totto-chan-novel-jepang

Totto-Chan: Inspirasi dari Jendela Pribadi

Pram pernah berkata, karya-karyanya adalah anak-anak rohaninya. Dia selalu menolak untuk menjelaskan keterkaitan langsung hubungan antara dirinya secara pribadi dengan karyanya. Baginya karya-karya tersebut memiliki sejarah kehidupan masing-masing. Ada yang berumur panjang, dan ada yang mati muda. Pram tak pernah khawatir tentang nasib keberlangsungan hidup karya-karyanya. Namun, tak dapat dipungkiri  anak-anak rohaninya adalah representasi pikiran dan batinnya sendiri. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri secara pribadi akan mempengaruhi hasil karya-karyannya. Yang jelas, apa yang dimaksud Pram adalah ketika akhirnya proses kelahiran tersebut telah terselesaikan, anak-anak rohani itu harus mandiri dan menentukan masa depannya sendiri.

Bicara tentang keterkaitan faktor internal penulis dengan karyanya merupakan sesuatu yang menarik. Banyak penulis yang secara dominan menuangkan faktor kebatinan dirinya sendiri terhadap karya yang dilahirkan. Sebut saja Sarinah yang mampu menggugah pembaca lewat pandangan Soekarno secara pribadi tentang posisi perempuan. Sudut pandang yang diambil Soekarno dalam Sarinah nampak begitu personal dan mampu mendekatkan gagasan yang begitu pribadi dengan para pembaca. Surat-surat Kartini juga dapat kita tilik sebagai contoh kehebatan pengaruh personal dalam sebuah tulisan. Hal yang begitu pribadi ternyata mampu menciptakan pengaruh luar biasa ketika dituangkan dalam tulisan, sehingga orang lain bisa ikut memahami apa yang ada dalam benak penulisnya. Penting untuk bisa memahami bagaimana pengaruh dari sebuah tulisan yang mampu mempengaruhi realitas kehidupan. Khususnya tulisan yang dalam proses pembuatan tersebut didominasi oleh faktor kepersonalan si penulis.

Jepang adalah salah satu contoh negara yang pernah merasakan dampak positif dari hebatnya pengaruh dari sebuah karya tulis. Dewasa ini Jepang menjelma menjadi negara yang inspiratif dalam kemajuan suatu bangsa. Keberhasilan Jepang dalam pembangunan dan pembentukan karakter bangsanya cukup mengesankan. Hal ini membuat kita bertanya-tanya bagaimana Jepang meraih hal tersebut. Mulai dari historis sampai teknis, banyak bangsa lain mempelajarinya demi bisa mengikuti keberhasilan Jepang. Khususnya dalam bidang pendidikan, yang merupakan salah satu pondasi serta penopang kemajuan sebuah negara. Pendidikan di Jepang nyatanya menjadi salah satu yang terbaik di dunia, serta sekaligus dapat menjelaskan bagaimana Jepang mencapai keberhasilan. Pendidikan di Jepang didesain sebagai kuncian dalam membentuk karakter dan kualitas sumber daya manusiannya. Efisiensi pertumbuhan pembangunan tentunya dapat diraih dengan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan tidak mengesampingkan faktor lain, setidaknya keberhasilan sektor pendidikan bisa sedikit menjelaskan keberhasilan Jepang sebagai negara yang maju.

Pada tahun 1981 sebuah novel autobiografi memecahkan rekor penjualan untuk ukuran sebuah buku di Jepang. Sebuah novel sastra anak berjudul “Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela” mampu terjual sebanyak 5 juta salinan dalam waktu kurang dari satu tahun. Adalah Tetsuko Kuroyanagi seorang aktris Jepang yang populer sebagai pembawa acara talkshow “Tetsuko Room” berhasil melahirkan Totto-Chan sebagai karya yang berperan penting dalam perkembangan dunia pendidikan Jepang. Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia penyiaran, Kuroyanagi memiliki popularitas yang luas di mata masyarakat Jepang. Hal ini sedikit-banyak memberi pengaruh pada lahirnya karya Totto-Chan. Ruang lingkupnya yang banyak bersinggungan dengan tokoh masyarakat Jepang juga mendorong terealisasinya karya tersebut.

Pada awalnya Kuroyanagi bukanlah seorang penulis, namun banyak pihak yang mendorong dirinya untuk menuliskan pengalaman emosional masa kanak-kanaknya untuk di abadikan ke dalam tulisan. Hal ini sekaligus menjadi pelunasan janjinya sendiri dalam rangka memberi penghormatan kepada sosok inspiratif yang berjasa pada masa kanak-kanaknya. Sosok tersebut adalah Sosaku Kobayashi yang merupakan kepala sekolah sekaligus pendiri sekolah dasar Tomoe, di mana Kuroyanagi mengenyam pendidikan sekolah dasar.

Totto-Chan berisi cerita tentang pengalaman Kuroyanagi bersekolah di sekolah dasar  Tomoe. Aroma nostalgia terasa kuat disajikan lewat bahasa yang mudah dimengerti bahkan untuk ukuran pembaca anak. Hal ini menjadikan novel autobiografi masa kecilnya ini mudah dipahami pada ruang lingkup pembaca yang luas. Sebagai tokoh utama, Kuroyanagi banyak memamerkan keberuntungannya bisa mengenyam pendidikan di Tomoe sekaligus dapat mengenal sosok Tuan Kobayashi.  Kuroyanagi kecil dalam novel tersebut memiliki nama yang sama dengan judul novelnya, adalah seorang anak yang dikeluarkan dari salah satu sekolah negeri dan akhirnya harus bersekolah di Tomoe. Totto-Chan, dianggap gadis yang terlalu hiperaktif dan membuat guru di sekolah tidak mampu mengatasi tingkah laku Totto-Chan yang menurut si guru sebagai kenakalan. Tomoe sendiri adalah sekolah yang tidak memiliki legalitas dari pemerintah Jepang. Tuan Kobayashi sengaja mendirikan sekolah ini demi cita-citanya untuk mengembangkan dan membuat model pendidikan yang mampu memfasilitasi anak usia dini berkembang secara alamiah tanpa kehilangan karakter kepribadian yang positif. Sosok inspiratif ini diceritakan lewat sudut pandang Totto-Chan yang sekaligus menjadi sudut pandang personal si penulis sendiri dengan menekankan kemampuan bernostalgia secara emosional yang mampu menggugah pembaca. Tulisannya mampu menyuguhkan ide-ide dan gagasan positif dalam membangun pandangan tentang cita-cita sebuah pendidikan yang baik. Sebetulnya Kuroyanagi hanya menuliskan kebahagiaan dengan keberuntungannya melewati pengalaman bersekolah semasa itu. Hal itu mampu merepresentasikan kebijaksanaan Tuan Kobayashi dalam menjalankan bentuk pendidikan yang dicita-citakan. Lewat kepolosan Totto-Chan sebagai gadis cilik, cerita yang disuguhkan nyatanya mampu membuka mata pembaca terhadap niatan baik Tuan Kobayashi pada dunia pendidikan yang dijalankan lewat didirikannya Tomoe.

Penerapan model belajar-mengajar di Tomoe yang belum pernah ada di sekolah formal pada waktu itu menjadi hal yang paling sering muncul pada novel tersebut. Misalnya, mata pelajaran di Tomoe dijalankan sesuai keinginan para siswanya. Murid Tomoe memiliki kebebasan menentukan sendiri apa yang ingin dipelajari di setiap jam belajar. Tidak ada jam khusus untuk mata pelajaran tertentu. Mereka yang ingin belajar berhitung dan mereka yang ingin menggambar boleh berlangsung pada jam yang sama dengan tetap dalam pengawasan wali kelas. Guru yang sedang bertugas hanya mengontrol dan menjelaskan kepada masing-masing murid saat mengalami kesulitan memahami proses belajar. Murid dibiarkan dengan fokus masing-masing, dan guru hanya memfasilitasi ketika murid bertanya jika mereka tidak mengerti. Semua hal itu dikonsentrasikan pada pendampingan yang tepat dengan tujuan mendahulukan proses belajar yang menyenangkan dan berimbang serta hasil proses belajar yang maksimal. Proses belajar harus menyenangkan demi mengapresiasi semangat belajar murid. Proses belajar yang paling baik adalah yang tidak menekankan keterpaksaan pada siswa, dan hal ini benar-benar diterapkan di Tomoe oleh Tuan Kobayashi.

Seluruh penggambaran ide sampai proses yang dijalankan dalam pendidikan di Tomoe disampaikan dengan sangat inspiratif lewat pendekatan pandangan pribadi Kuroyanagi. Bukan saja pemilihan cerita yang disajikan, gaya bahasanya pun disampaikan lewat nostalgia pribadi Kuroyanagi dalam gambaran kepolosan dirinya sebagai Totto-Chan. Kuroyanagi hanya menekankan pada penyampaian gagasan betapa menyenangkannya bisa melewati proses belajar di Tomoe.

Yang membuat karya ini begitu inspiratif adalah kenyataan bahwa sebelumnya Totto-Chan mengalami ketidakberuntungan karena dianggap tidak mampu mengikuti proses belajar di sekolah umum, dan kehadiran Tomoe adalah berkah untuknya. Secara tidak langsung dia berkesimpulan jika dia tidak bersekolah di Tomoe, maka dia tidak akan berhasil menjadi sosok yang sekarang. Mungkin dia bukanlah orang yang akhirnya bisa meraih kesuksesan jika tidak bersekolah di Tomoe. Hal ini dihadirkan oleh Kuroyanagi sebagi garansi terhadap apa yang dipersuasikan kepada pembaca, bahwa kehadiran model pendidikan ala Tuan Kobayashi akan mampu memberi efek positif jika benar-benar dijalankan dengan maksimal.

Selain itu novel ini banyak memunculkan peran orang-orang terdekat Kuroyanagi. Bagaimana kebaikan yang diterima dari tokoh-tokoh yang ia munculkan dalam novelnya juga ikut berjasa. Tokoh ibunya sendiri digambarkan dengan begitu bijaksana dan sangat perhatian. Sosok keibuan yang dinarasikan oleh Kuroyanagi berperan dalam mendukung tokoh Totto-Chan menyesuaikan diri dengan model pendidikan yang di jalankan di Tomoe. Secara visi sampai teknis, ibunya sangat beriringan dengan Tomoe. Hal itu membuat Totto-Chan merasakan orang-orang terdekatnya memberi dorongan positif pada seluruh proses belajarnya di Tomoe serta memberi pandangan pada para pembaca bahwa cita-cita pendidikan juga melibatkan semua subjek yang terkait dengan si anak.

Singkatnya, secara pribadi Kuroyanagi berusaha menggunakan kepersonalannya dalam tulisan untuk membagi inspirasi pada pembaca terkait tujuan dan proses yang harus ada pada setiap kegiatan dalam dunia pendidikan. Pada akhirnya novel ini bisa sukses dibaca banyak orang dan tak hanya berhenti di situ, novel Totto-Chan juga jadi acuan oleh pemerintah Jepang dalam mendesain model pendidikan di sana. Banyak sekali konten-konten dalam novel tersebut yang diadopsi oleh pemerintah untuk meletakkan dasar-dasar model pembelajaran dalam sekolah. Khususnya dalam pendidikan dini, novel ini menjadi landasan semua pihak yang punya konsen tentang pendidikan. Bahkan Totto-Chan menjadi bacaan wajib bagi orang tua, guru, dan semua subjek yang terkait pada keberhasilan pendidikan sekolah dasar.

Dengan karya yang luar biasa ini, Tetsuko Kuroyanagi pernah menerima Japanese Culture Broadcasting Award yang merupakan kehormatan tertinggi dipertelevisian Jepang. Sosoknya juga berhasil menjadi simbol kepedulian pendidikan anak. Pada tahun 2000 dia menerima Global Leadership Award untuk anak oleh UNICEF karena perjuangannya dalam kosen ini. Novel Karya Totto-Channya dianggap karya tulis yang paling berpengaruh dalam kesuksesan grand desain pendidikan di Jepang. Novel ini juga mengantarkan dirinya pada kancah internasional dengan menjadikannya sebagai salah tokoh wanita Jepang yang paling berpengaruh di dunia. Totto-Chan pada tahun 1984 diterjemahkan kebahasa inggris oleh Dorothy Britton dan diterbitkan di Amerika. Selanjutnya karya ini diterjemahkan kepuluhan bahasa asing lainnya.

Mungkin Kuroyanagi secara pribadi tidak menyangka bahwa akhirnya dia benar-benar bisa memberikan satu karya yang menginspirasi seluruh Jepang bahkan sampai ke tingkat internasional. Ternyata tulisannya yang terasa begitu personal mampu memberikan efek positif bagi realitas kehidupan dalam  dalam skala besar. Ini menjadi satu lagi bukti bahwa hal yang begitu pribadi ternyata mampu membawa satu perubahan yang luar biasa. Kehadiran karya-karya sejenis ini nyatanya sangat dibutuhkan di kehidupan kita, semakin banyak maka akan semakin baik, sekaligus menjadi inspirasi bagi mereka yang menulis untuk ikut berperan mewarnai dunia literasi.

Referensi:

Kuroyanagi, Tetsuko, 2007, Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, Gramedia Pustaka Utama.

, , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan