dari-balik-penjara

Dari Dalam Penjara

Bunyi senapan terdengar begitu keras dari dalam sebuah hutan. Sepertinya, John belum beruntung. Tembakannya selalu gagal mengenai target. Peluru sudah hampir habis. Hanya tersisa empat butir. Semuanya sudah terisi dalam senapan. Dan sialnya, hari sudah mulai sore. Tidak mungkin terus berburu hingga malam hari.  Meski begitu, John masih betah berada di dalam hutan. Merunduk dan bersembunyi di balik pepohonan untuk mengamati sarang targetnya dari jauh, sambil bersiap-siap melepas tembakan saat targetnya muncul.

 “Kalau sejam lagi tak muncul, aku akan pulang.” Bisiknya dalam batin sambil  menyeka keringat di wajahnya. Ia menahan diri untuk tidak cepat berputus asa. Mengingat dirinya sudah hampir seharian berada di dalam hutan, John merasa sia-sia jika pulang tanpa membawa hasil. Jadilah dirinya memutuskan untuk mengamati sejam lagi sarang targetnya.

Setelah sepuluh menit berlalu, target John tak juga menampakkan diri. John masih terus bersabar. Namun, setelah dua puluh menit menunggu, John mulai gelisah. Semangat berburunya perlahan-lahan memudar, tetapi ia belum bisa membuat keputusan, apakah terus melanjutkan berburu atau tidak.

“Mungkin hari ini bukan hari keberuntunganku.” Kembali John berbisik dalam batin. 

Ternyata, setelah tiga puluh menit berlalu dan bahkan hampir sejam, semak-belukar yang menjadi sarang targetnya mulai terlihat seperti dihembus angin. Namun, dari sana terdengar bunyi berisik yang jelas bukan ditimbulkan oleh angin, tetapi bunyi langkah. Ada sesuatu yang sedang berusaha mencari jalan keluar dari balik semak belukar itu.

John menunduk di bawah pepohonan sambil terus mengamati. Dari balik semak belukar itu, keluar seekor rusa yang mungkin sedang mencari makan. Namun, John masih belum mengangkat senapannya. Ia tetap diam tak bergerak. Ia hanya berusaha tidak menghasilkan bunyi sedikitpun dari balik pepohonan yang menjadi tempat dirinya mengamati sarang rusa itu. Sedikit saja ia bergerak dan menghasilkan bunyi, rusa itu akan kabur.

Rusa itu terus melangkah kesana-kemari. Bergerak kekiri-kekanan, dan kadang pula bergerak mendekat ke arah persembunyian John, lalu menjauh ke arah yang lain.

Sambil terus bersabar untuk tidak mengangkat senapannya, John menunggu saat yang tepat untuk membidik rusa itu. Baginya, saat yang tepat itu adalah saat dimana rusa itu berhenti melangkah kesana-kemari.

Saat yang tepat itupun tiba. John mengangkat senapannya, berusaha bernafas dengan tenang, membidik ke arah rusa itu, dan menarik picu senapannya.

Bunyi senapan kembali terdengar. John sudah melesatkan peluru ke arah buruannya. Sayang, bidikan John tidak akurat. Rusa yang dibidiknya lolos dari tembakan. Lagi-lagi, tembakan John meleset untuk yang kesekian kalinya.  Ia mulai kecewa dan merasa bahwa dirinya benar-benar belum beruntung. Semangat berburunya  pun mulai hilang. Dan dengan terpaksa, John memutuskan untuk pulang tanpa membawa hasil. Ia memutuskan akan kembali ke hutan itu di lain hari.

“Memang benar, bukan hari keberuntunganku.” Kata John pada dirinya sendiri dengan penuh kecewa.

 -***-

John mempercepat langkahnya agar bisa secepat mungkin keluar dari dalam hutan. Ia menyusuri semak-belukar, menginjak ranting-ranting pohon yang telah kering, dan menghindari berbagai pepohonan besar yang menjulang tinggi. Dirinya sudah tidak betah berada di hutan itu. Bukan hanya karena dia tidak mendapatkan hasil buruan, tetapi juga dikarenakan serangan nyamuk yang membuat wajah dan lehernya berbintik merah.

Semakin cepat John melangkah, semakin cepat pula dirinya merasa lelah. Begitu mendekati pertengahan hutan, ia berhenti sebentar untuk beristirahat melepas lelahnya. Ia menurunkan ransel dan senapannya, kemudian meneguk air dari botol minuman yang sudah dia persiapkan untuk berburu.

Merasa lelahnya sudah berkurang, John kembali mengangkat ransel dan senapannya untuk melanjutkan perjalanan keluar dari hutan. Namun, entah mengapa, saat dirinya hendak meninggalkan tempat berisitirahatnya, ia melihat semak belukar di depannya bergerak seperti ditiup angin, dan terdengar bunyi berisik yang menandakan ada sesuatu dibalik semak-belukar itu. 

“Wah, itu seekor rusa,” Bisik John dalam batin dengan penuh keyakinan.

Tanpa menunggu sasarannya menampakkan diri,  John sudah mempersiapakan tembakannya. Ia yakin, di balik semak belukar itu pasti ada seekor rusa. Ia pun kembali terdiam, menunduk, mengangkat senapannya yang masih tersisa tiga peluru, dan membidik ke arah semak-belukar itu.

Begitu bidikan pas, John melepas tembakannya, dan peluru melesat secepat bunyi senapannya. Darah pun terpancar menodai semak belukar itu. John yakin, dia telah menembak seekor rusa. Dengan penuh kegembiraan, dia  berlari ke arah semak-belukar itu, dan menerobos masuk ke dalamnya untuk melihat hasil buruannya. Namun, saat dia melihat buruannya yang tergeletak bersimbah darah, kegembiraan John pun sirna. Tak ada lagi rasa senang dan tawa. Ia membalik buruan yang ditembaknya itu, dilihatnya hidung, kepala, telinga, dan mata buruannya. John menjadi takut dan panik. Sungguh diluar dugaannya, sasaran yang dibidiknya bukanlah seekor rusa, tetapi seorang manusia. John telah menembak seorang kakek tua pencari kayu bakar. John telah membunuh kakek tua pencari kayu bakar itu.

***

“Jadi, Ayah tak bermaksud membunuh kakek pencari kayu bakar itu?” Tanya Si bungsu—anak kedua John—saat mendengar  ceritera ayahnya.

“Ya, ayah pikir itu seekor rusa.” Jawab John sambil terus berlinang air mata.

“Mengapa Ayah tidak pernah ceritera sebelumnya?”

“Tak ada yang percaya padaku,Nak. Kau percaya?”

“Tentu, aku percaya pada  Ayah.” Jawab si Bungsu meyakinkan ayahnya.

“ Mengapa Ibu dan kakak tidak pernah menceriterakan padaku.”  Kembali si Bungsu bertanya sambil memandangi wajah Ayahnya.

“Mereka ingin aku sendiri yang memberitahukan padamu, nak.” Jawab John singkat.

Sekarang, John dan anak bungsunya hanya terdiam. Mungkin, mereka berdua merasa sudah tak adalagi yang perlu dibicarakan. Mereka hanya saling memandang dan menunggu salah satu diantara mereka akan kembali memulai pembicaraan.

“Maaf pak, waktu kunjungannya sudah habis.” Kata seorang sipir sambil membuka pintu ruangan tempat Si Bungsu bertemu John.

Mendengar pemberitahuan sipir, Si bungsu pun bersiap-siap untuk segera keluar dari ruangan kunjungan. Ia berdiri dari tempat duduknya, dan menyalami tangan kanan ayahnya sebagai tanda dirinya akan pamit pulang. Si Bungsu berjanji akan kembali berkunjung jika ada waktu. Ia pun beranjak pergi meninggalkan ruangan kunjungan tanpa menoleh ke arah ayahnya. Tak ada pertanyaan lanjutan yang ditanyakan si Bungsu. Ia merasa puas dengan jawaban yang diberikan ayahnya. Setidaknya, ia telah tahu mengapa ayahnya dituduh membunuh sehingga harus mendekam di penjara untuk waktu yang cukup lama.

John hanya memandangi Si-bungsu berjalan pergi meninggalkan dirinya. Dan tak lama kemudian, seperti biasa, John dikawal oleh para sipir yang membawanya menuju ruangan bertrali besi. Dari dalam ruangan bertrali besi itulah, John terus dihantui penyesalan setiap hari. Ia terus memikirkan, “Seandainya ia tidak memutuskan untuk berburu, mungkin ia tidak akan membunuh seorang kakek tua pencari kayu bakar.”

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan