Bolano-Advice

Nasihat Roberto Bolano Dalam Seni Menulis Cerpen

Seekor singa adalah gabungan dari domba-domba, begitu pula seorang penulis terbentuk dari buku-buku yang dia baca._Paul Valery.

Usai ledakan Sastra Latin dengan realisme magisnya, nama Roberto Bolano hadir sebagai salah satu atau bahkan satu yang paling bergairah menggeser pengaruh ledakan tersebut. Sebelum terkenal sebagai penulis prosa yang luar biasa, Bolano memulai dunia kepenulisnya sebagai penyair. Tuntutan hiduplah yang membawanya kepada prosa (novel dan cerpen). Dia meninggal di usia 50 tahun tetapi telah menghabiskan hampir seluruh karir kepenulisannya dengan berpindah-pindah. Dia lahir sebagai orang Chili tetapi terbuang dari negerinya, menjadi eksil di Meksiko, berkelana hingga ke Spanyol.

Meskipun menganggap dirinya sebagai sebagai seorang penyair, Roberto Bolano, setelah kematiannya pada 2003 lebih dikenal sebagai sebagai seorang penulis fiksi yang sangat penting pada masanya. Sebagaimana umumnya penulis Amerika Latin, Bolano menulis sebagai perlawanan politisnya, tetapi lebih berdasarkan pengalaman dan spiritual pribadi tanpa militansi demagogis sehingga oleh para pembacanya melihat Bolano sebagai salah satu warna baru dari deretan penulis hebat Latin lainnya. Karena alasan ini pula, semasa hidupnya, Bolano menyerang para sastrawan sebangsanya di Chili sekaligus membuat beliau melihat Chili dengan cara berbeda.

Perlawanan Bolano terhadap penulis lain baik pada masanya maupun para penulis yang sebelumnya bahkan sering muncul di dalam buku-bukunya dengan cara yang sarkas juga fantastis. Dengan keluar dari lingkaran para sastrawan tersebut, memungkinkan Bolano bebas bersuara; dia mencaci dan sedikit banyak memuji, bahkan menghakimi mereka. Penerimaan terhadap karya Bolano menjadi terpecah. Di kalangan sastrawan dia sering dianggap menjengkelkan, dan di tengah pembaca dan sahabat-sahabatnya sesama penulis seperti Vila-Matas dan Fresan Bolano adalah suara terbaik dari masa kini. New York Time pun memujinya sebagai penulis paling signifikan dari masanya.

Karya-karya Roberto Bolano sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Banyak pula cerpennya yang telah diterjemahkan dan dibaca gratis secara daring. Beberapa buku Bolano yang sudah diterbitkan antara lain: Antwerpen, 2666, The Savage Detectives, By Night In Chili. Sementara cerpennya adalah Clara, The Return, Jim dll.

Lalu apa yang bisa kita kutip dari beliau? Ya, beberapa nasihat pentingnya tentang menulis.

Jangan hanya menulis satu cerpen dalam satu waktu. Jika kau melakukan itu, maka kau hanya akan menulis cerita yang sama itu hingga kau mati.

Akan lebih baik bila menulis tiga atau lima cerpen sekaligus, bahkan jika kau mampu, tulislah hingga sembilan atau lima belas cerpen sekaligus.

Menulis dua buah cerpen sekaligus  sama berbahayanya dengan hanya menulis satu cerpen pada suatu waktu, mengaapa demikian, karena ibaratnya dua bayangan kekasih yang saling mempengaruhi satu sama lain, menulis dua cerpen akan terlihat sebagai dua bayangan ganda yang sama-sama sayu.

Ada yang harus membaca Horacio Quiroga, Felisberto Hernandez, dan Jorge Luiz Borges. Ada pula yang harus membaca Juan Ruflo dan Augusto Monterroso. Di antara para penulis cerpen yang menyukai penulis-penulis di atas tidak akan pernah membaca Camilo Jose Cela atau Francisco Umbral, tetapi memilih Julio Cortazar dan Adolfo Bioy Casares.

Saya ulangi bila belum jelas: apa pun itu, jangan pernah mempertimbangkan untuk melirik Cela atau Umbral.

Seorang cerpenis harus berani. Sedih memang, tetapi memang sudah seharusnya begitu.

Penulis cerpen sering membual telah membaca Petrus Borel(Joseph-Pierre Borel). Pada kenyataan, banyak cerpenis yang kemudian menjadi sampah setelah meniru cara Borel menulis. Salah besar! Mereka hendak meniru cara Borel berpakaian tetapi sama sekali tdak mengenalnya.

Begini saja: bacalah Petrul Borel, berpakaian seperti Borel, di saat yang sama baca Jules Renard dan Marcel Schwob. Yang paling penting, baca Schwob, lalu baca Alfonso Reyes kemudian terakhir Borges.

Pada kenyataannya, dengan Edgar Allan Poe kita telah mempunyai lebih dari cukup untuk dibaca.

 Pikirkan tentang pernyataan nomor 9 (Edgar Allan Poe). Pikir lalu renungkan. Kau masih punya waktu untuk itu. Pikirkan tentang nomor 9. Jika mungkin, pikirkan sambil berlutut.

Kalian juga harus membaca beberapa buku yang direkomendasikan ini: Pseudo Longinus, The Spoon River Anthology, Enrique Vila-Matas, Javier Marias.

Baca juga anton Chekov dan Raymond Carver karena salah satu dari mereka adalah penulis terbaik dari abad dua puluh.

Demikian Bolano mengajarkan kepada penulis tentang seni menulis cerpen miliknya. Seperti yang telah disebutkan bahwa Bolano menampik sebagian besar penulis dan hanya merekomendasikan sedikit. Bolano telah menulis dengan gayanya sendiri, dimana dia keluar dari lingkaran pakem realisme magis yang tengah berkembang pada saat itu dan saat sebelum dia hadir. Jika kita mengenal Gabriel Garcia Marquez, maka Bolano berlawanan dengannya dan bahkan tidak menganggap penting realisme magis. Bolano hadir usai bom sastra Amerika Latin dengan realisme magisnya, dia mengisi ruang kosong yang lahir usai bom sastra tersebut. Baik dalam puisi maupun prosa, Bolano hadir dengan pakem baru yang setidaknya menyindir pakem-pakem lama. Meskipun Marquez dan kawan-kawannya sulit kita tampik kehadiran mereka dalam dunia sastra, setidaknya Bolano ada di sana untuk melihat dunia dengan cara yang lebih baru. Dia adalah revolusioner sastra Amerika Latin itu sendiri, yang terbaik dari masanya.

Sumber: Electric Cereal

, , , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan