radar-panca-dahana-dan-kebudayaan-indonesia-kita

Radar Panca Dahana dan Nafas Kebudayaan Indonesia

Sejak usia belia, Radar Panca Dahana, -sosok yang tidak asing di kancah kebudayaan Indonesia, mengenal ‘kebudayaan’ sebagai kata kerja. Di usia remaja, puisinya bahkan membuat terkesima redaktur ternama media nasional. Geliat serta kiprahnya dalam dunia tulis-menulis dan jurnalistik sudah bergelora sejak belasan tahun usianya. Aneka buku dan pustaka dilahapnya dari pamannya. Bersama harian Kompas ia menapaki kerja budaya sebagai jurnalis dan menulis aneka karya sastra. Sejak itulah namanya bak burung yang sedang mengepakkan sayapnya.

Memasuki usia kuliah, ia mengambil jurusan sosiologi di Universitas Indonesia. Berkat karir jurnalistik dan jejaring yang ia bangun, ia ditawari menempuh studi s-2 di Perancis. Ia memasuki EHESS Perancis dan sempat berguru ke Jacques Derrida ilmuwan kenamaan itu (Sugiharto, Arif, 2008).

radar-panca-dahana-dan-kebudayaan-indonesia-kitaPergulatan intelektualnya di Perancis membuatnya harus tumbuh dan bertarung dengan situasi serta iklim manca yang keras. Disiplin intelektualnya membawanya menjadi intelektual kenamaan yang mumpuni di berbagai disiplin ilmu. Walau menekuni dunia teater dan sastra, amatannya terhadap ekonomi pun tak lepas dari perhatiannya sebagai pemikir Indonesia modern. Kritiknya terhadap sistem ekonomi liberal dan kebijakan negara yang menyimpang ia tuangkan dalam bukunya Ekonomi Cukup (2015).

Ia menggambarkan logika kapitalisme dengan bahasa sederhana dan jitu. Ia contohkan betapa tidak berdayanya kita sebagai manusia Indonesia ditindas oleh kapitalisme digital. Hanya sekadar berkirim kabar hai, hello baik melalui pulsa seluler maupun melalui media sosial, kita telah ikut serta menyumbang jayanya kapitalisme. Ia juga memberikan pengisahan sederhananya betapa bisnis parkir telah membuat kita tak bisa parkir bahkan di lapangan desa sendiri karena dominasi sistem kapitalisme. Ekonomi kapitalistik yang irasional itu dikritik Radar telah memperlebar jurang Si Kaya dan Si Miskin.

Hidup dan Menghidupi Kebudayaan Indonesia

Ide dan kiprah Radar Panca Dahana dalam lingkup kebudayaan telah banyak diakui publik. Ia menginisiasi beragam organisasi kebudayaan seperti Bale Sastra Kecapi, Musyawarah Sastrawan Indonesia. Radar juga turut mendirikan Mufakat Kebudayaan Indonesia, Federasi Teater Indonesia, dan organisasi kebudayaan lainnya.

Sekian tahun lampau, tepatnya sekitar tahun 2015, sebelum mementaskan buku puisinya Lalu Aku (2015), di gedung Teater Besar ISI Surakarta, ia dolan ke Bilik Literasi. Di rumah Mas Bandung Mawardi itulah Radar Panca Dahana sempat memberikan wejangan dan memberi kuliah perihal dunia tulis-menulis dan situasi kebudayaan Indonesia. Radar selepas memberi kuliah ia terlentang sejenak sembari mengatur kembali nafasnya yang terengah-engah. Nafasnya yang tak normal itu seperti nafas kebudayaan Indonesia.

Dalam dunia teater, ia dididik dengan disiplin dan latihan yang keras. Pernah satu kali ia diminta membawa dua ember ke bukit dan kembali lagi ke bawah hingga tidak ada air yang tumpah. Di era sekarang banyak aktor atau artis cengeng, dan sering mengeluh apabila diajak berlatih teater sekeras itu.

Totalitas dan dedikasi yang penuh itulah yang dilakukan Radar dalam bidang kebudayaan. Ia mewakafkan hidupnya pada kebudayaan yang ia lakoni dari usia muda hingga akhir hayatnya.

Kebudayan yang selama ini dipinggirkan dan diabaikan oleh pemerintah, menjadi keprihatinan Radar. Kebudayaan telah diperkosa dan diperlakukan semena-mena dalam arus Indonesia modern. Anggaran kebudayaan yang tak lebih dari satu persen bukan hanya menghina kesenian dan kebudayaan tapi juga telah membunuh para pegiat kebudayaan dan kesenian secara perlahan. Kesenian dan kebudayaan menjadi koma dan semakin dekat padasakaratul maut.

Radar juga mengkritisi bagaimana polah para politisi , elit, dan penguasa yang penuh solek dan drama namun kelakuan dan kepribadiannya busuk. Ia mengisahkan ini dalam buku puisinya Manusia Istana (2015).

Intelektual Indonesia

Sebagai pemikir yang resah dan gelisah serta peka terhadap situasi Indnesia, ia rajin menulis kolom di koran nasional. Tulisannya mencerminkan keprihatinan serta suara nuraninya terhadap Indonesia yang dicintainya.
Dalam berbagai forum dan diskusi yang diadakan lewat layar televisi maupun dalam ruang-ruang senyap kebudayaan, gagasan dan suaranya selalu lantang meski tubuhnya ringkih.

Radar bak situasi kebudayaan Indonesia saat ini. Tubuhnya sudah kebal dengan injeksi dan obat. Ia telah diasupi aneka macam vitamin dan anti biotik untuk melawan penyakit kronik manusia Indonesia: korupsi. Dalam kelantangan dan keteguhan serta daya juangnya menghadapi hidup itu sendiri, ternyata penyakit kebudayaan manusia Indonesia ternyata lebih ampuh. Fisik dan tubuh yang ringkih itu akhirnya ambruk tak mampu menahan derasnya serbuan penyakit budaya manusia Indonesia.

Kuncen kebudayaan itu kini telah menutup matanya selama-lamanya. Penjaga dan gawang kebudayaan Indonesia itu telah tiada. Entah berapa gol yang hendak ditembakkan ke gawang kebudayaan Indonesia. Bila kebudayaan Indonesia selama ini disebut Radar mengalami sakaratul maut, kita berharap kebudayaan Indonesia bisa lekas siuman.

Dalam nafas yang terengah-engah, dalam suntikan dan injeksi yang tak henti itulah kebudayaan Indonesia terseok-seok berjalan. Ia mencoba berdiri tegak meski sering tersungkur. Dalam situasi seperti itulah, Radar mencoba hidup dan tegak sebagai manusia Indonesia yang mencitai negerinya dan seluruh kekayaan budayanya.

Radar adalah manusia paripurna dalam kebudayan Indonesia. Sebagai pekerja teater perhatiannya pada teater Indonesia ia tuangkan dalam buku dan pentas teaternya. Sebagai sastrawan, ia telah menulis puisi dan cerpen yang menjadi pergulatannya dalam situasi keindonesiaan. Ia telah berbuat meski bagi sebagian orang tampak ‘kecil’ dalam skup kebudayaan Indonesia yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke.

Kerja dan karyanya senantiasa mengingatkan kita bahwa ada yang masih perlu ditambal dan disulam dalam cara kita memperlakukan kebudayaan. Kebudayaan kita masih jauh panggang dari api, masih butuh perjuangan yang panjang.

, , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan