Arsip Penulis | H.K.

spiritualitas-waria

Menilik Spiritualitas Waria dalam Mencari Tuhan

Untuk ke sekian kalinya, saya kembali luruh dan lunglai dalam bingkai kalimat-kalimat Masthuriyah Sa’dan. Betapa tidak, buku ketiga ini teramat berbeda dari dua buku sebelumnya yang turut membahas waria. Kali ini, Masthuriyah menyuguhkan kisah 10 informan yang betul-betul menggugah. (lebih…)

Lanjut Baca
persahabatan-bagai-kepompong

Tidak Selamanya Kepompong Mengubah Ulat Menjadi Kupu-Kupu

“Barangsiapa menaruh ingin, maka letakkan satu tangan berisi kebahagiaan sedang satu lagi berisi kekecewaan di sampingnya. Apabila keinginan itu tidak tercapai, setidaknya ada satu tangan menopang” Aku tertawa mendapati paragraf pembuka yang kau tulis tangan itu. Struktur kalimatnya mengingatkan aku pada sabda Nabi atau setidak-tidaknya susunan tubuh Pasal 362 KUHP yang berbunyi, “barangsiapa mengambil seluruhnya […]

Lanjut Baca
yayasan-kebaya-shelter-waria

Menghargai Waria, Menghargai Manusia

Sesak rasanya dada ketika saya merampungkan karangan Masthuriyah Sa’dan ini. Bukan apa-apa, ia berhasil membuat saya tercengang kedua kalinya, setelah buku sebelumnya yang berjudul Santri Waria (Yogyakarta: Diva Press, 2020) telah khatam saya baca.             Sungguh, penulis begitu lihai mengaduk-aduk emosi tatkala menyodorkan kisah tentang teman-teman waria. Sebutlah Gabby, waria muda yang berasal dari keluarga […]

Lanjut Baca

Seorang Pelacur dan Ibu Pengemis di Jalanan

Aku begitu takjub memandang peristiwa yang terjadi di depanku. Mataku terpana menyaksikan iblis beruban putih menampar pipi malaikat berwajah sendu. Bibirnya yang hitam legam menjulurkan lidahnya yang bercabang. Sementara malaikat yang aku anggap makhluk paling sabar ternyata roboh jua imannya. Matanya menyala. Tangan kirinya menuding-nuding mata iblis yang bulat nan juling itu. “Tidak bisakah mulutmu […]

Lanjut Baca

Tidakkah Kita Akan Menua Bersama?

Kita akan berakhir seperti ini. Menua dalam bilangan masa lalu hilang di bibir tembilang. Kamu akan selalu mengguguh hari lewat benam air mata, sementara peot kaki Darman, kian hari kian dikekang kesakitan. Lelaki itulah yang merawat kita sebagaimana ia merawat batang kelaminnya sendiri. Dulu, kita hidup tertimbun tumpak belukar, di mana rumput dan ilalang diburu […]

Lanjut Baca

Jangan Pergi ke Istana, Nak!

Malika, anakku. Di usia yang tak lagi muda ini, aku berharap engkau mengurungkan niat menengok megahnya Istana. Sebab sebinal apa petinggi Chora, seluruh lekuk-tubuh pulau adalah tempat tinggal paling aman untuk ditempati. “Mengapa aku tak boleh pergi, Bu? Bukankah kau dulu yang berkata, jika manusia mesti memiliki mimpi agar senantiasa hidup?” Aku ingin melepasmu ke […]

Lanjut Baca