bird-3732867__340

Cerita Yang Mendongeng

Di masa kanak-kanak saya beruntung memiliki seorang buyut perempuan pendongeng. Dia sudah terbiasa mendongeng sejak ibu saya masih kecil, lalu mendongeng pula saat kakak-kakak saya masih balita hingga masuk sekolah dasar. Buyut saya sudah berusia di akhir delapan puluh waktu saya lahir dan saya tidak ingat di umur berapa saya mulai mendengar dongengnya tiap malam. Dia punya dongeng tentang asal mula gunung Inerie dan gunung Ebulobo, dua gunung besar di dekat wilayah desa kami. Konon, gunung Inerie yang berdiri tepat di depan rumah kami dahulu kala adalah seorang wanita sementara gunung Ebulobo di bagian timur adalah seorang pria. Keduanya adalah sepasang kekasih, sebelum terjadi suatu keributan yang membuat si Ebulobo melempari Inerie dengan sebatang tombak dan mengenai sanggulnya. Kata buyut saya, sanggul yang terjatuh itu membentuk bukit kecil yang letaknya di kaki gunung Inerie bagian selatan, sementara Ebulobo yang masih marah hingga saat ini masih mengeluarkan asap setiap hari di puncaknya. Kemudian ada dongeng tentang putri salju dimana buyut saya secara mengejutkan ternyata bisa berbahasa Indonesia saat menirukan perkataan si ratu jahat dalam dongeng ini, “Hai cermin yang di dinding, siapa yang tercantik di negeri ini?.” Dongeng yang lain adalah Alistra, tentang seorang bocah anak raja yang lahir di hutan karena si permaisuri dibuang sewaktu mengandungnya. Ibunya difitnah mengandung batu dan kayu oleh salah satu selir yang dengki. Alistra menjadi heroik karena memiliki kuda kayu yang bisa hidup lalu terbang. Saat buyut saya meninggal, saya kelas 4 SD, lebih dari 50 buah dongeng telah tertanam dalam ingatan saya (semuanya adalah dongeng yang panjang sehingga butuh tiga atau empat malam untuk menyelesaikan ceritanya.)

Saya kemudian suka membaca. Di Sekolah dasar dasar kami punya perpustakaan kecil yang menyediakan cerita-cerita rakyat juga cerita bergambar. Kemudian sewaktu masuk SMP saya mulai mengenal novel Mira W., Marga T., komik Jepang detektif Konan dan Dragon Ball, novel Harry Potter, Sydney Sheldon dll. Saat SMA, bacaan saya sudah meningkat; dari cerita roman hingga fiksi Ilmiah. Saya mulai lebih banyak mengenal penulis luar seperti Agatha Christie dan Danielle Steel, dan karena sekolah saya adalah sebuah Seminari (hampir sama dengan pesantren untuk teman-teman muslim) maka waktu itu yang paling hangat dibicarakan adalah buku-buku sejenis Dan Brown yang mengguncang kekatolikan saya dan buku yang penuh kekuatan seperti novel-novel tetralogi Laskar pelangi.

Saya kemudian pilih-pilih bacaan saat kuliah. Karena harga buku tidaklah murah untuk saya maka buku yang saya beli benar-benar jenis buku yang saya suka. Kita semua punya selera bacaan masing-masing, dan selera saya untuk buku fiksi adalah buku yang gaya berceritanya tidak rumit. Saya punya beberapa penulis favorit baik penulis Indonesia maupun penulis luar, yang saat membaca buku mereka saya merasa seperti sedang didongeng. Tidak peduli apa tema yang dibawa buku tersebut, selama saya tahu penulisnya mempunyai cara bertutur yang mengalir menyenangkan maka saya pilih itu.

Untuk saya, buku yang mendongeng itu ditulis sedemikian rupa sehingga saya merasa penulisnya seolah duduk di depan saya, bercerita sendiri kepada saya, dengan gaya pendongeng ulung yang membuat saya yakin akan kebenaran dari setiap kisah. Saya akan tekun berjam-jam untuk buku semacam ini, bahkan bernafsu menyelesaikan dalam sehari. Katakanlah Khalled Khoseini dengan The Kite Runner-nya, atau Gabriel Marquez dengan cinta pada musim kolera, Dewi Lestari dengan novel-novel Supernova. Membaca tulisan mereka, saya tidak beban, saya rela menghabiskan waktu asalkan selesai. Dan biasanya saya puas telah menghabiskan uang untuk buku mereka.

Sebagai seorang pembaca, saya berharap ke depan di toko buku akan saya temukan buku-buku karya penulis tanah air yang tulisannya sesuai selera saya. Tidak perlu mengkotbah, hanya mendongeng saja, dengan bahasa sederhana dan lembut; layaknya seorang nenek atau buyut mendongeng pada cucunya. Begitulah.

Sekali lagi, selera orang terhadap jenis bacaan berbeda. Karena kebetulan saja selera saya begini, maka saya menuliskan tentang jenis cerita yang mendongeng.

Ilustrasi: google

, , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan