Usep-Romli-HM

Usep Romli HM “Ingin Jadi Penulis Tak Gemar Membaca, Berkhayal itu teh Namanya”

Bukunya yang berjudul “Zionis Israel di Balik Agresi AS ke Irak”,  mendapat respon luar biasa dari pembaca. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Muzahid, Bandung, tahun 2003 ini, mengalami belasan kali cetak ulang. Konon, buku ini pun menjadi bahan bacaan pengayaan di jurusan  Hubungan Internasional di sejumlah perguruan tinggi.

Selain itu, meski  tak sesukses buku di atas, buku yang lebih dulu  ditulisnya berupa kumpulan humor sufi, “Percikan Hikmah”, juga mendapat  apresiasi sangat baik. Buku yang terbit tahun 1999 ini mengalami lima kali cetak ulang.

Itulah H. Usep Romli HM, pengarang, budayawan dan wartawan yang namanya  sangat populer di Jawa Barat. Dalam usianya yang menuju genap 70 tahun (lahir pada 16 April 1949), lelaki kelahiran Limbangan Garut ini, kini tetap  berkarya.

Tahun 2017 lalu, Kang Haji Usep Romli, begitu ia dipanggil, melahirkan buku berjudul “Profil Tokoh-tokoh Garut, Mereka yang Mengharumkan Garut”. Sesuai judul, isinya adalah biografi puluhan tokoh Garut yang meng-Indonesia bahkan mendunia. Orang yang diprofilkan berasal dari semua kalangan, mulai birokrat, politisi hingga olahragawan.

Begitu buku ini selesai, Pemkab Garut melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, langsung membelinya. Kini buku itu beredar di dinas instansi lingkungan Pemerintah Kabupaten Garut.

Sekarang, di tahun 2018, segera terbit pula novelnya yang berbahasa Sunda, judulnya “Ajengan dan Pilkada (Ulama dan Pilkada). Buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbitan di Jakarta ini, kini dalam proses cetak dan sebentar lagi beredar di pasaran.

Nah belum lagi buku itu muncul, Kang Haji Usep Romli kini sedang fokus menyusun buku tentang sejarah pesantren di Kabupaten Garut. Menurutnya, pesantren di Garut  jumlahnya ratusan. Yang menarik bagi Usep Romli,  para ulama pendiri pesantren tersebut sebagian besar berasal dari garis keturunan yang sama. Oleh karena itu, para ulama pendiri  dan pengasuh pesantren di Garut, satu sama lain masih bersaudara.

Kedua, beberapa pesantren di Garut pun menjadi tempat penggodokan akhir para santri di Jawa Barat.

“Kalau di perguruan tinggi, sejumlah pesantren di Garut merupakan pasca sarjananya para santri,” katanya saat ditemui di rumahnya di Kiaralawang, Desa Majasari, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, awal Juli 2018 lalu.

Selain menulis buku, Usep Romli pun masih sempat menulis untuk sejumlah media cetak. Tulisan-tulisannya sering muncul di Harian Pikiran Rakyat, Republika, Tribun Jabar dan yang lainnya. Ketika penulis bertandang ke rumahnya, Kang Haji baru saja membeli koran Pikiran Rakyat sebab pada hari itu ada tulisannya satu halaman penuh di koran tersebut.

“Menulis itu kewajiban bagi Akang mah… sebab kalau tidak menulis Akang  tak bisa membeli beras,” katanya sambil tertawa.

Ungkapan Usep Romli tentu saja hanya joke. Usep Romli penulis hebat dan produktif. Dari kepiawaiannya menulis ia “menang banyak”. Rumahnya yang terletak tepat di pinggir jalan Desa Majasari, boleh disebut paling mentereng dan paling asri dari rumah-rumah yang ada kampung itu. Halamannya pun luas dengan beberapa tanaman hias yang sangat terawat. Sebuah Avanza hitam yang masih mengkilat pun terpakir di garasinya.

Selain di Kiaralawang, Usep Romli pun memiliki rumah di Maja, sekitar 6 km dari Kiaralawang. Belum lagi aset lainnya seperti sawah dan kebun. Undang (alm), adik Usep Romli yang juga rekan penulis, pernah bercerita,  semua aset Usep Romli yang ada sekarang didapatkannya dari menulis.

Ada lagi yang menjadi sumber pendapatan Usep Romli. Ia adalah wartawan Pikiran Rakyat dan pensiun tahun 2004. Dengan uang pesangonnya dari koran terbesar di Jawa Barat itu, sebenarnya Usep Romli bisa menikmati hari tuanya hanya dengan duduk santai tanpa melakukan apa pun.

Jadi jika ia mengatakan bahwa menulis untuk sekedar beras, jelas itu hanya banyolan.

 *

Dari curriculum vitae-nya di buku “Profil Tokoh-tokoh Garut, Mereka  yang Mengharumkan Garut”, diketahui Usep Romli telah menghasilkan 57 buku berbahasa Sunda dan Indonesia. Buku-buku tersebut mencakup buku fiksi, berupa kumpulan cerpen atau novel, dan non fiksi, seperti laporan atau telaah. Nah, jika novel barunya “Ajengan jeung Pilkada” beredar, maka buku yang dihasilkannya bertambah satu, jadi 58 buku.

Usep Romli sempat menyabet sejumlah penghargaan, di antaranya Hadiah “Rancage 2010” tahun 2010 bidang sastra untuk buku kumpulan carpon Sunda “Sanggeus Umur Tunggang Gunung”. Tahun 2011 ia menyabet “Hadiah Rancage 2011” untuk bidang jasa terhadap bahasa dan sastra Sunda.  Kemudian tahun 2012, ia mendapatkan Anugerah Budaya Gubernur Jawa Barat. Dan tahun 2014, Usep Romli mendapat Hadiah Asrul Sani 2014 dari NU-Oline PBNU untuk bidang kesetiaan berkarya.

Kini di sela-sela kegiatannya menulis, Kang Usep Romli aktif menjadi mubaligh. Ia berceramah di berbagai tempat di Garut dan Bandung. Ceramahnya yang diselingi humor segar, ditambah lagi dengan referensinya yang banyak, membuat masyarakat menyukainya. Selain berceramah ada pula kegiatan lainnya, yakni menjadi pembimbing ibadah haji untuk beberapa biro haji dan umroh, baik Bandung maupun Jakarta.

Berceramah tentu saja bukan hal ujug-ujug bagi Usep Romli seperti beberapa selebriti Indonesia. Usep Romli dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keagamaan yang taat. Ia pun sempat menimba ilmu di sejumlah pesantren di Garut. Oleha karena itu, ia memang memiliki dasar untuk menjadi ulama.

Karya-karyanya pun  banyak yang berseting pesantren. Di antaranya, Dulag Nalaktak  (humor pesantren), Bentang Pasantren (novel), Ceurik Santri (kumpulan cerpen),  Jiad Ajengan (kumpulan cerpen), dan Percikan Hikmah (kumpulan anekdot sufi).

Menurutnya, ide untuk menulis selalu ada. Segala yang dibaca, dilihat, didengar dan dirasakan bisa dijadikan ide untuk membuat tulisan, baik carpon, essay, atau bahkan buku.

Usep Romli juga seorang penulis yang plastis. Dalam situasi dan kondisi  apa pun, ia bisa menulis. Artinya, ia bukan pengarang yang membutuhkan situasi tertentu untuk menghasilkan sebuah karya. Bahkan ia sering menyelesaikan tulisan untuk sebuah koran atau majalah, saat berada di mobil di dalam perjalanan.

*

Dulu, usep Romli seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jebolan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Garut tahun 1967 ini, diangkat menjadi guru di sebuah SD di wilayah Kadungora, Kabupaten Garut. Ia pun sempat kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Arab di IKIP Bandung serta Sastra Arab di IAIN Sunan Gunung Jati Bandung.

Tahun 1983, ia diangkat menjadi Kepala Seksi di Dinas P & K Provinsi Jawa Barat. Namun kegemarannya pada menulis dan hunting berita ke berbagai daerah, membuat ia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai PNS. Bahkan ia keluar tanpa pensiun dan memilih menjadi wartawan di Pikiran Rakyat.

Usep Romli menyatakan sangat bersyukur bekerja sebagai wartawan. Dengan pekerjaan itu ia bisa melanglangbuana ke berbagai negara, di antaranya ke Irak, Iran, Yerusalem, Bosnia dan negara-negara di lingkungan Asean.

“Bekerja menjadi wartawan menjadi berkah bagi Akang mah, di antaranya berkesempatan melanglangbuana ke berbagai negara,” tuturnya.

Puncak kariernya di bidang kewartawanan adalah menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Mingguan Hikmah. Tabloid di bawah Grup Pikiran Rakyat ini berisi tentang berita dan materi keagamaan (Islam). Sayang, di tengah jaya-jayanya dengan oplag puluhan ribu, Tabloid Hikmah tiba-tiba dihentikan penerbitannya. Usep Romli pun kembali ke perusahaan induknya.

Sebagai wartawan, tulisan Usep Romli kerap menjadi bahasan publik.  Di antaranya “Ilubiung dina Pulitik” (Manglé No. 2475, 8-14 Mei 2014). Tulisan ini mendapat tanggapan cukup luas.

Dalam tulisan berbentuk laporan tersebut, Usep Romli membuka mata warga Garut bahwa Sutan Sjarir, tokoh politik nasional di zaman Sukarno  yang kemudian menjadi Perdana Mentri pertama Republik Indonesia itu, sering bermain ke Kampung Seungkeu di Kecamatan Banyuresmi.

Bahkan, Kampung Sengkeu, boleh disebut sebagai tempat Sutan Sjharir melakukan pengkaderan politik. Dari kampung ini tercatat ada nama Sastra, sahabat Sjahrir yang kemudian berhasil menduduki kursi parlemen di zaman Sutan Sjahrir.

Usep Romli menyebut Sastra memiliki kakak bernama Wira. Berbeda dengan adiknya, Wira tak tertarik dengan politik praktis. Meskipun ia faham politik, namun ia memilih tetap tinggal di Seungkeu sebagai pembuat periuk serta barang gerabah lainnya.

*

Karya Usep Romli yang lain yang membekas di masyarakat, khususnya masyarakat Garut, adalah Bentang Pasantren. Novel ini diterbitkan oleh Pustaka Dasentra tahun 1983. Ceritanya berlatar belakang pesantren,  tentang percintaan seorang santri dengan putri ajengan pemilik pesantren.

Seperti diketahui, tahun 1983 adalah masa booming cerita fiksi berbahasa Indonesia. Dengan dimotori majalah Anita Cemerlang, pada masa itu cerpen-cerpen karya anak muda Indonesia pada masanya, menggebrak pembaca Indonesia, terutama kalangan remaja.

Kemunculan novel Bentang Pasantren yang disusun oleh Usep Romli, menjadi pemuas dahaga masyarakat Sunda yang merindukan cerita fiksi romantis Sunda di tengah dominannya fiksi-fiksi romantis  berbahasa Indonesia. Tak heran jika Bentang Pasantren banyak dicari oleh masyarakat pecinta cerita Sunda.

 *

Di rumahnya sejumlah lemari dan rak tampak dipenuhi dengan buku. Jumlahnya mungkin ribuan. “Belum yang hilang karena dipinjam dan tak dikembalikan, atau yang rusak,” katanya.

Selain berbahasa Indonesia dan Sunda, banyak pula buku koleksinya yang berbahasa Inggris dan Arab.

Kegemarannya dalam membaca dan kehausannya akan pengetahuan, membuat ia sangat kaya referensi. Dan itu memudahkan dia dalam menyusun sebuah  tulisan. Selain itu, penguasaannya pada bahasa asing, terutama Arab dan Bahasa Inggris pun sangat menentukan karirnya di bidang tulis menulis.

“Membaca itu kewajiban bagi penulis. Jadi kalau ingin jadi penulis namun tak gemar membaca, berkhayal itu teh namanya,” tuturnya.

Terus bekarya Kang Haji, dan terus menginspirasi…!!!

BACA JUGA:

 

, ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan