buku-buku-perjalanan-peradaban-manusia

Dunia Pembaca dan Buku-Buku

Hubungan buku dan pembaca melebihi ikatan antara pemilik dan benda semata. Pada buku-buku dan pembaca, ada hubungan batin tak terjelaskan. Mengapa orang memerlukan buku-buku, membacanya, mengumpulkannya, memajangnya di rak-rak, hingga ia begitu mencintai dan menghabiskan hidupnya bersama buku.

Inilah kisah tentang kecintaan seorang penggila buku. Ada satu kegilaan melebihi kegilaan yang patut dikisahkan, yakni kegilaan manusia kepada buku. Buku mengubah takdir hidup orang-orang (h.1). Diceritakan seorang dosen Blumma Lennon mati tertabrak mobil dan meninggal setelah membaca puisi Emile Dickinson. Dari sana kisah bermula, ada penelusuran kepada orang-orang yang mencintai buku.

Kematian Blumma pun diselidiki oleh sang pengisah, ia tahu kematian Blumma membawa misteri. Setelah sehari kematiannya ada paket berisi buku hampir tertutup semen. Sang pengisah kemudian menyusuri alamat yang menempel di buku untuk mengembalikan buku itu kepada pemiliknya. Tak dikira, penelusuran itu membawanya kepada para penggila buku lainnya.

buku-buku-peradaban sejarahBuku itu membawa pada seorang maniak buku Delgado. Bagaimana Delgado menggandrungi buku bisa kita lihat dari pengisahan sang tokoh saat bertemu di rumah Delgado. “Rak-rak besar berlapis kaca di sekujur dinding, dari lantai sampai ke langit-langit, di penuhi buku-buku. Dan bukan Cuma di ruang ini saja, tapi di sebelahnya juga. Ia mengantarku berkeliling lantai itu, dan dari kamar ke kamar mendapati rak-rak serupa, berjejal koleksi buku, korsel-korsel di koridor buat menyimpan kamus-kamus tebal, piringan hitam mengisi almari pakaian, dan buku-buku ada di kamar mandi, kamar pembantu, dapur, dan kamar-kamar belakang”.

Pengisah pun kagum, kekaguman itu terpaksa membuatnya bertanya : “Berapa banyak buku yang Anda punya?”. Kemudian Delgado pun menjawab : “Jujur saja, saya sudah berhenti menghitung. Tapi saya rasa pasti ada sekitar delapan belas ribu. Sejauh yang saya ingat, saya sudah lama membeli buku di sana-sini. Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak buku-buku belaka” (h.26).

Delgado pun menceritakan bagaimana ia tak bisa lepas dari dua puluh buku lain ketika membaca buku. “Kerepotan inilah yang memukau saya”(h.27).  Ada ketakjuban saat menyimak pengisahan Delgado. Pengisah pun dibuat takjub akan sosok yang sibuk di kementrian luar negeri masih sempat untuk menyisakan waktunya untuk membaca buku-buku yang beribu-ribu itu.

Ketakjuban Pengisah belum berhenti. Ia hendak mencari misteri buku yang dikirim kepada Blumma. Ia pun menemukan kisah tentang Brauer sang penggila sastra dan buku-buku pula. Ia adalah pemburu buku cetakan pertama buku-buku seni rupa, novel-novel abad kesemblian belas, kebanyakan dari Perancis dan Rusia.

Kegilaannya mengoleksi buku-buku sastra cetakan pertama akhirnya tak mampu ia teruskan. Brauer tak begitu mempedulikan buku-bukunya. Meski ia penakluk buku yang ampuh, tapi tak bisa merawat buku-buku itu sepenuhnya. Suatu ketika ia menciptakan bibliofil yang mengantarkan buku-bukunya berhubungan satu sama lain. Ia sedang merancang sebuah jejaring buku yang menghubungkan satu buku sastra ke buku sastra lainnya.

Kerja itu harus berakhir saat kertas yang ia tuliskan mesti ditelan banjir. Musnahlah kerja yang selama ini ia agung-agungkan. Ia pun tak ingin buku-bukunya hancur. Ia membawa semua koleksi bukunya dan menjual rumahnya. Ia bercerai dari istrinya, serta menyendiri di tepi laut dan membangun rumah disana. Rumah itu memiliki dinding-dinding yang terbuat dari buku-bukunya. Rumah Kertas.

Carlos Brauer akhirnya harus menanggung kesepian, kesendirian, dan keterasingan. Ia berteman buku, hidup bersamanya, dan tak ingin melepaskannya. Cerita ini diakhiri saat Carlos Brauer sibuk mencari buku yang ia cari hingga ia memukul-mukul temboknya hingga nyaris roboh. Barangkali buku itulah yang dibawa sang Pengisah, yang menjadi misteri kematian Blumma.

Novel ini meski begitu pendek membawa kita pada satu kemungkinan-kemungkinan dan keterhubungan antara dunia akademis, hingga dunia seorang bibliofil. Dunia buku pada akhirnya melampaui urusan gelar, strata akademis, sampai dengan puja-puji kepada para penulis “tai kucing” yang hanya mengejar tenar dengan satu atau dua bukunya.

Kita diajak untuk merenungi, dunia buku yang cenderung sepi, sendiri, dan asing itu tak selalu menggoda orang-orang. Dunia buku dan dunia pembaca seperti dunia yang tak akrab di Buenos Aires. Seperti juga di belahan bumi lainnya, seperti juga yang terjadi di masyarakat sekeliling kita.

Petuah di halaman pertama novel ini yang berbunyi buku merubah takdir hidup seseorang tak bisa selalu memikat orang-orang masa kini. Kini, lebih tepat mengucapkan kalimat pendek di halaman belakang novel ini yang berbunyi “orang rupanya juga bisa merubah takdir buku”. Pada akhirnya manusialah yang kelak akan merubah takdir buku. Ia bisa membuatnya begitu berarti atau sebaliknya bagai barang yang tak berguna seperti benda mati.

Novel rumah kertas menyentak kita karena ia mempertanyakan ulang bagaimana cara kita memperlakukan buku. Cara kita memperlakukan buku ikut membentuk dan menentukan martabat buku. Keteguhan dan keyakinan kita sebagai pembaca akan membawa kita menjadi manusia penuh referensi manusia berpanggul pengetahuan. Begitu pula sebaliknya, ketika kita memperlakukan buku ibarat benda mati, ia hanya sebagai benda mati, tak memiliki fungsi apapun selain pajangan di rak-rak dan lemari kaca yang indah.

Kematian Blumma, sang pembawa dan pembaca buku Emile Dickinson seperti kematian yang indah. Dan tentu ini berbeda dengan nasib Carlos Brauer, sang pemburu novel dan buku-buku sastra Amerika dan Rusia. Ia harus bertarung menghadapi kesepian, keterasingan, dan kesendirian bersama buku-bukunya. Bersama buku-buku itu, ia tak hanya membangun rumah, tapi juga membangun dunianya sendiri yang kaya-raya, dan berlimpah kata-kata.

Tentu saja kebahagiaan seorang Brauer dan nasib tragic yang menimpanya menyisakan keheningan dan pikiran yang melayang-layang buat kita. Itulah kekuatan novelet ini, yang disebut New York Times : “akan terus menghantui pembaca jauh sesudah ditutup”.

*) Saudagar Buku, tuan rumah Pondok Filsafat Solo

, , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan