Perjalanan Memburu Identitas

Oleh Thomas Utomo

Sedari kecil, Sasana sudah memiliki perhatian lebih pada lawan jenis. Bukan karena dorongan seksual atau karena pikiran cabul. Tapi karena Sasana memendam rasa iri pada kaum yang gemar bersolek, suka memakai baju-baju indah yang berlainan model dan corak, dan mengutamakan budi bahasa halus ini.

Terus terang, sejak kecil Sasana merasakan banyak hal salah yang terdapat dalam diri dan lingkungan sekelilingnya. Sejak bayi, dia diharuskan menyandang nama Sasana yang menurutnya sama sekali tidak indah. Terlalu garang, terlalu keras. Namanya itu selalu mengingatkan pada perkelahian dan darah. Seperti tempat orang bertinju (hal. 16).

Sebaliknya, Sasana ingin seperti Melati, adik perempuannya yang memiliki nama indah dan dapat mengenakan pakaian bagus: baju-baju merah jambu dan sepatu-sepatu lucu.

Sejak kecil pula Sasana merasa tidak nyaman atas paksaan orang tuanya untuk belajar bermain piano. Meski dia dapat menguasai komposisi-komposisi klasik dunia dengan mudah, toh dia tetap tidak suka dan selalu tersiksa saat memencet tuts-tuts piano. Sampai suatu ketika saat berusia 12 tahun, Sasana tanpa sengaja menonton sebuah pertunjukan dangdut di kampung belakang kompleks rumahnya. Dia merasakan kenikmatan berbeda saat menonton pertunjukan itu. Seketika musik yang baru dikenalnya itu langsung akrab di telinga, bahkan liriknya dengan mudah dihafal.

Sejak saat itulah Sasana tidak dapat bermain piano lagi, karena yang terus terngiang di benaknya adalah perempuan cantik berbaju gemerlap yang menyanyi dangdut sambil menggoyangkan badan. Dia juga tidak bisa melupakan suara gitar, gendang, seruling; yang semuanya berpadu indah dan membuatnya bergairah. Diam-diam Sasana mengangankan suatu saat kelak dia bisa bernyanyi dan berpenampilan seperti perempuan penyanyi dangdut itu.

[sam id=1 codes=’false’]

Tentu saja orang tua Sasana marah besar menerima kenyataan bahwa anak yang diharapkan jadi pianis profesional justru tidak dapat lagi bermain piano. Sasana kemudian dimasukkan ke dalam sekolah khusus laki-laki.

Di sekolah inilah Sasana kerap diperas dan dianiaya kakak-kakak kelasnya. Setiap hari dia diharuskan menyetorkan sejumlah uang yang semakin lama semakin bertambah banyak. Meski patuh menyetorkan uang, tetap saja Sasana dipukuli; konon agar dia tetap bungkam dan menurut. Pihak sekolah bukan tidak mengetahui kejadian yang tidak hanya dialami Sasana ini. Tetapi mereka memilih bergeming seolah tidak terjadi apa-apa.

“Bagi sekolah ini, keributan, perkelahian, penganiayaan, adalah urusan kecil remaja laki-laki yang bisa diselesaikan mereka sendiri. Aku pun jadi membenci laki-laki. Membenci diriku sendiri yang jadi bagian laki-laki. Jika aku bukan laki-laki, aku tak akan masuk sekolah ini. Jika aku tak masuk sekolah ini, aku tak akan menderita seperti ini.” (hal. 35). Sasana semakin menyesal dilahirkan sebagai laki-laki sekaligus semakin iri pada perempuan yang lembut, indah, dan tak suka kekerasan.

Setelah lulus SMA, Sasana pindah ke luar kota untuk mengenyam bangku kuliah. Di luar kota inilah, dia merasa bebas dari kungkungan orang tua. Dia dapat berbuat apa saja sekehendak hatinya. Termasuk menjadi penyanyi dangdut lewat bantuan Jaka Wani—yang dikenalnya di warung kopi. Atas prakarsa pemuda yang dipanggil Cak Jek itu, Sasana pun mengubah penampilannya dengan rambut panjang, merias muka, mengenakan baju ketat gemerlapan, dan sepatu hak tinggi saat naik panggung pertunjukan musik dangdut. Di atas panggung, tak ada lagi Sasana. Yang ada adalah Sasa, sang biduan jelita bersuara emas. Bersama Cak Jek, Sasa mengamen dari panggung ke panggung, dari satu acara hajatan ke acara hajatan berikutnya, dan dari jalan-jalan utama di pusat kota.

Sampai suatu ketika, Sasa dan Cak Jek terlibat kerusuhan yang mengakibatkan keduanya dijebloskan ke dalam tahanan. Di dalam tahanan inilah, Sasa kembali mengalami kekerasan fisik dan mental. Dia dipaksa melayani nafsu seksual para tentara secara bergiliran.

“Kini dia menarik tubuhku, lalu dengan kasar menarik celana dalamku sampai putus dan lepas begitu saja. Ia dorong tubuhku menghadap dinding. Lalu… aaaaargh! Sakit, sakit. Sakit di hati. Sakit di tubuh. Mereka melakukannya bergiliran. Aku benar-benar sudah merasa bukan manusia lagi.” (hal. 100).

Empat belas hari kemudian, Sasa dibebaskan. Kejadian dalam tahanan selanjutnya tetap membekas di benak, hingga keadaan psikologis Sasa pun terguncang.

Di sisi lain, Cak Jek terus didera rasa bersalah karena setelah dibebaskan dari tahanan, dia tidak dapat menemukan Sasa yang sudah dianggapnya sebagai adik. Alih-alih mencari Sasa, Cak Jek justru berangkat ke Batam untuk bekerja di sebuah pabrik pembuatan televisi.

Pekerjaan sebagai buruh itu tidak membuat Cak Jek bahagia, karena dia merasa bekerja seperti mesin—yang bergerak sesuai apa yang sudah diperintahkan, mengulang saja apa yang sudah dilakukan kemarin dan kemarinnya lagi. Dia bekerja tanpa menggunakan otak lagi.

Tapi apa boleh buat, dia tidak punya pilihan lain lagi. Untuk kembali ke Jawa pun tidak mungkin. Foto dirinya sudah disebar di mana-mana. Polisi dan tentara sudah hafal semua. Sekali saja dia muncul di jalanan, dengan gampang aparat akan menyeretnya lagi ke tahanan.

Pada akhirnya, Cak Jek menganggap itulah nasibnya. Dan untuk sedikit menyenangkan hati, setelah menerima upah di akhir pekan, dia dan teman-temannya pergi mabuk-mabukan dan bermain perempuan di kompleks pelacuran bernama Sintai.

Berawal dari hal itu, Cak Jek kemudian mencoba mengubah nasib dengan menjadi germo dan menjual bir, kondom, dan pil penguat di rumah kontrakannya. Tapi akibat memukul supervisor pabrik yang berlaku sewenang-wenang, Cak Jek terpaksa harus kabur dari Batam karena kaki tangan supervisor pabrik itu memburu dan berniat membunuhnya.

Dengan menumpang kapal, dia sampai di Jakarta. Di ibukota negara itu, Cak Jek menggelandang sebagai pengangguran sampai dia bertemu Habib dan para anggota Laskar. Merekalah yang mengajak Cak Jek bergabung dengan Laskar untuk bekerja membela agama. Mulanya, Cak Jek tidak tahu apa yang dimaksud dengan pekerjaan membela agama, karena setelah berbulan-bulan tinggal di rumah milik Laskar yang dia lakukan hanya makan-minum, tidur, salat berjamaah, dan mendengarkan ceramah Habib yang berapi-api mengulang-ulang kata “lawan”, “berani”, “basmi”, “berantas”. Tapi suatu malam, setelah kedatangan polisi dan tentara—yang awalnya membuat dia ketakutan setengah mati—Cak Jek mengerti apa yang di maksud membela agama. Pekerjaan membela agama hanyalah mendatangi tempat-tempat hiburan malam kemudian menghancurkan semua perabot yang ada di sana sambil meneriakkan, “Allahu akbar!”

Jika itu yang dimaksud pekerjaan membela agama, tentu perkara mudah bagi Cak Jek untuk melakukannya. Apalagi sambil menghancurkan tempat-tempat hiburan malam, anggota Laskar dibolehkan Habib untuk menjarah barang-barang yang menarik hati, termasuk berbotol-botol bir yang dapat mereka tenggak usai pekerjaan membela agama itu. (hal. 256).

[sam id=2 codes=’false’]

Mulanya gampang bagi Cak Jek melakoni pekerjaan yang dikatakan berpahala itu. Tapi lambat laun dia merasa itu bukanlah pekerjaan yang pantas karena merugikan orang lain. Kegelisahan itu semakin merunyam setelah Cak Jek melihat teman-teman Laskar mempermainkan bencong-bencong yang mereka razia; untuk melayani nafsu birahi mereka. Tapi anggota Laskar berkilah, “Melakukannya dengan bencong bukan zina, to? Lagipula kami melakukannya hanya agar mereka kapok dan kembali ke jalan yang benar.” (hal. 298). Pada akhirnya, Cak Jek betul-betul gamang saat turut menyaksikan para anggota Laskar menebasi tubuh para pengikut aliran sesat sampai isi tubuhnya terburai-burai.

Lewat novel yang masuk dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award 2013 ini, sang pengarang menghadirkan pergulatan manusia dalam memburu identitas, mencari makna kebebasan, serta usaha melepaskan diri dari segala kungkungan. Lebih dari itu, novel ini sangat layak dibaca karena kandungan isinya.

Ledug, 2 November 2013

identitasJudul: Pasung Jiwa
Pengarang: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Mei 2013
Tebal: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-9557-3-5
Peresensi: Thomas Utomo

Thomas Utomo bekerja sebagai penulis serabutan di berbagai media massa, seperti Koran Jakarta, Story, Annida, Suara Muhammadiyah, Potret, Radar Banyumas, Satelit Post, dan sebagainya. Dapat dihubungi lewat telepon 085747268227 atau e-mail totokutomo@ymail.com.

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan