kursus-bahasa-di-kampung-inggris

Mitos Kampung Inggris

Indonesia adalah rumah bagi jutaan mitos. Berbagai mitos lahir di bumi nusantara ini. Mitos-mitos diciptakan, dibangun, dan disebarluaskan oleh masyarakat maupun penguasa atas beragam alasan. Alasan-alasan politis, diplomatis, maupun kekurangan kecerdasan dan informasi adalah alasan-alasan utama yang biasanya mengambil bagian dari pembangunan dan penyebaran mitos.

Dalam konteks tersebut, mitos dimaknai Cremers (1997) sebagai sebuah rahasia atau teka-teki eksistensial manusia yang berdasarkan pengalaman yang pada hakikatnya menampilkan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh manusia. Manusia-manusia tersebut  terhimpit oleh masalah hidup yang tidak mampu ditanggungnya. Akhirnya, mitos diciptakan untuk merasionalisasi himpitan-himpitan hidup dan menjaga tumbuh mekarnya harapan, saat harapan dan himpitan hidup tersebut sulit dihadapi dalam kenyataan keseharian.

Mendominasinya mitos dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia, membuat Tan Malaka sedikit khawatir. Ia berfikir, bahwa mitos atau logika mistika adalah penyebab terbelakangnya kehidupan masyarakat Indonesia dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat Indonesia kurang berfikir logis dan analitis dan lebih suka berfikir naif dan mistis. Untuk itulah perlu adanya upaya untuk membongkar dan menjauhkan masyarakat Indonesia dari kepungan mitos.

Buku berjudul MADILOG singkatan dari materialisme, dialektika, dan logika, buah karya dari Tan Malaka adalah salah satu upaya terbesar yang dilakukan bapak Republik Indonesia ini untuk merevolusi nalar pikir manusia Indonesia. Manusia Indonesia, dituntun oleh Tan Malaka untuk menggunakan nalar berfikir kritis dan analitis dengan mengunakan pedoman-pedoman materialisme dialektis yang logis. Harapanya, nalar-nalar yang dibangun atas dasar mitos dan logika mistika bisa direduksi dan dihilangkan.

BACA JUGA: Membaca Buku-buku Tan Malaka

Namun, jauh setelah Tan Malaka meninggal dunia dan bahkan menerbitkan bukunya itu, masyarakat Indonesia masih saja sibuk dengan dunia mitos. Manusia Indonesia modern, yang telah mengenal teknologi canggih atau bahkan mengenal teknologi informasi seperti sosial media, masih saja terjebak dengan cerita-cerita mitos. Salah satu mitos yang berkembang di masyarakat Indonesia, yang kebanyakan diyakini orang, dari sabang sampai merauke, adalah mitos tentang Kampung Inggris. Sebuah kampung yang terletak di kawasan Kediri Jawa Timur dan berbatasan dengan daerah Jombang.

Apa saja dan bagaimana?

Saya rasa, mitos-mitos yang berkembang dan tersebar luas tentang Kampung Inggris Pare disebabkan oleh kekurangan informasi dan harapan-harapan berlebihan dari masyarakat Indonesia. Seandainya saja masyarakat Indonesia lebih rajin menggali informasi dan mampu mengobjektifikasi harapan-harapan muluknya, mitos-mitos tentang Kampung Inggris Pare tidak akan berkembang sebesar ini. Sebagai seseorang yang pernah belajar dan tinggal berbulan-bulan di kampung Inggris Pare, sudah merupakan tanggung jawab saya untuk membantu meluruskan dan menjernihkan cerita mitos yang berkembang seputar ini. Lalu apa sajakah mitos-mitos itu?

Pertama, mitos tentang jaminan bisa lancar berbicara bahasa Inggris dan bahkan mampu menguasai bahasa inggris dalam waktu 1 sampai 3 bulan saja. Mitos ini banyak sekali dipercaya masyarakat Indonesia yang ingin belajar bahasa inggris secara instan dan akseleratif. Maka dampaknya, banyak sekali anak-anak muda yang datang berbondong-bondong ke Kampung Inggris Pare.

Saya sendiri, setelah datang, berinteraksi dan mengamati proses pembelajaran bahasa Inggris selama berbulan-bulan di Kampung Inggris Pare, sadar bahwa mitos ini hanya dongeng belaka. Bahkan, saya sendiri pernah bertemu dan berbincang dengan salah satu student yang datang dari pulau Sumatra, yang telah belajar dan tinggal di Kampung Inggris Pare selama 2 tahun. Dan saya amati, teman saya ini memiliki kemampuan bahasa inggris yang biasa-biasa saja.

Bayangkan, 2 tahun belajar bahasa inggris di kampung inggris, kemampuan bahasa inggris teman Sumatra saya tidak begitu istimewa. Jadi kesimpulan sederhananya adalah, lama tidaknya kita bisa menguasai bahasa inggris di kampung inggris, tergantung pada seberapa keras kita belajar bahasa inggris tersebut. Semakin giat kita belajar, maka hasilnya, semakin singkat waktu yang dibutuhkan untuk menguasai bahasa inggris. Selain itu, kemampuan dasar atau basic engglish kita yang berasal dari sekolah atau kampung halaman, juga menentukan seberapa lama kita bisa menguasai bahasa inggris. Semakin baik basic english  kita dari sekolah atau rumah, semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan untuk belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris.

Kedua. mitos tentang Kampung Inggris Pare yang merupakan satu lembaga atau satu sekolah bahasa inggris yang bisa membantu kita menguasai bahasa inggris. Kesan tentang mitos ini saya dapatkan ketika saya ngobrol dengan seorang teman, saat saya sudah pulang dari kampung inggris. Kawan saya beranggapan bahwa kampung inggris adalah satu lembaga yang membantu saya belajar bahasa inggris.

Hal ini tidak perlu terjadi seandainya kawan saya atau orang lain mau sedikit rajin berselancar di dunia maya untuk menggali informasi. Untuk diketahui saja, Kampung Inggris Pare merupakan kampung biasa, seperti halnya kampung-kampung lainnya, hanya saja di kampung inggris ini, terdapat ratusan lembaga kursus dan pelatihan bahasa inggris.

Lembaga kursus dan pelatihan bahasa inggris ini memiliki program-program yang disusun berdasarkan spesifikasi dan tujuan tertentu. Misal untuk program IELTS, TOEFL dan scholarship (beasiswa) adalah program-program spesial yang disusun oleh lembaga kursus Test Engglis School, Titik Nol Course, atau Global English, sedangkan program speaking, di akomodasi oleh lembaga The Daffodils dan Mr Bob, dan program Grammer oleh Elfast, Kresna dan BEC. Selain itu, lembaga alternatif bernama Mr. Abdul and The Theory bisa dipilih jika calon student ingin mencoba pembelajaran bahasa Inggris yang unik dan tak tersekat dalam kelas-kelas pembelajaran yang mainstream. 

Begitu banyaknya lembaga kursus dan program ini, mengharuskan setiap calon student yang ingin datang ke kampung inggris dan belajar bahasa inggris, untuk mempersiapkan diri dan membuat rencana yang matang. Jika tidak, maka, kemungkinan besar, calon student tersebut akan bingung, tidak fokus pada tujuan, bahkan mungkin tergoda untuk menghabiskan waktu hanya sekedar kongkow-kongkow di cafe-cafe yang tersebar diberbagai penjuru Kampung Inggris Pare.

Ketiga, mitos tentang penggunaan bahasa inggris oleh penduduk lokal dalam kehidupan sehari-hari. Pada awalnya, saya juga menggira jika penduduk lokal Pare menggunakan bahasa inggris dalam keseharian mereka. Saya dulu sebelum datang ke Kampung Inggirs Pare membayangkan bahwa para penjual makanan keliling, para pedagang kelontong, dan para petani menggunakan  bahasa inggris dalam keseharian mereka. Nyatanya hal ini hanyalah dongeng dan mitos.

Banyak dari para pedagang asongan dan penjaja kuliner khas daerah menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah mereka. Jadi di kampung inggris Pare, para penduduk lokal tidak menggunakan bahasa inggris. Mereka menggunakan bahasa jawa dialek jawa timur dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jangan kecewa dulu. Penggunaan bahasa inggris di kampung inggris Pare tetap penting. Hal itu disebabkan oleh banyaknya english area  di kampung inggris Pare. Dalam kawasan english area inilah penggunaan bahasa inggris digunakan secara luas dan konsisten.

Keempat, mitos tentang biaya murah untuk belajar bahasa inggris di Kampung Inggris Pare. Mitos ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, biaya belajar di satu lembaga kursus dengan lembaga kursus lain sangat beragam. Hal ini tergangung pada banyaknya program yang diambil, ketersediaan asrama dan lamanya durasi belajar. Selain itu, makanan dan minuman yang harus kita konsumsi selama belajar di Kampung Inggris Pare juga tidak sedikit. Jika hal-hal tersebut dikalkulasikan, biaya selama belajar di Kampung Inggris Pare, juga terhitung tidak terhitung murah. Maka saran saya, pintar-pintarlah memilih tempat kursus dan mencari makanan. Jika kita tidak pintar-pintar dalam hal tersebut, mungkin besarnya biaya untuk belajar akan membengkak dan tentu hal itu akan merugikan kita.

BACA JUGA: Korupsi dan Kesalahan Orentasi Belajar

Begitulah mitos-mitos seputar Kampung Inggris Pare yang sering kita dengar dan mungkin kita bicarakan. Mudah-mudahan, setelah pembahasan ini, kita bisa lebih cerdas dalam berbagi informasi dan meyakini sesuatu agar kita tidak terjebak pada mitos-mitos. Seperti mitos tentang Kampung Inggris Pare. 

, , , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan