sumber gambar dari inspireasy.com

Mengedit Hidup

Berita Buku – Kehidupan mungkin adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diedit. Tidak seperti foto yang bisa diedit berkali-kali, kehidupan adalah sesuatu yang berjalan begitu saja, tanpa bisa dicerahkan, dibuat tirus, atau diberi efek menggunakan beragam fitur editing. Di samping itu, persoalan dalam hidup, tidak bisa diedit, di-undo, maupun dihapus. Hal ini juga berarti bahwa satu hal yang terjadi dalam kehidupan seseorang, tidak bisa di-repeat maupun di-forward layaknya sebuah video di Youtube yang bisa ditonton berkali-kali.

Meski begitu, sebagian besar orang sebenarnya mempunyai pikiran yang sama: mereka ingin hidup mereka bisa diedit. Ingin mempunyai pekerjaan yang lebih layak, misalnya. Atau mungkin ingin tinggal di rumah yang lebih bagus dengan jendela besar menghadap laut. Atau mungkin, hanya ingin mengubah keputusan yang terlanjur diambil. Bagaimana dengan kamu?

Sebenarnya, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Pikirkan hal ini: meskipun kehidupanmu tidak bisa diubah, ingatlah bahwa pelaku utama dalam kehidupan ini tetaplah kamu. Jadi, sebenarnya, terserah kamu sendiri untuk membawa arah kehidupanmu. Layaknya sebuah cerita, kamu berhak membawa kehidupanmu ini menuju happy ending, ataupun sad ending.

Menurut Thimothy D. Wilson, seorang profesor psikologi dari University of Virginia, hidup ini bisa diedit dengan menulis cerita tentang kita. Dalam bukunya yang berjudul Redirect: Changing the Stories We Live By, dia menjabarkan beberapa cara untuk menghadapi permasalahan dalam hidup. Salah satunya yakni dengan menulis.

Menulis untuk Mengedit Hidup

Apakah menulis benar-benar bisa mengedit hidup? Situs-situs psikologi yang saya baca mengatakan bahwa menulis permasalahan dalam selembar kertas, kemudian disobek atau disimpan menjadi sebentuk diary, diklaim bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Atau, paling tidak bisa melampiaskan perasaan dan mengurangi rasa stres.

Namun, hal itu rupanya tidak terlalu efektif untuk mengatasi permasalahan dalam hidup. Perasaan bahagia juga tidak bisa timbul begitu saja setelah menulis masalah-masalah dalam selembar kertas. Sebaliknya, Profesor Wilson menyatakan bahwa mengedit cerita kehidupan tentang diri sendiri lebih tepat untuk mengatasi masalah hidup. Di samping itu, mengedit cerita kehidupan tentang diri sendiri membuat kita mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menjalani hidup. Hal ini juga berarti bahwa kita dapat menemukan meaning; arti dari kehidupan yang sebenarnya.

Mengedit cerita, dalam hal ini bukan berarti berkhayal bahwa kita sebenarnya adalah seorang artis terkenal yang mempunyai rumah mewah dan banyak mobil. Menulis dengan cara seperti itu justru hanyalah akan menjadi fiksi yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Yang dimaksudkan oleh Profesor Wilson yakni: tulislah hal-hal yang terjadi dalam kehidupanmu, dan tulislah dalam sudut pkamungmu yang berbeda. Di samping itu, Profesor Wilson juga menyatakan bahwa mengubah sudut pkamung dapat mengubah segalanya, meskipun itu hanyalah mengubah sebagian kecil narasi dari kehidupan kita. Menurutnya, semakin seseorang merasa dirinya bisa, maka kemungkinan itu semakin besar.

Elizabeth Tenety, salah seorang pembacanya sudah melakukan sarannya. Dia adalah seorang wanita karir yang sibuk dengan anak-anak yang masih kecil-kecil. Kemudian dalam tulisannya dia membayangkan bahwa dia bukanlah seorang ibu biasa yang bekerja, melainkan seorang superhero, yang sekaligus menjadi seorang ibu yang bekerja. Dia berkata pada dirinya sendiri bahwa tantangan-tantangan itu sebenarnya adalah hal yang bisa membantunya untuk menjadi orang yang dia inginkan. Dia menemukan hal-hal yang mengejutkan setelah itu; kehidupannya berubah dan dia bisa mengatur waktu bekerja dan mengurus anak.

Tips Mengedit Hidup dengan Menulis

Berikut ini beberapa tips yang bisa kamu ikuti untuk mengedit hidupmu dengan menulis. Pertama, menulislah jika perlu saja. Jangan membuatnya menjadi seperti beban atau target yang harus segera diselesaikan. Santai saja. Kamu boleh menulis di komputer atau menggunakan pensil; bebas. Jika kamu sudah merasa lebih baik dan bisa tidur dengan nyenyak, maka kamu tidak perlu menulis lagi. Kamu dapat menulis lagi jika ada masalah ataupun hal-hal yang menurutmu tidak bisa kamu hadapi.

Kedua, bebaskan dirimu ketika menulis agar perasaan kamu “keluar”. Jangan terlalu kaku dan santai saja. Bayangkan saja kamu adalah seorang pengarang dengan tokoh utama adalah diri kamu sendiri. Kamu bisa memulainya dengan menulis narasi yang positif, misalnya: “Aku adalah seorang pekerja kantoran yang hebat dan bekerja di perusahaan yang hebat” dan bukan menulis “Aku seorang pekerja kantoran biasa yang sering kena macet di jalan bla bla bla”. Selanjutnya, tulis solusi dari masalah yang menurutmu tidak bisa kamu hadapi. Hindari penggunaan kata “tidak”. Contohnya: “Aku bisa mengurus anak dengan baik. Ketika mereka tidur, aku memanfaatkan waktu dengan menyelesaikan pekerjaanku.” Keluarkan ide-ide kreatif yang ada pada dirimu dan tuangkan dalam tulisan tanpa rasa khawatir apakah hal itu akan terjadi atau tidak.

Ketiga, kamu juga bisa sharing dengan orang lain yang mempunyai permasalahan yang sama. Kamu bisa mencontohnya bagaimana caranya menyelesaikan masalah dalam hidup. Meskipun setiap orang tentunya mempunyai cara masing-masing dalam menyelesaikan masalah, apalagi membuat sebuah cerita mengenai diri sendiri, kamu tidak harus mencontohnya secara persis. Kamu tetap bisa terinspirasi darinya.

Sebenarnya, ketika mengedit hidupmu dengan menulis, yang terpenting bukanlah ceritanya, namun bagaimana cerita itu bisa membuatmu menjadi berpikir positif dan membuatmu menatap kehidupanmu menggunakan sudut pandang yang berbeda. Di samping itu, jangan hanya mengandalkan tulisan. Ingatlah bahwa nasib hanya dapat diubah atas usahamu sendiri. Jika kamu berhasil melakukannya, maka kamu akan menemukan arti sebenarnya dari kehidupanmu. Selamat mencoba.

Sumber:

washingtonpost

, , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan