cinta-lima-hari-kerja

Cinta Lima Hari

Adalah Masfufah, wanita yang setiap hari bergulat dengan mimpi. Dua belas tahun silam, dia merasa dikelabui angan. Tatkala kata-kata cinta telah di ujung lidahnya, pada hari tepat di kelulusan SMA, dia berencana akan mengungkapkan isi hatinya kepada pria pujaannya.

Hari itu pada bulan Juni adalah hari terakhir pertemuan murid-murid SMA, sebelum mereka melanjutkan kehidupan masing-masing: ada yang kuliah, bekerja, atau pun memilih menikah.

Masfufah menenteng kamera digitalnya, tidak ada alasan lain kenapa dia membawa kamera di hari perpisahan itu, semua hanya dengan maksud hendak mencuri gambar pria panutan hatinya. Di hari terakhir itu dia bertekad dan mengharuskan dirinya mendapat gambar pria itu, untuk kenang-kenangan.

Sejak kedatangannya ke sekolah, Masfufah sudah berkeliaran mencari lelaki yang di-idamkannya. Tapi, sampai acara wisuda selesai, orang yang dicarinya itu tak nampak batang hidungnya. Masfufah merasa heran, kenapa di hari terpenting semacam ini dia tak datang? Bukankah setelah hari ini akan sangat sulit bagi mereka untuk bertemu? Lalu, apa artinya sebuah sahabat dan pertemanan jika di hari perpisahan  saja dia tak datang?

Beberapa bulan setelah hari perpisahan sekolah, tiba-tiba Masfufah mendengar kalau lelaki pujaannya itu berada di Medan, mengikuti jejak ke dua orang tuanya yang merantau. Masfufah merasa cintanya tak akan menemui kepastian karena jarak yang terlampau jauh, lalu dengan terpaksa dia mengubur cintanya. Sekalipun pada kenyataannya cintanya tetap hidup hingga kini, hingga dua belas tahun kemudian setelah hari perpisahan itu.

Cinta sejati tak akan pernah mati, sebuah ungkapan klasik yang benar adanya bagi Masfufah. Telah melewati sepuluh tahun lebih, tapi rasa cinta Masfufah tak pernah pupus. Di hati kecilnya selalu ada penantian buat pria yang dulu menjadi teman SMA-nya itu. Pria yang sekarang tidak diketahui rimbanya: apakah dia telah beristri, beranak, atau masih hidup?

Masfufah telah melewati banyak kisah percintaan yang beragam. Berganti dari satu pria ke pria lain. Masfufah selalu mencari pria mana yang sekiranya mampu membuat dia merasakan kadar cinta yang luar biasa seperti halnya ketika dia mencintai teman seangkatannya itu. Namun, hasilnya nihil! Bahkan ketika Masfufah memutuskan untuk menikah, perasaan cinta yang luar biasa itu tak diserahkan Masfufah untuk suaminya. Masfufah hanya menyimpan cinta sejatinya untuk pria yang selalu menjadi bagian dari mimpi-mimpinya.

Membangun fondasi rumah tangga dengan cinta yang separuh adalah sebuah kesalahan. Masfufah menyadari itu tatkala palu perceraian diketuk hakim di pengadilan. Bukan karena berpisah dari suami yang membuat Masfufah menangis, tapi karena membayangkan nasib sang buah hati setelah perceraian itu.

Sekian lama Masfufah menjalani hidup dalam kesendirian, membesarkan anak semata wayang dengan penuh kesabaran. Masfufah selalu berharap bahwa di hari depannya dia akan menemukan sesosok pria yang tulus mencintainya dan anaknya. Dan di antara harapan itu, ada nama pria yang dari dulu dinantikannya. Ya, Masfufah berharap pada saat yang tepat, Tuhan akan mempertemukannya kembali dengan pria itu.

Angin kecil perlahan menyapu anak-anak rambut Masfufah. Matahari pagi menerabas rimbun daun beringin yang memayungi taman kota itu. Beberapa anak lewat di depan kursi kecil yang sedang ditempati Masfufah, tepat di bawah pohon beringin itu. Dari jauh tampak Galang berlari menuju ke arahnya, menenteng plastik kecil yang berisi lima butir bakso ikan.

” Ma…bakso ikan yang ini enak lo..Kata mas-nya ini pake ikan segar.”

” Iya, makanya Galang harus hati-hati pilih jajanan. Mama kan selalu ingetin Galang.”

” Tadi Galang belinya sama anak itu lo Ma…” Galang menunjuk ke arah anak wanita yang seusia dengan Galang, anak itu sedang berada di area permainan perosotan.

” Owh, siapa namanya?” Tanya Masfufah.

” Tidak tahu, Ma! Galang mau main ke sana ya…” Pinta Galang dengan suara manjanya.

” Ya sudah, Mama lihat dari sini. Tapi hati-hati ya!”

” Ok, deh!”

Kemudian Galang berlari ke arah tempat perosotan, dimana anak wanita tadi berada.

Hampir setengah jam Galang asyik bermain dengan teman yang baru dikenalnya. Terlihat mereka tertawa kegirangan, terlebih ketika mereka bermain jungkat-jangkit. Beberapa anak mulai ikut bergabung dengan mereka, maka semakin seru saja anak-anak itu bermain.

Taman kota itu memang terasa begitu ramai jika di hari Minggu. Ada yang berolahraga, sekedar jalan-jalan, yang kopi daratan atau pun yang momong anak kesayangan.

Sebenarnya Masfufah tidak pernah bersemangat pergi ke tempat umum seperti itu. Entahlah, dia selalu merasa malas! Tapi, karena hari itu Galang merengek ingin pergi, akhirnya Masfufah mengalah. Apalah daya, mengikuti kemauan anak adalah bagian dari kebahagian orang tua, selagi kemauan itu tidak bertentangan dengan hukum dan aturan apapun. Hal itu pula yang menjadi prinsip Masfufah, bahwa selagi ia mampu dia akan selalu mengikuti kemauan Galang, selagi tidak menyalahi aturan.

Masfufah tersenyum kecil, menyaksikan keriangan buah hatinya. Apalah yang diharapkan seorang bunda selain melihat anaknya riang gembira, sekalipun hidup dalam ketiaadaan sang ayah di sisinya. Perlahan Masfufah menghampiri Galang yang dari tadi sibuk bermain dengan teman barunya. Dia akan mengajak anaknya untuk segera pulang.

” Ayo, Nak! Kita pulang sudah siang!”

Galang menengok ke arah Mamanya itu. Sepertinya dia agak enggan meninggalkan permainannya.

” Bentar dulu ya Ma…”

Terlihat Galang berlari menjauhi Masfufah, anak itu mengejar teman lainnya yang sedang bermain kucing-kucingan.

” Lang….Galang…Ayo Nak! Sudah panas ni…!” Masfufah berteriak, namun Galang tak menghiraukan.

Dari jauh terlihat anak perempuan menuntun Galang ke arah Masfufah. Dahi Masfufah berkerut, sepertinya anak lelakinya itu merasa senang diajak anak perempuan itu untuk mendekat ke arahnya.

” Tante, Galang gak mau pulang. Tapi aku bilang jangan membantah Mama, nanti dosa.” Masfufah tersenyum, mendengar kata-kata kebenaran dari anak perempuan itu.

Galang nampak cemberut, lalu berkata,

” Aku kan masih pengen bermain sama kamu, Nar!”

” Tapi aku juga mau pulang, bentar lagi papa datang.” Terang anak perempuan itu.

” Ini yang temenin Galang beli bakso ikan, kan? Tanya Masfufah seraya merapikan rambut anaknya yang berantakan.

” Iya, Ma! Ini namanya Nara.” Galang memperkenalkan teman barunya itu kepada Mamanya.

” Oh…kamu manis sekali. Emang Papa kamu di man…”

” Nara, sudah selesai mainnya? Ayo pulang!” Tiba-tiba seseorang memotong ucapan Masfufah.

Masfufah melihat ke arah asalnya suara. Nampaklah seorang pria dengan kacamata minus berdiri di samping kirinya agak ke belakang.

Sejenak Masfufah terdiam memperhatikan lelaki yang di sebut Nara sebagai Papa. Tapi kemudian dia segera insyaf dengan apa yang di lihatnya. Sekalipun telah melewati masa yang panjang, wajah itu tetap tak berasa asing di matanya. Masfufah terperangah, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sedangkan di sisi lain, lelaki itupun mengalami hal yang sama seperti Masfufah, merasa tidak percaya!

” Ufah, apa ini kamu? Apa kabarmu? ” Lelaki itu mengarahkan telunjuknya ke arah Masfufah yang masih berjibaku dengan ketidakpercayaannya.

Masfufah hanya mengangguk. Sebelum dia menjawab pertanyaan pria di hadapannya itu, tiba-tiba terdengar Nara merengek manja.

” Papa..kenapa lama sekali. Adek pengen beli es krim.”

” Sebentar ya, Nara! Papa mau ngobrol dulu sama tante ini, teman papa waktu SMA.” Papanya Nara melirik ke arah Masfufah yang sedang menebar senyum.

” Anak mu sangat pintar dan cantik.” Masfufah memuji Nara, anak dari lelaki yang tak lain bernama Suban. Dan Suban adalah seorang insan yang selama ini membuat harapan Masfufah seperti tak berkesudahan.

” Terima kasih, Fah! Apa ini anakmu?”

” Iya, ternyata hari ini anak kita mulai saling berteman. Tidak kusangka kalau Nara anakmu.” Ucap Masfufah seraya melihat tingkah Galang yang menarik tangan Nara dan menuntunnya ke tempat jungkat-jangkit, seolah Galang sengaja memberikan waktu untuk Mamanya agar berbicara lebih lama bersama Papanya Nara. Melihat hal itu Masfufah tersenyum.

” Siapa nama anakmu? Kelas berapa?” Tanya Suban dengan senyum khasnya.

” Namanya Galang, baru kelas 2 SD.”

” Berarti mereka satu usia. Nara juga baru masuk kelas 2. Rencananya besok Senin mau aku daftarkan di SD Bina Bangsa.”

” Bina Bangsa yang dekat apotek di ujung jalan sana kan?”

” Iya.”

” Lah itukan sekolahannya Galang. Memang sebelumnya Nara sekolah dimana?”

” Aku dan Nara baru pindahan dari Medan hari Sabtu kemarin.”

” Berarti selama ini kamu benar di Medan?

” Iya.”

” Terus?”

” Ya, sekarang aku berencana menetap di sini. Rasanya rindu kampung halaman.”

” Istrimu orang Medan?”

” Bukan, dia dari Jawa Timur tapi dari kecil dia menetap di sana.”

” Lah sekarang istrimu mana?”

Sejenak Suban terdiam, terlihat dia menarik nafas dalam-dalam, sepertinya dia merasa berat hendak mengatakan sesuatu.

” Beberapa bulan lalu, istriku meninggal.” Terang Suban seraya menelan ludah.

” Oh, maaf aku tidak bermaksud…”

” Tidak apa-apa, aku dan Nara sudah ikhlas. Sekarang di kota ini kami sedang memulai hidup yang baru.”

Sejenak di antara ke duanya tidak ada percakapan, mereka terdiam. Entah apa yang sedang mereka fikirkan. Sampai sesaat kemudian Suban melemparkan pertanyaan kepada Masfufah.

” Kamu sendiri dapat orang mana?”

” Sama, orang Jawa! hanya saja dia dari Jawa Tengah.”

” Owh, ternyata jodoh kita jauh-jauh ya? Sekarang tidak ikut ke sini?”

” Tidak, dia berada di Jawa.”

” Lagi mudik kali ya…?”

” Tidak, aku dan dia…”

Belum sempat Masfufah menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Nara datang merengek ingin pulang. Dia menarik-narik tangan Papanya.

” Ayo Pa…Adek pengen pulang! Adek pengen ketemu Nenek di rumah. Es krim buatan nenek pasti sudah jadi.”

” Iya, Nara…Sabar sebentar ya, pamit dulu sama tante.”  Ucap Suban seraya membenahi tas bekal Nara.

Masfufah tersenyum, kemudian berucap,

”  Jadi Nara tinggal di rumah Nenek?”

” Iya, tante! Kata Papa nanti kalau udah punya Mama, Nara mau dibelikan Papa rumah.”

Mendengar perkataan anaknya itu, Suban pun tersipu malu. Sedangkan di lain sisi Masfufah berkelana dengan angannya, hari ini dia merasa bahwa Tuhan sedang membukakan jalan baginya untuk mendapatkan cinta sejatinya.

Pertemuan pertamanya dengan Suban setelah dua belas tahun berlalu, sungguh membuat hari-hari Masfufah bagai di taman bunga, bahagia penuh warna. Tapi satu hal yang disayangkannya, bahwa pada hari itu Masfufah tidak berhasil memberi tahu Suban tentang statusnya. Terkadang Masfufah merasa kesal terhadap tindakan Nara waktu itu yang tiba-tiba datang merengek dan memotong perkataannya, alhasil Suban tidak tahu akan dirinya yang kini tanpa suami.

Nara dan Galang resmi berada di satu sekolah yang sama. Tiap hari Masfufah dan Suban bertemu tatkala menjemput anak masing-masing dari sekolahan. Sampai saat ini percakapan mereka hanya sekedar basa-basi. Tidak ada tukar nomor telepon apalagi bertanya lebih dari itu. Masfufah merasa gregetan, inginnya dia adalah Suban meminta nomor teleponnya dan kemudian menjadi teman curhatnya. Mungkin dengan begitu akan membuka jalan bagi hubungan yang lebih dekat.

Suban seperti membatasi diri untuk bergaul dengan Masfufah. Dia berlaku seperti orang tua wali yang lainnya. Jika berbincang hanya masalah PR anak, rangking anak atau kebiasaan lainnya yang menyangkut anak. Suban tidak pernah bercerita tentang pendamping, berkisah tentang masa SMA, apalagi berbagi cerita tentang pengalamannya di Medan. Semua hanya sebatas pada pembicaraan yang umum.

Masfufah merasa kalau sikap Suban yang seperti itu terjadi karena dia mengira kalau Masfufah itu punya suami. Sehingga dia takut dianggap mengusik rumah tangga orang lain kalau hubungan mereka terlalu dekat.

Oleh karena itu Masfufah bertekad untuk memberi tahu Suban tentang kesendiriannya itu. Mudah-mudahan Suban faham akan apa yang dimaksudkan olehnya.

” Ban, kenapa tak pernah ajak main Nara ke rumahku?” Tanya Masfufah tatkala menunggu jam sekolah bubar.

” Nara gak ngajak aku sih, kenapa gak Galang aja yang main ke rumah Nara?”

” Galang malu sama Neneknya Nara…”

” Kan belum pernah ketemu, kok bisa malu.”

” Galang tuh intinya agak rumahan. Dia lebih suka ajak teman-temannya ke rumah, dibanding dia yang keluar.”

” Ya, lain waktu aku mampir ke rumahmu. Sekalian berkenalan dengan suamimu.”

Mendengar ucapan Suban, Masfufah merasa diberi jalan. Dengan semangatnya dia menimpali.” Aku sudah tidak bersuami kok! Beneran deh!”

Suban terlihat kaget, ternyata selama ini sangkaannya salah, bahwa Masfufah adalah wanita bersuami.

” Kamu tidak bercanda kan, Fah?” Nampaknya Suban belum  percaya. Wajahnya memancarkan kepenasaran.

” Ya, Ban! Aku sudah hidup sendiri sejak Galang umur 5 tahun.”

” Owh, aku kira kamu tinggal di rumah itu bersama suamimu.”

” Tidak, aku cuma tinggal berdua dengan anakku Galang.” Terang Masfufah dengan senyum yang terus di tebar.

Percakapan mereka kemudian berakhir tatkala anak-anak keluar dari kelas. Sebenarnya Masfufah berharap di akhir percakapannya Suban meminta nomor telepon, tapi rupanya tidak! Suban malah pergi terlebih dahulu, tanpa meninggalkan pesan apapun.

Sudah sekian lama pengharapan Masfufah tak mendapat sambut dari Suban. Dia selalu saja bertindak seadanya, sewajarnya.

Masfufah kemudian berfikir bahwa Suban memang tak menaruh rasa apapun terhadapnya. Dan kejadian dua belas tahun lalu ketika Suban tiba-tiba tak hadir di acara perpisahan sekolah,  padahal waktu itu Masfufah hendak menyatakan perasaannya, diyakininya sebagai rencana Tuhan yang luar biasa. Mungkin pada saat itu jika masfufah ” nembak” Suban, dia hanya akan mendapatkan penolakan karena mungkin lelaki itu tak menaruh hati padanya hingga…saat ini.

Untuk ke sekian kalinya Masfufah berusaha mengubur cintanya. Dia pun tak ingin lagi mendekat pada Suban. Jika bertemu saat menjemput anak di sekolah, Masfufah pun bersikap seadanya.

Terkadang dia lebih memilih menghindar atau pura-pura sibuk ngerumpi dengan ibu-ibu yang lain, ketimbang bertegur sapa dengan Suban.

Minggu pertama di bulan ke lima ini Suban tak datang menjemput Nara. Perannya di gantikan oleh sang ibu di sertai driver pribadinya. Masfufah merasa merindui kehadiran lelaki itu. Biasanya Suban akan datang dengan motor gedenya, lalu menghampiri dan menegurnya. Suban akan bilang, ” padahal tokoku lagi rame sama pelanggan, tapi demi Nara aku tinggalkan.”

Kali ini serasa ada yang kosong, Masfufah benar-benar kehilangan. Sungguh perasaan kasihnya pada Suban tak dapat di kubur begitu saja. Begitu sulit untuk dihapus, begitu sukar untuk ditukar. Dengan cara apa Masfufah dapat melenyapkan Suban dari ingatannya, seolah tak ada jawabannya.

” Nara, kok Papamu gak jemput?” Masfufah mencoba mencari info dari gadis kecil itu.

” Papa sakit tante.”

Masfufah kaget. Perlahan timbul kekhawatirannya, seperti seorang istri mengkhawatirkan suaminya.

” Papa sakit apa, Nara?”

” Papanya Nara cuma sakit biasa, meriang.” Tiba-tiba Neneknya Nara datang dan menjawab pertanyaan Masfufah.

” Oh, maaf! Ini neneknya Nara ya?”

Wanita tua itu mengangguk seraya tersenyum ramah.

” Saya Masfufah. Mamanya Galang, teman sekelasnya Nara.” Masfufah memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan. Neneknya Nara pun menyambutnya dengan baik.

” Oh, ini ya namanya Masfufah, teman SMAnya Suban?”

” Kok ibu tahu?” Masfufah sedikit penasaran.

” Suban sering cerita…”

” Sering? ” Masfufah masih tidak yakin kalau Suban sering menceritakan tentang dia kepada ibunya.

” Iya, dia suka bercerita sama ibu. Oh ya ibu pulang dulu ya, paling hari Senin Suban sudah bisa jemput Nara lagi.”

Kemudian Nara dan neneknya berlalu. Masfufah hanya terpaku, tiba-tiba ada riak kebahagiaan dalam hatinya tatkala dia tahu bahwa dirinya telah menjadi bagian dari setiap cerita Suban.

Hari Senin yang cerah sudah di depan mata. Jam dua belas siang ini dia memacu motornya ke sekolah untuk menjemput Galang. Masfufah berdandan lebih rapi dari biasanya. Dia tahu Suban akan datang untuk menjemput Nara. Hari ini dia ingin terlihat cantik di hadapan Suban, lelaki yang selalu bermain di angan-angannya.

Terlihat Suban sudah berada di depan sekolah  lebih dulu. Dengan penuh percaya diri Masfufah langsung menghampiri Suban, dia yakin Suban akan bersikap lebih hangat kepadanya.

” Apa kabar? Neneknya Nara bilang kalau kamu sakit? Maaf aku gak bisa menjenguk.” Masfufah mengawali percakapan, dia berusaha memperlihatkan kepeduliannya.

” Tidak apa-apa, aku sudah baikan.”

” Kamu sakit apa, Ban?”

” Ah, biasa. Mungkin asalnya masuk angin.”

” Aku merasa khawatir dengan…”

” Aku pulang dulu ya, tuh Nara sudah keluar!” Tiba-tiba Suban memotong ucapan Masfufah. Dengan wajah datar dan seolah tak menghiraukan Masfufah, Suban kemudian memburu anaknya. Mereka kemudian naik ke atas motor dan lenyap di tikungan jalan.

Kekecewaan yang dirasakan Masfufah sungguh tiada dua. Berharap mendapat lebih dari perlakuan Suban, kenyataannya dia seperti tak dianggap. Sikap Suban masih seperti beberapa hari yang lalu, sewajarnya dan agak acuh.

Masfufah merasa benci dengan dirinya sendiri. Kenapa dia merasa percaya diri kalau Suban menyukainya, hanya karena dia sering bercerita tentangnya kepada ibunya?

Setelah hari yang mengecewakan itu, Masfufah benar-benar tak lagi mau peduli dengan Suban. Masfufah tak lagi mau menjemput Galang ke sekolah, karena malas bertemu Suban. Dia memilih menyuruh sang adik sepupu untuk menggantikannya menjemput anaknya itu.

Berbulan-bulan tak bersua rupa dengan Suban tiba-tiba timbul kerinduan di hati Masfufah. Terlebih pada malam kemarin, Suban tiba-tiba hadir dalam mimpinya dan menitipkan Nara. Masfufah tidak tahu makna dari mimpinya itu. Tapi yang pasti dia merasa sangat merindui pria satu anak itu.

Atas dasar rindu pula, hari ini Masfufah memutuskan untuk menjemput sendiri Galang ke sekolah. Harapannya satu, ingin bertemu dengan Suban. Mata Masfufah memutar ke segala arah mencari keberadaan Suban. Namun, sampai anak-anak keluar kelas dia tak menemukannya. Lalu dari jauh terlihat Nara berjalan sendiri. Masfufah segara menghampiri gadis cilik itu.

” Nara, kamu di jemput sama siapa?”

” Sama Om Burhan.”

” Nenek sama Papa kemana?

” Nenek kan nemenin Papa di rumah sakit.”

Masfufah terhentak kaget. Ada rasa khawatir yang berlebihan menyelimuti dadanya. Entahlah, Masfufah merasa kalau kali ini Suban tidak sedang sakit biasa.

Sore harinya, atas informasi dari Burhan, yang tak lain adik kandung dari Suban, Masfufah memacu motornya ke arah Rumah Sakit. Di perjalanan Masfufah terkena macet, hampir satu jam lamanya.

Hatinya bergetar tak karuan, ada perasaan takut akan kehilangan Suban. Dia sangat ingin bertemu dengannya sekarang, detik ini juga, menit ini juga! Tidak peduli dengan reaksi Suban nanti, pokoknya hari ini Masfufah akan mengutarakan segenap perasaannya pada Suban. Perasaan yang disimpan selama dua belas tahun lamanya.

Ketika sedang berusaha menembus kemacetan yang tak biasa itu, dari jalur berlawanan terdengar bunyi serine ambulan yang semakin menggetarkan hati Masfufah. Tiba-tiba  Masfufah mengandai-andai tentang kematian Suban, bahwa di dalam ambulan itu ada jenazah pria yang dicintainya. Oh, tidak! Suban masih hidup! Dia akan sembuh! Masfufah berusaha menghempaskan fikiran buruknya itu. Dia kembali fokus pada perjalanannya, bahwa dia harus segera tiba di rumah sakit.

Akhirnya, Masfufah berhasil ke luar dari kemacetan itu. Dia memacu motornya lebih cepat. Tapi kemudian tiba-tiba ban motornya mengempis perlahan. Masfufah berhenti dan memarkir motornya. Nampaklah lobang kecil pada ban motor tersebut.

Masfufah mencari tukang tambal ban, tapi rupanya masih beberapa meter dari tempatnya berada. Masfufah mendorong motornya, terasa sangat melelahkan. Setelah selesai menambal ban, Masfufah kembali  melaju, memburu waktu. Wajah manis Suban serasa ada di pelupuk matanya, semakin dekat dan begitu dekat.

Masfufah tak lagi ingat bahwa dia sedang berkendara, di fikirannya hanya ada Suban. Dia merasa Suban sedang menunggunya…Pandangan Masfufah kosong, bukan jalur jalan yang nampak, melainkan wajah lelaki itu, lelaki yang selalui dirinduinya. Dan pada saat itu, tiba-tiba Masfufah merasa terpental, lalu membentur tembok trotoar. Motor Masfufah menabrak kendaraan lainnya, dia kehilangan kendali.

Di ujung kesadarannya Masfufah melihat Suban melambaikan tangan, memanggilnya. Sesaat kemudian pandangannya gelap, alam bawah sadarnya berkelana ke lain dunia.

– – – – – – – – – –

Masfufah koma hingga lima hari lamanya. Silih berganti kerabat dan teman saling menjenguk, mendo’akan dan menghibur Galang yang merasa bersedih melihat kondisi Mamanya.

Lalu di suatu hari yang tak di duga, tepat ketika Nara dan neneknya datang menjenguk, kesadaran Masfufah kembali lagi. Dia membukakan mata untuk pertama kalinya, ruh dan raganya kembali bersatu.

” Masfufah, ada Nara dan Neneknya.” Kata Ibunya Masfufah, seraya memegangi tangan anaknya itu.

Masfufah tidak menjawab, dia hanya menatap sosok Nara dan neneknya dari atas ke bawah, seperti seadang mengingat sesuatu.

” Ini Nara, Ma…! Teman Galang sekolah.” Galang mencoba menjelaskan tentang Nara kepada Mamanya.

Masfufah mengangguk. Dia tersenyum, kemudian pelan berucap,

” Makasih, Nara sama Nenek sudah datang.”

Nara mengangguk sambil tersenyum. Neneknya pun demikian.

Dengan wajah yang masih pucat dan suara yang lemah, Masfufah kembali berkata,

” Papa gak ke sini, Nara?”

Nara dan Neneknya untuk sesaat terdiam. Raut muka gadis kecil itu tampak berubah muram. Tapi kemudian sang nenek menjawab pertanyaan Masfufah.

” Papanya Nara…dia…telah tiada lima hari yang lalu.” Terang Neneknya Nara dengan suara yang begitu berat.

Mendengar itu Masfufah tidak percaya sama sekali! Tidak mungkin Suban telah meninggal! Bukankah hampir satu jam yang lalu Masfufah baru saja bertemu Suban di taman bunga? Dan bukankah selama lima hari itu pula, Suban kerap datang ke rumahnya dan mengatakan kalau dia berniat memperistrinya? Masfufah menggelengkan kepala, dia meronta dan menuduh kalau Neneknya Nara sedang berbohong.

Semua orang yang ada ruang rawat tersebut sibuk menenangkan Masfufah yang menjerit terus menerus. Akhirnya, dia dapat ditenangkan oleh seorang kiyai yang masih kerabatnya, yang kebetulan sedang berada di sana. Kiyai tersebut berusaha menjelaskan tentang apa yang telah menimpa padanya, juga tentang perjalanannya bertemu Suban selama lima hari di lain dunia. Bahwa semua terjadi adalah karena kuasa Allah.

Ya, tanpa disadari Masfufah, bahwa apa yang telah dilewatinya memiliki benang merah tersendiri: Adalah benar bahwa ambulan yang lewat dari jalur berlawanan ketika dia jerjebak  macet adalah ambulan yang membawa jenazah Suban, percis seperti pengandaian Masfufah waktu itu perihal kematian Suban.

Dan akhirnya Masfufah tahu, bahwa selama ini Suban memang berniat menjadikannya istri. Namun, karena dia menyadari akan keadaannya yang telah lama mengidap penyakit kanker, niat itu urung diutarakannya. Dia hanya menjadikan Masfufah sebagai bagian dari cerita-ceritanya kepada sang bunda. Suban pun berusaha menghindari Masfufah sejauh mungkin, agar cintanya tak semakin tumbuh.

Cinta Suban  memang tersampaikan, tetapi lewat dimensi lain. Bagi Masfufah, perjalanan alam bawah sadarnya selama lima hari yang dilewati dengan penuh kebahagiaan bersama Suban tidak akan terlupakan begitu saja.

Dan andai saja Masfufah bisa menawar takdir, bahwa sesungguhnya dia tidak ingin tersadar dari komanya. Karena setelah ia membuka mata, nyatanya dia hanya menemui ketiadaan Suban. Namun, keberadaan Galang, si buah hati yang kemudian mengembalikan akal sehat Masfufah: bahwa cinta tak mesti terwujud dalam sebuah ikatan, tak harus selalu hidup bersama. Mendo’akan dan menjaga nama baik orang yang telah tiada  pun adalah bagian dari cinta.

, ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan