pram-manusia-arsip-dari-blora

Pramoedya: Manusia Arsip dari Blora

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari,” kata Pramoedya Ananta Toer kepada istrinya Mutmainah Thamrin (alm). Pram, yang saya suka menyebutnya sebagai manusia arsip dari Blora.

Bagi Pram, orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama dia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Itulah sebabnya Pram mencintai istrinya, seorang wanita sederhana tetapi suka dunia tulis menulis. Menulis apa saja: surat, diary atau catatan-catatan harian lain.

Mutmainah memang tidak sehebat suaminya yang selama 81 tahun mampu menulis tidak kurang dari 50 judul karya sastra besar dan telah diterbitkan dalam 41 bahasa di dunia. Buku-buku Pram, suaminya, bahkan menjadi bahan ajar wajib di beberapa sekolah dan universitas di luar negeri.

Sejumlah karya besar yang telah dihasilkan pria kelahiran Blora 6 Februari 1925 itu antara lain Kranji-Bekasi Jatuh (1947), Novel Perburuan (1950), Keluarga Gerilya (1950) Bukan Pasar Malam (1951), Cerita dari Blora (1952), Gulat di Jakarta (1953).

Selain itu, Korupsi (1954), Midah – Si Manis Bergigi Emas (1954), Cerita Calon Arang (1957), Hoakiau di Indonesia ( Tionghoa Indonesia ) (1960), Panggil Aku Kartini Saja I & II (“Just Call Me Kartini I & II”) (1962), serta Gadis Pantai ( Girl from the Coast ) (1962). Dan yang paling fenomenal The Buru Quartet: Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), Rumah Kaca (1988) dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995). Serta masih ada karya lain seperti Arus Balik (1995), Arok Dedes (1999), Mangir (1999), Larasati (2000), Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: Catatan Pulau Buru (2001), dan All That Is Gone (2004).

Karya-karya Pram itu banyak mendapat apresiasi dari masyarakat dunia. Terbukti dengan banyaknya penghargaan yang diterima Pram dari berbagai negara seperti Belanda, Jepang, Inggris, Prancis, Chili dan Amerika. Dari sekian penghargaan yang diterima itu, tentu yang paling bergengsi adalah penghargaan Ramon Magsaysay Award dari Philipina. Hadiah Ramon Magsaysay adalah suatu award yang dibentuk pada April 1957 oleh para wali amanat Rockefeller Brothers Fund (RBF) New York, Amerika Serikat.

Hadiah ini diciptakan untuk mengenang mantan presiden Filipina Ramon Magsaysay, (almarhum) akan keteladanan, integritas dan kegigihannya dalam menjalankan pemerintahan dan dalam memberikan pelayanan umum, serta dalam menegakkan demokrasi.

Untuk kawasan Asia, penghargaan ini pernah diberikan kepada sejumlah tokoh penting dunia, seperti Dalai Lama, Bunda Teresa, Corazon Aquino, dan Akira Kurosawa dan dari Indonesia Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mochtar Lubis. Dengan penghargaan ini, Pram yang “hanya” seorang eks tahanan politik (Tapol) yang survival, bisa diakui dan duduk sama tinggi dengan tokoh tokoh penting dunia tersebut.

Kehebatan Pengarsipan Pram

pram-manusia-arsip-dari-bloraDari konteks kearsipan, karya tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu) merupakan karya yang sangat fenomenal, karena karya ini ditulis saat Pram menjalani pembuangan di Pulau Buru Maluku yang ganas, nyaris tanpa alat tulis dan dokumentasi.

Dalam kondisi yang serba sulit, terbatas dan selalu dalam pengawasan petugas, Pram berhasil mencatatkan kejadian demi kejadian penting hanya pada berbagai media seadanya seperti sobekan kertas sampah, bungkus/grenjeng rokok ataupun di kulit kulit kayu, yang kemudian dia pakai sebagai bahan utama tulisannya.

Pram menjelaskan proses pengarsipan yang luar biasa itu dalam bukunya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” yang terbit tahun 1995. Pram menggambarkan, di hutan Pulau Buru yang lebat, teman temanya sengaja disuruh berlari oleh aparat keamanan dan kemudian ditembak laksana rusa dari jarak jauh hanya untuk “hiburan” latihan menembak.

Pram mencatat kejadian demi kejadian mengerikan itu secara detail, siapa korbannya, siapa penembaknya, waktunya, tempatnya, suasananya dll. Hanya pada lembaran lembaran kulit kayu atau pada grenjeng rokok atau disobekan kertas buangan yang kemudian dia sembunyikan rapat rapat sebagai arsip dengan harapan jika keadaan sudah memungkinkan dia akan cari kembali arsip itu untuk sumber tulisannya.

“Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” pada dasarnya adalah sebuah catatan non fiksi Pram yang berisi kisah kisah luar biasa selama dia ditahan di Pulau Buru yang dia arsipkan di media apa saja seperti disebut di atas.

“Yang mati tidak harus bisu,” begitu tekadnya mengarsipkan peristiwa-peristiwa penting itu.

Tanpa tahu kesalahan juga kepastian kapan akan dihadapkan pada pengadilan, bagi Pram juga tapol lainnya, berada di Pulau Buru artinya siap dikenang sebagai nama saja. Sewaktu waktu nyawanya bisa tercerabut. Untuk itulah di harus berani menulis.
Pram menulis bukan hanya tentang keadaan di Buru, tetapi juga tentang mereka yang bernasib sama dengannya, juga menulis tentang keadaan anak-anaknya di rumah yang memprihatinkan.

Membaca catatan Pram setebal 426 halaman ini akan sangat sulit menahan air mata. Bukan saja karena bahasanya yang menyentuh, tetapi juga karena peristiwa-peristiwanya yang sungguh luar biasa. Buku yang dikumpulkan dari coretan-coretan arsip seadanya ini, ternyata menjadi karya masterpiece-nya, bahkan difilmkan (Bumi Manusia).

Dari keadaannya sebagai seorang tahanan politik yang terbuang, Pram mampu menghasilkan karya sastra yang sangat layak dibaca dari generasi ke generasi. Seperti orang bisu, nyanyian Pram disenandungkan dengan harapan agar suatu saat akan terdengar. Menulis, menurut dia, adalah pekerjaan untuk menjaga api tetap menyala.

“Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong” kumpulan catatan ini adalah harapannya, salah satu bentuk perlawanannya pada kebisuan dan pembisuan.

Dalam buku itu Pram tampil seperti manusia yang sangat cerdas tahu segalanya dan bisa melaporkan secara life dan detail. Tetapi tidak dipungkiri sebenarnya itu adalah hasil dari kemampuannya yang tinggi dalam mem-filing atau mengarsipkan peristiwa demi peristiwa dalam media apa saja.

Konon Pak Pram jika belum sempat mencatatnya, juga sering menceritakan kejadian-kejadian yang dilihatnya kepada tahanan-tahanan politik lainnya agar cerita itu tidak hilang dan bisa diarsipkan.

Dalam konteks ini Pak Pram sebenarnya layak disebut sebagai Bapak Arsip yang sesungguhnya. Manusia arsip dari Blora. Ia telah menjadi pelopor dan inspirator bagi siapapun yang berurusan dengan pentingnya mendokumenkan peristiwa dan menjaga keautentikannya.

Dari seluruh penulis besar dunia, mungkin hanya seorang Pram yang berusaha mengarsipkan kejadian-kejadian dengan menceritakan kejadian pada orang lain layaknya Jibril menyampaikan pesan pesan Tuhan kepada Nabi Muhammad.

Pengertian Arsip

Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, pengertian mengenai arsip atau kintaka adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Arsip sangat berbeda dengan bahan pustaka yang terdapat dalam perpustakaan. Arsip mempunyai ciri khusus yang berbeda dengan bahan pustaka diantaranya adalah arsip harus autentik dan terpercaya sebagai alat bukti yang sah, informasinya utuh, dan berdasarkan asas asal usul (principle of provenance) dan aturan asli (principle of original order).

Arsip terdiri dari 2 jenis, antara lain:

  1. Arsip Konvensional; contoh: arsip kertas
  2. Arsip Media Baru; contoh: arsip micro film, kaset dll.

Apa yang dilakukan Pram di Pulau Buru jelas telah memenuhi apa yang dinyatakan dalam UU kearsipan itu. Syarat autentik dan terpercaya sebagai alat bukti yang sah, informasinya utuh, dan berdasarkan asas asal usul (principle of provenance) dan aturan asli (principle of original order) yang jelas, tampak telah terpenuhi dalam catatan-catatan Pram walau cuma ditulis di atas kertas bekas bungkusan, bungkus rokok dan kulit kulit kayu.

Perpustakaan Pram

Pada 30 April 2006 Pramudya Ananta Toer meninggal dunia dengan meninggalkan ratusan dokumen tertulis berupa novel, cerita pendek, esai, polemik dan sejarah tanah air dan rakyatnya. Karya-karyanya mencakup masa kolonial Belanda, zaman pergerakan kemerdekaan Indonesia, zaman pendudukan Jepang hingga zaman republik.

Sang adik, Soesilo Toer akhirnya mendirikan perpustakaan kecil bernama PATABA. PATABA didirikan di rumah masa kecil Pram di Jalan Sumbawa, Kelurahan Jetis, Kota Blora. Perpustakaan pribadi ini berisi banyak buku karya Pramoedya Ananta Toer serta barang-barang milik Pram di masa muda.

Selain buku karya Pram, terdapat juga buku-buku yang ditulis Soesilo Toer. Meski tak setenar sang kakak, Soesilo Toer juga dikenal sebagai penulis. Diceritakan Soesilo Toer, perpustakaan ini merupakan perpustakan nirlaba yang berasal donasi tiga bersaudara, Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer dan juga Soesilo Toer. PATABA sendiri merupakan akronim dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa.

”Selamat datang di perpustakaan pribadi PATABA ini. Di sini Anda bisa membaca dan berdiskusi soal apa saja,” kata Soesilo Toer.

Perpustakaan ini memang tidak sebesar perpustakaan umum atau perpustakaan pribadi lainnya. Namun, koleksi buku yang ada di perpustakaan ini mencapai 5.000 buah. Beberapa buku di antaranya berbahasa Rusia.

Diceritakan Soesilo Toer, kefasihannya berbahasa Rusia karena ia lulusan Plekhanov Russian University of Economics, Rusia. Begitu pula dua kakaknya yang juga mempelajari aneka ragam bahasa.

Dengan adanya perpustakaan kecil PATABA ini, Soesilo mengaku senang karena banyak yang berkunjung ke tempatnya. “Rata-rata mahasiswa yang mencari buku referensi tentang Pramoedya Ananta Toer,” katanya.

Sebuah meja kecil dan bangku berbahan kayu, di situlah Soesilo Toer menghabiskan waktunya untuk menulis. Sesekali, ia menerima tamu yang akan membaca referensi buku. Sebuah buku tamu disiapkan untuk mengetahui siapa saja yang datang ke perpustakaan ini.

”Jika Anda menulis buku tamu ini, Anda harus membayar satu juta senyuman,” katanya yang diiringi tawa tamunya.

Untuk mempertahankan eksistensi perpustakaan ini, Soesilo Toer mengandalkan dari penjualan buku. Baik dari karya Pram maupun karyanya sendiri. Jika para tamu yang berkunjung ke perpustakaan ini memang punya selera baca yang tinggi, tidak akan menyesal akan merogoh kocek mulai dari Rp 35.000,- sampai ratusan ribu.

”Kebetulan ada urusan bisnis. Dan kebetulan lagi urusan bisnisnya di dekat sini. Karena dapat info ada perpustakaan Pramoedya Ananta Toer ini, saya mampir dan ternyata tidak mengecewakan,” kata Jati seorang pengunjung dari Solo.

Soesilo Toer sendiri meskipun berpendidikan doktoral ekonomi, ia tidak bekerja layaknya profesor di berbagai universitas. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Toer tidak malu memulung barang bekas. Meski begitu, ia bangga dengan pekerjaannya menjadi pemulung yang menurutnya dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Begitulah kisah Manusia arsip dari Blora, Pramoedya. Seolah ingin membuktikan kata-katanya sendiri, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama dia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Dan Alhamdulillah Pram tampaknya tak akan pernah hilang dari sejarah. Ia bahkan telah menjadi bagian sejarah, setidaknya sejarah kearsipan yang luar biasa.


Fajar Cahaya, pemerhati kearsipan, tinggal di Temanggung

, , , , , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan