926-29. Kisah-kisah roman dibungkus dengan situasi pergolakan sosial politik di masa itu. Penindasan dan rakyat yang kelaparan menjadi salah satu konteks penting setiap cerpen. Dari kisah-kisah ini kemudian kita tahu: perjuangan para pejuang kemerdekaan dulu memang dibayar dengan harga mahal. Bukan hanya merelakan waktu, tenaga, dan daya, tapi juga harus merelakan cintanya.

Kumpulan cerpen ini juga memberitahukan kita bagaimana para tahanan diperlakukan di Digul. Belanda tetap memainkan politik devide et impera untuk menghancurkan keyakinan ideologis setiap tahanan. Cerpen ini juga memberitahu kita bagaimana para tahanan bertahan hidup di sana. Bisa dikatakan, kumpulan cerpen ini berhasil membuat kita membayangkan bagaimana tahanan Digul hidup dalam keseharian.

Jika boleh dibilang kelemahan dari kumpulan cerpen ini, barangkali dominannya kisah tentang usaha pelarian para tahanan. Namun, di sisi lain, deskripsi yang rinci tentang usaha pelarian justeru membantu kita berimajinasi bagaimana situasi geografis Digul. Bukan hanya itu, kita juga mendapat gambaran situasi kultural masyarakat Papua, -yang sering kali dalam cerpen ini, disebut sebagai kanibal atau masyarakat tak berbudaya. Dari situ kita tahu, setiap usaha pelarian, tidak hanya memperhitungkan kondisi alam yang keras, tapi juga harus memperhitungkan kondisi kultural yang ‘ganas’ jika bertemu dengan masyarakat lokal Papua.

Tak diragukan lagi kalau kumpulan cerpen ini berhasil menghadirkan pergulatan psikologis para tahanan Digul. Antara cinta, penyesalan, dan perjuangan berkelindan membentuk drama kemanusiaan. Semua itu terkompilasi menjadi kenekadan untuk menerjang kerasnya alam demi bisa lari dari Digul. Lari dari penjara alam yang keras, barangkali untuk mencari sekadar cinta yang hilang.

Cerpen “Pandu Anak Buangan” bisa jadi cerpen yang paling kuat menggambarkan pergulatan psikologis. Pandu,- tokoh dalam cerpen, sesosok laki-laki yang diharapkan menjadi priyayi oleh bapaknya, pada akhirnya mengalami krisis kepercayaan pada cinta dan perempuan. Krisis psikologis ini semakin bertambah rumit kala dia bertemu Okini. Okini perempuan Papua yang mencintai Pandu. Apakah Pandu akhirnya tidak percaya pada cinta dan perempuan? Disinilah Abdoe’l Xarim M.s. memainkan perannya sebagai penulis handal. Dia mampu meramu peristiwa-peristiwa itu menjadi sebuah refleksi bagi kemanusiaan kita.

Selain menikmati karya sastra, kumpulan cerpen ini juga menghasilkan pembelajaran sejarah, khususnya tentang PKI. Lewat tokoh-tokoh dalam cerpen, kita diajak untuk memahami pandangan-pandangan politik dan ideologi PKI. Misalnya, tidak semua tokoh PKI adalah ateis. Lewat kumpulan cerpen ini, kita diceritakan kalau ada juga tokoh PKI yang sangat taat beribadah. Kumpulan cerpen ini seolah ingin mengatakan bahwa propaganda tentang PKI yang selama ini beredar tidak semuanya benar.

Sebaliknya, lewat kumpulan cerpen ini, kita diajak untuk melihat sisi lain PKI, khususnya dalam rentang waktu 1926-29. Mereka adalah para pejuang yang berusaha untuk memerdekakan manusia Indonesia dari segala bentuk penindasan, khususnya penjajahan Belanda. Karena usaha-usaha perjuangan itulah, Boven Digul jadi persinggahan mereka.

Dibalut dengan kisah roman cinta antar sesama manusia, kumpulan cerpen ini akhirnya bukanlah sekadar roman picisan. Kumpulan cerpen ini, bagi saya pribadi, setidaknya sebuah kisah perjuangan. Walau dilatari percintaan, namun nafas perlawanan terasa begitu pekat. Perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan yang bernama kolonialisme.

, , , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan