stop!-kekerasan-seksual

Stop Kekerasan Seksual pada Anak

            Memiliki buah hati dan memastikan pertumbuhan dan perkembangannya maksimal adalah kebahagiaan setiap orangtua. Begitu pula sebaliknya, ketika buah hatinya terluka, baik secara fisik maupun jiwanya, maka orangtua pun merasakan kesedihan yang tak terbayangkan. Itu pula yang kini dirasakan oleh 52 orangtua di Sragen. Mereka harus merasakan kepedihan yang dirasakan anaknya. Diantara 52 korban kekerasan seksual di kota Sragen itu, adalah balita.

            Betapa miris dan sedih ketika kita mendengar kabar ini. Kekerasan seksual di negeri ini seolah dianggap biasa. Kalau kita cermati lebih jauh, apa sebab anak-anak lebih rentan menjadi korban kekerasan seksual?. Dari pengakuan para pelaku, rata-rata mereka menganggap anak-anak mudah ditipu dan diperdaya. Baik dengan motif dibelikan uang jajan, diberikan uang saku, sampai dengan akan diajak piknik. Modus penipuan semacam ini kerap dilakukan oleh para predator seksual.

            Sebagai anak-anak yang belum memiliki kesadaran penuh akan tubuhnya, tentu saja diajak berkencan, dan bermain dengan orang yang lebih dewasa, dianggap sebagai hal biasa. Tetapi inilah yang justru luput dari pengamatan kita, kita justru merasa tenang, santai, dan tak menganggap ada masalah ketika anak kita dibawa oleh tetangga, atau kerabat kita. Saat kepercayaan sudah diberikan, saat itulah kita justru menyesali, ternyata anak kita sudah menjadi korban.

Keluarga dan Seksualitas

            Agak rumit memang ketika membincangkan persoalan keluarga dan seksualitas. Pada satu sisi, kita sudah terbiasa dengan kisah yang beraroma seksualitas semenjak dulu. Di sisi lain, kita masih belum percaya sepenuhnya akan kemampuan anak saat mendapati pendidikan seksual. Kita merasa takut, curiga, sampai phobia ketika anak-anak kita mendapatkan pendidikan seksual. Padahal kalau kita melihat secara jeli, pendidikan seksual, ternyata, memiliki efektifitas dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak.

            Bila melihat realitas di negeri kita, fenomena kekerasan seksual ini benar-benar membuat kita mengelus dada. Menurut data dari UNICEF, sudah ada sekitar 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seksual, bahkan setiap tahunnya ada 100.000 anak diperdagangkan. Meski regulasi dari negara sudah disahkan, tetapi mengapa masih saja muncul kasus eksploitasi anak dan kekerasan seksual pada anak?.

            Dalam keluarga Jawa, apalagi di desa-desa, urusan seksualitas tentu bukan lagi hal yang tabu. Misalnya ketika penyebutan seorang anak laki-laki dengan sebutan tole, karena ada kontole (penis), atau sebutan wok untuk perempuan karena memiliki gawok (vagina). Selain itu, di desa-desa kita, sebelum masuknya teknologi, pergaulan antara anak perempuan dengan anak laki-laki sudah seperti biasa saja. Tidak ada rasa yang berlebih sampai mereka cukup usia mereka. Di Jawa, urusan seksualitas dianggap menjadi masalah orangtua. Karena itulah, ketika seorang anak sudah cukup usia kawin, mereka lebih dekat dengan perjodohan.

            Tetapi perubahan itu nampak sekali di era sekarang. Anak-anak lebih cepat mengetahui persoalan seksualitas dari teknologi. Baik dari televisi, bacaan, hingga dari ponsel genggam mereka. Rasanya mengajari anak-anak tentang apa itu seksualitas sudah tak setabu dulu. Yang penting justru tujuan kita agar anak-anak kita mengerti dan memahami kembali nilai-nilai, adat-istiadat sampai dengan etika pergaulan sesama lawan jenis. Bukan seperti sekarang ini, mereka lebih dekat dengan kebebasan semata tanpa memandang etika. Akibatnya jelas, korban kekerasan seksualitas dalam dunia pendidikan sudah sering kita dengar.

            Teknologi juga merambah pada kaum dewasa dan orangtua. Orangtua kini pun tak mau ketinggalan zaman. Mereka juga tak luput dari serangan arus informasi dan budaya kekerasan yang dibawa oleh teknologi dari telepon genggam mereka. Kini, iklan yang berbau seksuil mulai dari gambar, sampai dengan link porno begitu deras. Di media sosial saja hal itu bisa dengan mudah kita jumpai tanpa kita minta. Akibatnya, tak ada filter, tak ada daya saring, selain daripada diri sendiri.

            Sementara hidup di era sekarang, makin krisis kita dengan hal-hal yang berbau ruhaniah, yang berbau nilai-nilai kesopanan dan adab. Mubaligh, ustadz mulai tak dianggap lagi petuahnya. Orangtua dan orang alim sudah tak lagi didengar nasehatnya. Maka kebudayaan kita pun makin larut dalam arus konsumsi dan liberalisasi. Kita pun diserbu dan digempur dengan mode dan pakaian yang tak layak lagi untuk anak. Mode dan fashion benar-benar menggempur dan menggerus istilah anak itu sendiri. Meminjam kata Neil Postman di bukunya Selamatkan Anak-Anak, kini pakaian anak-anak tak lagi bisa ditemukan di era sekarang.

            Banyak anak-anak kita begitu cepat dewasa baik dari sisi tubuh sampai dengan mode dan pakaian mereka. Belum lagi gaya hidup mereka. Tentu saja para kaum tua yang keranjingan dan tak lagi mengindahkan nilai-nilai dan keadaban begitu terpikat dengan mereka. Karena tak bisa mengikuti mereka dan menyesuaikan dengan keinginan mereka para anak-anak, maka mereka menempuh jalan pintas dengan kekerasan seksual.

            Dalam keluarga kita sendiri pun demikian halnya. Hubungan yang semakin renggang, semakin susahnya memantau anak, mengakibatkan hubungan keluarga menjadi tak lagi seperti dulu. Diperparah dengan kemiskinan dan ketiadaan moralitas dan pendidikan. Maka makin banyak anak memperkosa ibu, bapak memperkosa anak. Ini adalah fenomena yang menjadi ciri bahwa keadaban mulai ditinggalkan.

            Kita pun jadi bingung, dan tak bisa menjawab fenomena ini, meski Perpu Kebiri sudah ditetapkan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen yang mengeluhkan mengapa kekerasan seksual justru semakin marak pada balita (Joglosemar, 1/11/2016).

            Bila dibandingkan Wonogiri, saya rasa secara geografis tak jauh berbeda. Desa kini tak bisa kita kesampingkan dalam urusan kekerasan seksual. Pada kenyataannya kekerasan seksual bisa melanda daerah desa maupun kota. Teknologi memang tak bisa dikontrol selain oleh pribadi masing-masing. Tetapi jiwa, pikiran dan nurani kita masih bisa kita perbaiki bersama-sama. Saya rasa inilah yang bisa kita lakukan untuk mencegah setidaknya pikiran kita dari kekerasan seksual.

            Butuh peran dari para ulama, takmir masjid, tokoh agama, masyarakat dan kita semua untuk mencegah pikiran cabul kita. Tentu yang paling utama kita kontrol adalah pikiran kita sendiri, jangan sampai ada pikiran membenarkan terhadap kasus kekerasan seksual kepada anak-anak dengan dalih anak-anak adalah makhluk yang paling mudah kita perdaya.

 

*) tuan rumah Pondok Filsafat Solo, Guru MIM PK Kartasura

, , , , , , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan