book-718633_1280

Buku Yang Hidup

Dua buku yang kutulis cetak ulang untuk ketiga kalinya. Buku itu berjudul Penjara Perempuan (2020) dan Mendidik Anak-Anak Berbahaya (2020). Keduanya bukan buku fiksi. Rasanya membahagiakan sekali buku bisa bertumbuh. Bertumbuh dalam artian cetak berulangkali dan bertumbuh dengan bertambahnya pembaca. Setidaknya sebagai penulis, hidup saya yang singkat jadi punya arti.

Dalam dunia yang serba cepat seperti sekarang ini, ada kalanya penulis masih diperlukan. Untuk menangkap yang bergerak cepat itu, untuk mengabadikan yang riuh itu. Entah apapun bentuknya itu, kita memerlukan satu jeda. Satu ruang untuk berhenti sejenak, untuk merenung, menangkap ilham, atau semacam hikmah dari dunia yang bergerak amat cepat. Seandainya tak ada penulis, barangkali hidup kita sudah seperti pembalap yang ugal-ugalan itu. Hidup seperti hanya ada dua kemungkinan kalah dan menang. Tapi beruntunglah kita punya penulis.

Ada semacam teror yang dilontarkan penulis. Ada semacam tembakan yang ditembakkan penulis. Melalui tulisannya ada yang hendak disampaikan penulis. Ada ajakan dari penulis untuk menengok ruang untuk merenung. Untuk memperhatikan yang sepele, yang kerap diremehkan, yang sering diabaikan. Penulis menangkap semua itu untuk menegaskan kembali kita adalah manusia.

Ada kalanya membaca karya penulis bisa menjadi semacam oase. Penyejuk, penghilang rasa haus akan sesuatu. Dalam tulisan itulah kita menemu, peristiwa, cerita, keseharian, sentuhan, emosionalitas, ilmu pengetahuan, konflik, spiritualitas, inspirasi, semangat untuk hidup kembali, gambaran orang jatuh, maupun bangkit. Sederhananya, kita menemukan dunia yang kita hinggapi ini adalah luas. Manusia yang begitu kompleks. Meminjam kata Pramoedya Ananta Toer jangan anggap remeh  si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. Itulah mengapa penulis dan buku masih terus berdatangan berbondong-bondong. Untuk menuliskan manusia, untuk menceritakan manusia, untuk mengisahkan manusia. Melalui karya sastra ataupun yang lain. Pada buku Kata-Kata (2001) Jean Paul Sartre mengatakan : buku-buku harus tetap ada, harus ada, karena bagaimanapun juga, dia punya faedah.

Kedudukan penulis

Konon penulis adalah makhluk yang ampuh. Melalui kata-katanya ia bisa menggerakkan pembaca. Ia bisa membuat pembaca merasa senang dan tergugah akibat tulisan-tulisannya. Penulis sendiri mungkin adalah manusia biasa seperti kita pada umumnya, namun dari kata-kata yang ditulisnya itulah ia bisa membuat dunia ini berubah. Benarkah penulis begitu tinggi kedudukannya dalam kehidupan kita?.

Meski penulis dianggap memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat kita, pekerjaan penulis bukanlah pekerjaan yang menarik minat orang banyak. Survey Kompas.com (2020) yang diambil dari laman prakerja kita tidak menemukan minat sama sekali dalam bidang kepenulisan. Rata-rata orang memilih ritel, perangkat lunak, akuntansi, pemasaran, penjualan, perbankan, personalia, jaringan, administrasi umum. Di sekitar kita pun demikian halnya, penulis dianggap pekerjaan yang abstrak, tidak konkrit, dan tentu saja dari sisi penghasilan dianggap paling tidak menjanjikan.

Walau begitu, pelatihan menulis kini masih tetap menjamur. Konon promosinya yang gencar adalah bisa langsung tembus media ternama, dengan honor sekian-sekian. Sebenarnya menulis sebagai sebuah pekerjaan tidak beda dengan pekerjaan lainnya. Artinya, kalau penulis tekun dan benar-benar serius menekuninya, ia akan berhasil dan menghasilkan.

Kedudukan penulis sebenarnya ditentukan oleh pembaca. Penulis bukanlah orang yang spesial di mata publik pada umumnya. Menjadi penulis akan dirasa amat spesial dan tenar ternama karena kekuatan pembaca. Pembacalah yang mengangkat kedudukan penulis. Seandainya tidak ada pembaca, maka apalah arti penulis. Di era sekarang, meski kita sering pesimis pembaca di Indonesia amat minim, namun buku-buku tetap terus diproduksi, tetap dicetak dan juga semakin memenuhi toko buku. Ini seolah menyangkal anggapan bahwa tingkat literasi kita yang minim.

Yang mungkin belum ramai adalah menengok siapa sebenarnya pembaca ini. Masih amat minim sekali medium untuk menulis resensi, atau ulasan dari buku-buku yang dibaca. Blog, serta web pribadi saat ini memang bisa menjadi alternatif bagi pembaca militan. Namun kadang orang juga ingin menulis ulasan bacaan tidak gratis. Artinya ada yang mengapresiasi, membayar, atau sekadar buku gratis. Dulu mungkin masih ramai pembaca buku dapat honor menulis ulasan baik dari media, penerbit, hingga hadiah buku baru. Namun saat ini semakin berkurangnya oplah buku, dan omset penerbit, hal-hal semacam itu menjadi berkurang.

Mengapa ulasan-ulasan buku menjadi penting?. Tentu saja agar kebermanfaatan dan skup keterbacaan buku menjadi lebih luas.  Agar buku bagus semakin banyak dibaca orang. Semakin banyak orang membaca, semakin luas pula penulis dikenal dan memberikan makna. Semakin banyak situs dan ruang yang menerima ulasan buku yang dibaca, maka semakin maju pula pengetahuan masyarakat kita. Semakin tinggi nilai buku di mata publik dan pembaca, serta masyarakat luas.

Saya jadi ingat pengalaman Orhan Pamuk, pada akhirnya menjadi penulis seperti menjadi seorang pengkhotbah bagi diri sendiri. Perkara itu dibaca banyak orang dan menemukan kesamaan bukanlah soal. Walau Pramoedya sekalipun sudah mewanti-wanti bahwa seorang yang pandai kalau tidak menulis ibarat hewan yang bodoh, toh masih banyak orang yang berkilah. Jadi menjadi penulis anggap saja seperti kebanyakan orang biasa, dan tidak usah merasa wah. Dalam hal ini saya sepakat apa yang dikatakan Sartre, kini aku sudah tahu para penulis tidak bisa berbuat apa-apa.

Dan soal buku yang hidup, ada sajak yang kiranya patut menggambarkan ini pada penggalan sajak yang ditulis Hasan Ashapani : Pada hari ulang tahunku, ada yang memberi kado: sebuah buku. Aku terkejut karena ternyata ada engkau dalam kado itu. selamat ulang tahun, yakatamu. Sejak saat itu, kau dan aku, menjadi kekasih abadi. Sehidup. Semati. [Sajak Ini Kuberi Judul : Buku].

Sumber gambar : pixabay.com

, ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan