quit

I’m Quit

 

Berhenti menggangguku Harry. Aku tidak akan melakukan itu.”

Dean memandang Harry dingin. Seharusnya Harry sudah menghilang dari kehidupannya setelah ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Harry justru datang menawarkan pekerjaan padanya sejak dua bulan yang lalu.

Jangan sungkan padaku Dean. Aku tahu kau sedang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan Lily. Jika kau berhasil dalam pekerjaan ini, kau dapat melunasi biaya pengobatan Lily, setahun penuh.”

Pergi dari hadapanku!! Atau aku akan mencincangmu detik ini juga.”

Ambil pekerjaan ini. Jangan paksa aku untuk menggunakan si kecil Lily,”  ancam Harry. Mulutnya berkedut saat menyadari kobaran api pada kedua mata Dean. Ia tahu mengancam Dean menggunakan Lily selalu berhasil.

Kau pengecut.”

Aku senang kau menerimanya. Akan kukirim detail pekerjaanmu melalui email. Selamat malam Dean.” Harry melempar senyum miring pada Dean sebelum keluar dari apartemen Dean.

Apartemen Dean menjadi hening. Tik.. tok.. tik. tok. Pergerakan detik jam dinding terdengar dengan jelas. Suasana seperti ini sangat dibenci Dean. Ia merindukan celotehan riang Lily yang gemar berlarian membuat apartemen kecilnya berantakan. Merindukan kehangatan senyumnya, pancaran matanya, dan kasih sayangnya. Dean tak habis pikir, Lily harus mengalami tabrak lari yang mengakibatkan beberapa jahitan di tubuhnya. Belum lagi cedera otak yang cukup serius.

Dean mengakui dirinya dan Lily bagaikan matahari dan gelapnya malam. Lily selalu berbuat baik pada orang lain. Sedang, Dean senang berjudi. Tak jarang ratusan dolar setiap malam habis di tempat judi. Jika orang di tempat judi bercanda dengan mengatakan ia mencuri uang untuk berjudi, Dean dengan tegas menyangkal. Ia tidak melakukan hal sehina itu, Dean bekerja. Pekerjaan yang amat disesalinya.

Cuitan burung terdengar dari smartphone-nya. Dengan malas, Dean membuka dan membaca email yang baru saja masuk. Gedung Hercules. CEO sunrise group, Luke Mcloan. Selesaikan malam ini. Dean melirik jam di pergelangan tangannya. Ia punya waktu empat jam setengah untuk melakukan persiapan.

Dengan kostum serba hitam, Dean meluncur menuju gedung Hercules. Ia berhasil mengumpulkan banyak informasi mengenai Luke Mcloan. Seorang CEO perusahaan kecil, playboy licik yang menghalalkan cara untuk mencetak uang. Luke Mcloan menghabiskan malam di ruang kerjanya pada akhir bulan. Berpikir keras untuk membuat karyawannya terus bekerja keras dengan upah kecil.

Dean memasuki gedung Hercules melalui pintu belakang. Dengan lihai Dean menghindari CCTV di setiap penjuru menuju ruang control. Dua orang di ruang control ia lumpuhkan dalam sekejap. Setelah memastikan semua aman, Dean mematikan seluruh CCTV, melenggang menuju ruang kerja Mcloan. Tak butuh waktu lama bagi Dean mencari ruang kerja  Mcloan karena ia telah mengahafal blueprint gedung Hercules.

Perlahan, Dean memasuki ruang kerja Mcloan. Matanya dengan cepat memindai ruangan dan menemukan sosok Mcloan sedang berkutat dengan berkas- berkas.

“Kenny! Sudah kukatakan padamu jangan masuk ruanganku sembarangan!” teriakan Mcloan terdengar jelas. Kepalanya terangkat dan matanya memancarkan rasa tidak suka. Tapi sedetik kemudian berganti menjadi takut dan waspada.

“siapa kau?!”

Dean menyeringai. Tangan kanannya menunjukkan bilah pisau yang memantulkan cahaya bulan. Ia berjalan mendekati Mcloan yang sekujur tubuhnya bergetar.

“apa yang kau lakukan?!” tanya Mcloan ketakutan. Dean tak menghiraukan pertanyaan Mcloan dan terus berjalan mendekati orang tersebut. Dean mengambil ancang – ancang melempar pisau dengan sasaran jantung Mcloan.

            “Tunggu! Akan ku be-,“ JLEB! Pisau Dean sempurna menembus jantung Mcloan. Tubuh Mcloan jatuh berdebum ke lantai, yang dalam sekejap memerah oleh darahnya. Dean melirik arloji di tangannya. Tepat 00.34 am pekerjaan Dean selesai.

***

            Dean terbangun oleh dering handphone-nya. Dean mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama yang tertera di layar smartphone-nya.

            “Uang yang kujanjikan sudah kukirim.” Ujar Harry dari seberang telepon, lalu ia memutuskan sambungan.

            Kantuk yang mendera Dean seketika sirna. Dean memeriksa uang di tabungannya menggunakan layanan pada smartphone-nya. Dahi Dean berkerut dalam. Seperti yang Harry katakan, jumlah uang yang banyak telah masuk ke rekeningnya. Ia tak menganggap perkataan Harry kemarin serius karena pekerjaannya terlampau mudah untuk imbalan sebesar ini. Otak Dean yang cerdas mulai mengkalkulasi berbagai kemungkinan. Ia tak bisa sepenuhnya percaya pada Harry, karena ia tahu persis bagaimana liciknya orang itu. Pemikiran Dean terputus tatkala indera pendengarannya menangkap dering smartphone-nya.

            “Apa saya sedang berbicara dengan wali dari Lily Perkins?” suara seorang wanita muda terdengar saat Dean menerima telepon.

“Keadaan Lily saat ini kritis. Kami akan melakukan operasi pada otaknya, tapi kami membutuhkan izin dari walinya.”

            Jantung Dean berpacu lebih cepat mendengar penjelasan suster tersebut. Tangan Dean dengan cepat menyambar jaket dan kunci motor kemudian melesat menuju rumah sakit secepat yang ia mampu. Yang ada di pikirannya sekarang hanya Lily, satu – satunya anggota keluarga yang tersisa. Dean tak sanggup membayangkan jika Lily menyusul kedua orang tua mereka dan meninggalkannya sendirian.

            Tiba di rumah sakit Dean memarkir motornya asal – asalan. Kedua kakinya bergerak cepat ke depan ruang operasi. Detik jam bergerak lambat bagi Dean seolah sedang mengejeknya yang terlihat menyedihkan di depan ruang operasi. Saat Lily keluar dari ruang operasi, mata Dean tidak berkedip menatap tubuh Lily. Ia berniat menyusul Lily ke ruangannya tapi seorang suster menghampirinya.

            “Maaf, anda walinya Lily Perkins? Harap melunasi biaya administrasi operasi barusan.” Ucap suster tersebut lalu melenggang pergi ke bagian administrasi dan Dean mengekor di belakang.

            Suster tersebut menyerahkan rincian biaya opersi yang membuat Dean mengurut dada. Dean harus menguras lebih dari setengah isi rekeningnya untuk melunasinya. Tepat setelah Dean melunasi tagihan rumah sakit, tv LCD di tengah hall rumah sakit menampilkan berita tentang pembunuhan yang Dean lakukan tadi malam.

***

            Polisi menyatakan telah mengetahui pelaku dari pembunuhan tadi malam di gedung Hercules. Pelaku tersebut sama dengan pelaku dari pembunuhan – pembunuhan sebelumnya. Dean terpaku melihat tv. Wajah dan namanya terpampang jelas.

Setelah membunuh korban terakhir, pelaku mengosongkan brankas korban dan membawa lari sejumlah uang. Dean sudah berlari menerobos kerumunan orang yang membicarakan dirinya menuju motornya di depan rumah sakit. Samar – samar Dean mendengar penyiar tv tersebut menghimbau masyarakat untuk kooperatif dengan polisi untuk menangkap dirinya.

            Dean memacu motornya hingga batas maksimal. Di belakangnya terdeangar bunyi sirine bersahutan. Kedua tangannya kebas. Harry menjebak dirinya. Otak Dean mengulang – ulang perkataan tersebut. Harusnya ia tahu sejak awal. Seharusnya ia tidak menerima pekerjaan terakhirnnya. Seharusnya.

            Dean mengumpat keras. Bensin motornya habis saat ia tengah diburu polisi. Dengan kesal ia meninggalkan motornya di pinggir jalan. Ia tak boleh tertangkap sekarang. Tidak saat Lily masih membutuhkannya.

            Dering smartphone di kantongnya berbunyi.

            Menyerahlah Dean Perkins. Kau tidak ingin kondisi adikmu semakin memburuk kan?

            Dean menghentikan larinya. Jantungnya berdetak semakin kencang sekarang.

            Kuperingatkan sekali Dean Perkins. Jika kau tidak menyerahkan dirimu ke kantor polisi hingga tengah hari, jangan salahkan aku atas apa yang terjadi pada adikmu. Sambungan telepon pun terputus.

            Pikiran Dean sangat kacau sekarang. Pihak rumah sakit pasti telah menghubungi polisi jika ia memiliki hubungan dengan Lily yang dapat dimanfaatkan untuk memaksanya menyerahkan diri. Dean tidak mau tertangkap. Tapi jika keselamatan Lily dipertaruhkan, mau tidak mau ia harus menyerahkan diri.

            Tiba di kantor polisi, Dean di giring ke ruang interogasi. Di dalamya duduk seorang pria umur 40 tahunan yang menyambutnya dengan senyuman kemenangan. Pria tersebut mempersilahkan Dean duduk di kursi di hadapannya.

            “Akhirnya kita dapat bertatap muka, Dean Perkins. Namaku Jade, orang yang memburumu setahun terakhir. Kau pasti tahu apa kesalahanmu. Jadi ceritakan dengan jujur semuanya jika tidak ingin hukumanmu semakin berat.” Ucap Jade pelan namun tegas.

            Dean diam. Bisa saja Jade tidak mempunyai bukti yang dapat menyeretnya ke meja hijau. Bisa jadi ia hanya menggertak. Seolah membaca pikiran Dean, Jade berkata, “Aku mempunyai bukti – bukti kuat yang tidak hanya akan menyebabkanmu dipenjara, tapi juga hukuman mati. Aku memberimu pilihan untuk mengakui semua kesalahanmu karena ada yang mengatakan bahwa kau orang baik. Dan aku ingin membuktikannya.”

            Dean tetap diam. Tetap saja seorang penjahat tidak akan mengatakan kejahatan yang dilakukannya kan? Sepertinya Harry sudah membeberkan semuanya pada Jade, jika dilihat dari ekspresi dan sikapnya. Dean mendengar Jade menghela nafas.

            “Baiklah. Aku bertanya kau menjawab, okay?” tanpa menunggu jawaban Dean, ia melanjutkan. “ Apa kau Dean Perkins? Anak dari Larry dan Suzy Perkins?”

            “Ya.”

            “Apa kau yang membunuh Luke Mcloan di ruang kerjanya pukul 00.30?”

            “Ya.”

            “Apa kau megetahui penyebab pembunuhan pada kedua orang tuamu adalah bentuk balas dendam dari anak orang yang kau bunuh di taman kota enam bulan yang lalu?” Dean merasa hatinya sakit. Secara tidak langsung Jade mengatakan bahwa ialah yang membunuh orang tuanya.

            “Ya.”

            “Apa kau yang membunuh semua orang ini?” tanya Jade menyerahkan dokumen berisikan data diri orang – orang yang telah dibunuh Dean. Dean dengan perasaan muak akan dirinya sendiri melihat dokumen tersebut sekilas.

“Kenapa kau melakukannya?” pertanyaan yang berbeda. Membuat Dean mengerutkan dahinya.

            “Demi uang.” Jawab Dean lamat – lamat.

            “Dilihat dari kondisi ekonomi keluargamu, sebelum orang tuamu meninggal, kau bukan orang yang kekurangan uang.”

            Dean menghela napas. Ia baru sadar alasannya sangat membuat muak dirinya sendiri. “Aku suka berjudi. Dan aku suka saat orang – orang segan padaku karena uang yang kumiliki.”

            “Dean Perkins, terima kasih atas kerja samamu. Kau dijatuhi hukuman penjara seumur hidup mulai detik ini.”

            “Apa… apa aku bisa menitipkan Lily?”

            “Tanpa kau mintapun Lily sudah menjadi tanggung jawabku. Kau tahu? Tepat sehari sebelum kematian orang tuamu, Larry menghubungiku dan dia menitipkan kalian dalam pengawasanku. Larry mengetahui pekerjaanmu, Dean. Larry ingin kau berhenti melakukannya, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menghentikanmu.”

            Tanpa bisa ditahan, bulir – bulir air mata mengalir deras dari kedua mata Dean. “I’m quit.”

sumber gambar: https://pixabay.com/en/silhouette-woman-door-light-shadow-68957/

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan