iceberg

Rahasia Menulis Ala Hemingway #1

If it is any use to know it, I always try to write on the principle of the iceberg. There is seven-eighths of it underwater for every part that shows. Anything you know you can eliminate, and it only strengthens your iceberg. It is the part that doesn’t show. (Ernest Hemingway)

 

 

Seperti tersirat dalam kutipan di atas, salah satu rahasia menulis ala hemingway menggunakan prinsip gunung es. Kamu tentu tahu gunung es. Gunung es yang tampak di permukaan hanyalah seperdelapan dari gunung es yang sebenarnya. Dengan kata lain, tujuh per delapan gunung es tersebut tersembunyi di bawah permukaan air. Bagi nahkoda kapal, fenomena gunung es cukup berbahaya sebab ia tidak tahu seberapa besar gunung es yang ada di bawah air yang kemungkinan dapat menyebabkan benturan pada lambung kapal.

Begitulah prinsip dasar menulis yang digunakan Hemingway, pembaca tidak tahu persis seberapa dalam cerita yang ditulis Hemingway. Cerita dari Hemingway bisa berkembang ke mana saja sesuai dengan interpretasi pembacanya.

Hemingway lahir di Oak Park, Illionis pada tanggal 21 Juli 1899. Pada awalnya ia bukan penulis fiksi. Tanpa pendidikan tinggi memadai, Hemingway bekerja sebagai wartawan di Kansas City Star, sebuah surat kabar lokal. Dari profesinya itulah ia belajar untuk menulis secara efektif dan efisien yang kemudian disebutnya “the best rules ever learned for the business of writing”. Hemingway membentuk tulisannya dengan hal-hal yang esential dan jika terbentur kata-kata yang bertele-tele, ia harus menemukan kata lain yang lebih tepat.

Dari pedoman itu, ia kemudian mengembangkan pedoman menulis fiksi yang dikenal dengan ‘iceberg principle’ atau prinsip gunung es. Cerpen-cerpennya mulai beredar Buku kumpulan fiksinya, In Our Time, terbit pertama kali pada tahun 1925 dan tidak laku di pasar buku. Tahun berikutnya, 1926, ia menerbitkan novel The Sun Also Rises. Sayang buku inipun tidak cukup laku di pasar buku.  Tahun 1927 ia kembali menerbitkan buku kumpulan cerpen, Men Without Women. Dalam buku ini terdapat cerpennya yang terbaik dan paling terkenal di Amerika, Hills Like White Elephants.

Kesuksesannya secara komersial sebagai penulis fiksi dimulai pada tahun 1929 setelah ia menerbitkan A Farewell to Arms. Pada tahun 1952, Hemingway mendapat penghargaan Pulitzer Prize dan puncak kariernya sebagai penulis fiksi diakui dunia dengan pemberian Nobel Sastra untuk novelnya, The Old Man and the Sea. Namun dalam suatu kesempatan wawancara dengan Paris Review dan  The Guardian, Hemingway menyatakan bahwa karya terbaiknya adalah novel yang ditulis dalam enam kata: “For sale: baby shoes, never worn.

Memang pada kenyataannya di kemudian hari, cerita ini berkembang seiring perkembangan para pembacanya. Bahkan penyebutan untuk karya inipun beraneka ragam. Ada yang menggolongkannya sebagai microfiction, flash fiction, short story dan tentu saja novel menurut pengarangnya.

Sebenarnya, cerita dengan enam kata tersebut adalah cara Hemingway menjelaskan prinsip gunung es yang dipegangnya. Akademisi menyebut itu cara paling radikal Hemingway menjelaskan prinsip gunung es dengan memberikan contoh sebuah novel dari awal hingga akhir hanya dalam enam kata. Penjelasan itu diberikan untuk menanggapi tantangan para sahabat dekatnya dalam sebuah acara makan malam mengenai apa yang disebut Hemingway sebagai “Iceberg principle”.

Rahasia Menulis Ala Hemingway: Prinsip Gunung Es

Untuk memahami prinsip gunung es Hemingway dalam cerita enam kata tersebut, kita boleh membayangkan sebuah toko sepatu anak yang menampilkan sepatu bayi dengan label “diobral”. Lalu kita akan berhadapan dengan pertanyaan: adakah toko sepatu bayi yang menjual sepatu bekas? Jika ada, kita akan kembali berhadapan dengan pertanyaan lain: adakah sepatu bayi bekas yang tidak pernah dipakai? Pertanyaan-pertanyaan itu menuntun pembaca menemukan bagian cerita lain yang tersembunyi yang tidak ditulis eksplisit oleh Hemingway. Itulah salah satu keping gunung es yang dapat ditemukan.

Pembaca lain, mungkin seorang ibu muda, akan berpikir lain ketika membaca sebuah iklan begitu di toko sepatu bayi. Ibu muda itu bisa saja berpikir: mengapa sepatu masih bagus diobral? Bukankah sepatu itu nantinya dapat dipakai jika adik dari bayi pemilik sepatu lahir?

Dengan kata lain, ibu muda itu mengembangkan cerita tentang seorang ibu muda seperti dirinya yang baru saja kehilangan bayinya, entah karena diculik atau keguguran. Ia berpikir bahwa mesti keguguran atau kehilangan bayi, sepatu baru itu dapat dipakai untuk anak yang akan lahir kemudian. Cerita ibu muda itu akan berubah jika ada pertanyaan: bagaimana jika yang memasang iklan sepatu adalah kekasih gelap ibu muda itu? Jangan-jangan karena keguguran, sang ibu turut meninggal bersama anaknya. Dan sebuah sepatu bayi tidak berarti apa-apa bagi lelaki, dengan menjualnya, kemungkinan masih ada sedikit hiburan di tengah rasa kehilangan.

Begitulah Hemingway menjelaskan prinsip gunung es. Sahabat BOS dapat belajar mengeplorasi cerita dari enam kata tersebut. Atau, sahabat juga dapat meringkas cerita yang sudah kamu punyai hingga tersisa enam kata. Selamat menulis.

(bersambung…ke Rahasia Menulis ala Hemingway dan Kedalaman Cerita)

Diolah dari berbagai sumber.

, , , , , ,

Tinggalkan Balasan