cinta-yang-kalah

Cintaku Kalah

“Aku mencintaimu,” desis perempuan itu sambil menatapku lirih.

“Aku juga,” jawabku seraya memalingkan wajah. Mataku mencoba lari dari tatapannya.

“Kalau begitu, nikahi aku!” jemari kecilnya mendesak menarik daguku menghadap paras cantiknya.

“Kau sendiri tahu jawabannya. Sungguh, aku tak bisa,” suaraku lirih kuyu menyerah tiada gairah.

Akhirnya, hanya kebisuan yang tersisa. Lalu, isak tangismu mendera, merobek, dan memecah keheningan. Kau dan aku, akhirnya, belajar satu hal bahwa tak selamanya cinta bisa mengalahkan semua.

***

Jika ada makhluk paling lemah di dunia, pastilah namanya cinta.  Ya, matanya pasti buta. Kakinya rapuh. Berdirinya sempoyongan. Badannya kurus hanya tulang yang terlilit kulit. Hidupnya selalu butuh topangan dari yang lain. Dia benar-benar tidak akan pernah bisa mandiri. Dia begitu renta untuk bertarung melawan segala perintangnya. Dia akan selalu ada dipihak si kalah.

Lalu, entah kenapa banyak pujangga menulis jutaan sajak indah tentang dia. Aku sungguh tidak mengerti. Mungkinkah para penyair itu sedang mabuk cinta ketika menulis puisinya? Jangan-jangan, mereka sedang terjebak dalam halusinasi semu? Lalu, dalam kondisi begitukah mereka mengukir barisan kata-kata menawan dengan pena yang menari lincah?

Entahlah. Bagiku, banjaran syair itu hanya sanjungan kebohongan karena cinta tak selalu semanis itu.

Begitu lemahnya cinta hingga dia pun tak bisa memilih. Bahkan, untuk dirinya sendiri. Rona mukanya berseri hanya jika sembunyi-sembunyi. Dia begitu pengecut menampakkan diri di hadapan jutaan orang. Takut dia melawan tatap mata penuh penghakiman itu. Dadanya tidaklah sekuat baja kala menahan hantaman norma-norma. Sekonyong-konyong, dia mengerut kalau lihat-lihatan dengan adat istiadat. Apalagi kalau sudah berpapasan dengan sosok hukum agama, dia langsung menghilang tanpa bekas jejak tersisa.

Ah, sampai kapan aku harus bersembunyi di balik tabir kepalsuan ini?

***

“Lamarlah aku. Apalagi yang kau tunggu?” dia memohon diantara sedu sedan isak tangisnya.

Sejuta kali sudah dia meminta ini. Permintaan yang jauh lebih berat daripada tuntutan membangun seribu candi dalam semalam. Ah, jantung hatiku, cinta memang benar-benar sudah mendungukanmu. Kau jelas sudah kehilangan kewarasanmu.

“Kenapa kau diam saja? Buktikanlah kalau kau memang cinta,” suaranya bergetar, hasil perpaduan antara murka dan hasrat yang membara.

“Waktu sudah membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu,” dengan mengumpulkan segenap keberanian, kucoba menatapnya dalam-dalam.

“Tapi, kenapa…?” pertanyaan itu berhenti, kaku seperti batu. Seolah terkatup pada sebuah jawaban yang sudah dia ketahui sebelumnya.

Lalu, keheningan datang lagi menemani. Kali ini, tak ada lagi isak tangis. Kini, tampaknya dia sudah mulai realistis.

Tapi, entahlah. Keheningan selalu menyimpan teka-teki.

***

Konon katanya, ada cerita tentang keberanian karena cinta. Sepasang muda-mudi nekad menerjang maut agar keutuhan cinta mereka direkatkan kematian. Yang satu menenggak racun. Sementara lainnya, menghunjamkan belati ke ulu hati menembus jantung. Sebuah adegan keberanian nan agung karena kekuatan cinta.

Tapi, itu kan hanya dongeng belaka. Sebuah fiksi isapan jempol karangan sastrawan, yang konon, katanya juga seorang penjiplak. Tentulah, tidak benar ada kejadian begitu. Jadi, kobaran nyali menerjang maut oleh dua sejoli itu, pasti hanya rekaan semata, bukan? Fiktif.

Tapi, baiklah, katakan saja, cerita itu benar begitu adanya. Tapi, itu kan hanya cek-cok perseteruan dua keluarga. Kawin lari saja, beres masalah.

Coba kalau mereka melawan  agama, norma, adat, dan segala tetek bengek apa yang disebut “normal”. Mau lari kemana pun, setiap mata akan menjatuhkan vonis. Hujatan, “Kau berdosa!” akan terus menghantui. Banyak orang akan mengataimu lebih bodoh dari binatang; manusia yang tak tahu fitrahnya; calon penghuni tetap kerak neraka; dan segala gempuran makian yang tampaknya sudah tertanam secara alamiah di setiap mulut manusia.

Suarakanlah tentang, “Semua hanya karena cinta,” di depan mulut-mulut sialan itu. Niscaya, jutaan ayat suci akan datang menghujani. Semua syair-syair puitis tentang kesucian dan keluguan cinta pasti segera tenggelam direndam bayangan siksa kekal neraka. Kalau sudah melawan ini, baru racun dan belati bisa kau cumbui sampai mati.

***

Senja mulai mengintip dari balik tirai jendela. Sepasang insan manusia sedang bergumul tentang nasib perjalanan cinta mereka. “Mau dibawa kemana hubungan kita?” sayup-sayup radio tetangga sebelah bernyanyi nyinyir menyindir.

“Tapi, aku tak mau kehilangan kamu,” kugenggam erat jemarinya sambil mengecup lembut keningnya.

Namun, dia tidak menjawab.

Seperti senja, kebisuannya selalu mendatangkan perasaan rawan. Kebisuan itu seperti mengantarku ke samudera labirin tak berujung. Mulut mungilnya memang tidak mengeluarkan suara apa-apa. Tapi, rasa-rasanya seperti sedang memberondongkan ribuan peluru yang menembusi apa pun yang dilewatinya.

“Jadikan aku istrimu,” dia membalik badan membelakangi senja. Seolah dia sangat membenci si langit jingga.

“Kau semakin tidak masuk akal. Permintaanmu itu gila,” kutatap marah langit berbercak merah keemasan itu.

“Sayang, aku lelah terus begini. Aku capek terus sembunyi,” dia membalas tak kalah sengit.

“Tapi, untuk menikahimu, sama saja kau sedang  berperang melawan dunia,” kucoba membalik bahunya dengan lembut.

“Ya sudah, kita lawan! Kau meragukan kekuatan cinta kita?” dia menyingkirkan tanganku, lalu bingkas bergerak menjauh.

“Oh Tuhan, lebih baik Kau benamkan saja aku di palung lautan terdalam daripada terjebak dalam situasi seperti ini,” batinku berteriak-teriak setengah gila.

Akhirnya, tembok itu pun runtuh sudah. Bahkan, seorang Samson bisa takluk bertekuk lutut di hadapan rengek manja seorang perempuan. Dia, yang mampu merontokkan seekor singa, pun menyerah kalah dihantam godam air mata Delilah. Siapa yang bisa tahan bertarung melawan kekuatan magis di balik bujuk rajuk perempuan, apalagi dia datang dari kayangan?

Seketika, akal sehatku pun ikut terbunuh. Entah kekuatan dari mana, mulut ini tiba-tiba bersuara, “Baiklah, kalau begitu maumu. Besok, aku melamarmu.”

Genderang perang kini tertabuh kencang. Aku dan perempuanku kini berperang melawan dunia, walau bermodal ketapel berpeluru cinta.

***

Aku datang ke rumahnya persis ketika bulan purnama mulai mengintip dari balik awan. Wajah cerianya mengganti senja yang telah lelah. Dia tampak berseri dan bersinar.

Kelihatannya, sang rembulan samasekali tidak mengerti segala kecamuk isi hati ini. Dada ini rasanya mau pecah. Kepala terasa ingin memuntahkan segala isinya. Kaki ini berat melangkah seperti dipasung beton satu ton. Ah, manusia mana yang berani mengetuk pintu neraka untuk dirinya sendiri. Hanya aku, manusia paling dungu sejagad semesta.

Keluarga besarnya sudah menunggu. Mereka duduk rapi berjejer baris di hadapanku. Raut wajah mereka persis seperti yang kuduga. Ada yang melotot dan ada juga yang menatap penuh tanya. Tak ada senyum ramah nan hangat selayak menerima tamu penting. Mereka menyambutku seperti orang yang tidak diharapkan kehadirannya. Sementara, perempuan si jantung hatiku, terlihat mengintip kecil dari balik pintu kamarnya. Hanya bapaknya yang terlihat tenang, walau menyimpan selaksa misteri.

“Anda siapa dan ada keperluan apa?” suara itu berat dan meluncur tenang.

Lidah ini tiba-tiba membatu. Cinta seperti tak punya kekuatan apa-apa, bahkan walau hanya untuk menggerakkan lidah yang kelu.

“Oh, kekuatan cinta, datanglah menghampiriku,” batinku.

“Anda siapa dan ada keperluan apa?” pertanyaan yang sama memecah gundah gulanaku.

Keheningan ruangan itu begitu dingin dan mencekam. Kupaksakan diri dengan terbata-bata menjawab pertanyaan itu. “Nama saya Sinta. Saya datang ke sini untuk melamar putri Bapak.”

“Plak…plak…plak…”

Tiga kali tamparan. Sela bibir meneteskan darah. Itu pertanda cintaku kalah.

Satu tanggapan ke Cintaku Kalah

  1. Rina 2 Februari 2018 pada 17:37 #

    Keren!

Tinggalkan Balasan