tukang-ojek-online

Bukan Sekedar Tukang Ojek

“Eh, Nay! Lihat tuh Dody! Kalau diperhatikan cakep juga ya. Cuma penampilannya perlu diperbaiki sedikit…hanya sedikit.” Senyum Raya sumringah, ekspresi yang sudah biasa diperlihatkan apabila melihat cowok berwajah ganteng.

“Halah…itu mah penyakit lama. Kemarin Arya, kemarinnya lagi Andy, kemarinnya Nathan, sekarang Dody yang lo puja. Terus besok-besok jangan-jangan Pak Hamdan yang tukang parkir di depan itu yang bakal lo taksir.” Timpal Nayla ketus.

“Parah banget sih lo Nay, masak harus Pak Hamdan. Dia kan dah tua. Pantesnya jadi bapak gue.” Raya cemberut.

“Habisya gue bosan tiap hari yang lo omongin cuma cowok cakep. Laper banget sih mata lo lihat cowok bening dikit aja. Parahnya lagi sekarang yang lo keceng si Dody. Lo gak tahu apa kalau si Dody itu cuma tukang ojek. Level lo rendah banget sih!”

“Jangan suka menghina, Nay! Dody tuh anak yang cerdas. Justru gue salut sama dia. Dia itu cuma tukang ojek tapi bisa menembus kampus segede dan sekeren ini. Dia juga tergolong aktif di organisasi. Dan denger-denger dia itu seorang organisator yang baik dan berkharisma. Pokoknya gue kagum banget tuh ama Dody.”

“Stop! Pokoknya gue gak suka kalau lo terus-terusan muja tuh cowok!” Nayla terlihat marah.

“Kenapa sih lo? Lo punya masalah dengan Dody?”

‘Raya, sahabatku…Lo tahu kan kalau gue ini cewek paling keren di kampus. Cowok manapun pasti menghargai gue dan akan selalu takut ama gue. Tapi tuh si Dody yang cuma tukang ojek belagunya minta ampun. Kemarin, mobil gue gak sengaja menyentuh bagian belakang motor bututnya. Ya karena fikir gue gak sengaja, gue acuh aja. Tapi tuh si Dody malah ngejar gue dan menceramahi gue layaknya seorang ustadaz. Gue disuruh minta maaf. Ih, ogah banget! Lagian motornya gak kenapa-kenapa juga. Eh, dia malah bilang katanya dengan meminta maaf tidak akan membuat harga diri seseorang menjadi rendah. Bulshittt banget tuh kan?”

“Dody emang bener, Nay! Lo nya aja yang angkuh. Lo yang salah kan? Harusnya lo meminta maaf.”

“Apa sih Lo, Ray? Kok malah bela tukang ojek yang kumel itu. Ah, gue males jalan ama lo. Mending lo pulang sendiri aja!” Nayla terlihat kecewa. Dia pun pergi meninggalkan Raya. Raya berusaha mengejar, tapi Nayla telah lebih dulu berlalu dengan mobil mewahnya.

“ Ih dasar gadis sombong!” Gerutu Raya.

*****************************************************

Nayla terlihat kesal, dia menendang ban mobil dengan kaki kirinya.

“ Ada-ada aja nih. Haduh gimana nih?”

Nayla plungak-plinguk, niatnya mencari bantuan. Tapi tak satupun mobil atau  kendaraan lainnya yang mau menolong. Oh, iya! Dia baru ingat bahwa ada servis mobil keliling. Nayla merasa menemukan solusi dari masalahnya. Dia segera membuka layar hape-nya. Satu….dua….kontak dalam hape-nya ditelusuri. Hah, sialan! Nomor telepon servis mobil keliling tidak tersimpan. Nayla tepak jidat, padahal beberapa menit lagi dia harus segera ke kampus untuk ujian. Ya sudahlah menunggu taksi atau ojek online. Tapi sebelum berhasil memesan kendaraan online, tiba-iba seorang pengendara sepeda motor berhenti di depannya.

“ Mobilnya mogok?” Tanya si pengendara motor tanpa membuka helmnya.

“Owww…iya mas! Maaf , apa bisa bantu saya? Soalnya saya harus segera ke kampus untuk ujian.” Pinta Nayla sedikit malu-malu.

“ Kalau benerin mobil saya tidak bisa, tapi kalau mengantar ke kampus saya bisa. Non kan mau ujian jadi biar saya antar.”

Mendengar tawaran si pengemudi motor, Nayla senang bukan main. Saat ini dia memang sangat butuh bantuan. Lagi pula ni motor yang dibawa orang ini keren juga, moge gitu loh!

“Baiklah, terima kasih.” Tanpa basa-basi, Nayla yang sedang berlomba dengan waktu itu segera naik. Karena ngebut, Nayla terpaksa berpegangan pada pinggang si pengendara motor.

Nayla tiba di kampus beberapa menit sebelum ujian dimulai.

“Terima kasih ya, mas!” Ucap Nayla seraya membenahi uraian rambutnya yang sedikit berantakan terkena hempasan angin kencang saat naik motor tadi.

Si pengendara motor tidak menjawab. Dia hanya mengangguk. Nayla yang terburu-buru langsung membalikan badan. Tapi tak lama kemudian dia memutar kembali badannya ke arah si pengendara motor.

“Maaf, aku belum sempat tanya siapa nama mas? Apa mas juga kuliah di sini?” Tanya Nayla lembut. 

“Saya kuliah di sini, tepatnya di Fakultas Ekonomi.”

“Wah, kalau begitu kebetulan sekali. Perkenalkan saya Nayla. Saya anak HI [Hubungan Internasional]. Kalau boleh tahu, namanya siapa ya mas? 

Si ppengendara motor tidak menjawab, dia kemudian membuka helmnya. Dan DUARRRRRRR….Nayla seperti sedang terkena tembakan. Jantungnya hampir copot. Matanya terbelalak kaget. Nayla tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.

“ Kamu….Dody?! Ternyata kamu…”

“Ada apa, Nay? Apa salah jika aku menolongmu. Kejadian yang lalu sudah lupakan saja. Tidak baik saling mendendam.”

“Ah, sudah! Jangan ceramah lagi! Kamu menjebakku ya? Lagi pula itu motor….kemana motor jelekmu itu?”

“Kamu sampai tidak mengenaliku gara-gara motor yang keren ini bukan? Bahkan suaraku saja kamu lupa. Tapi wajar kamu kan jarang berkomunikasi denganku. Ini motor cuma titipan, titpan Tuhan.” Jelas Dody penuh ketenangan.

“Banyak alasan kamu! Paling itu motor punya temanmu atau bisa saja kamu menyewanya hanya demi terlihat keren.”

Dody tersenyum. Tak nampak gurat kebencian di wajahnya.

“Katanya sudah telat mau ujian. Sudah gih segera masuk!”

“Ah sudahlah gak usah sok perhatian!” Nayla pun pergi dengan wajah penuh kemarahan. “Ih..amit-amit berarti tadi gue megangin pinggangnya si tukang ojek? Ya ampunn…” Gerutu Nayla seraya bergidik jijik.

Waktu berjalan cepat. Ujian hari pertama pun telah usai. Semua mahasiswa berhamburan keluar. Beberapa diantaranya duduk berkelompok membahas soal-soal ujian yang dianggap sulit. Ada juga yang hanya duduk–duduk sambil mendengarkan musik lewat headphone. Katanya sebagai penetralisir otak yang mumet karena dipake berfikir keras saat mengerjakan soal. Dan Nayla, dia duduk sendiri di tangga kampus. Dia bingung memikirkan mobil mahalnya terparkir di jalanan yang sepi. Bagaimana kalau tiba-tiba mobil itu hilang dicuri pencuri profesional? Kalau itu terjadi, habislah riwayatnya. Bapak ibunya yang kerap mengajarinya kesederhanaan tak mungkin membelikan lagi kendaraan mewah untuk kedua kalinya. Nayla masih ingat bagaimana perjuangannya dulu saat merengek minta dibelikan mobil sport. Puluhan kali orangtuanya menolak dengan alasan bahwa Nayla tidak boleh berpamer-pamer harta. Tapi karena perjuangan Nayla yang gigih, untuk pertama dan terakhir kalinya orangtuanya mau juga membelikan mobil sport untuknya.

 “Nay…hey!” Tiba-tiba Raya memanggil Nayla dari bawah anak tangga.

“Lo ngapain ke sini, Ray? Ngagetin gue aja!”

“Udah lah..nggak usah ketus-ketus amat ama gue. Kok muka lo kusut amat. Lo pasti lagi patah hati ditolak si Adi. Itu lo…cowok idaman lo…” Raya menggoda Nayla yang terus cemberut.

“Sialan Lo! Siapa juga yang suka sama anak cungkring kayak dia. Ih ogah! Gue murung karena mobil kesayangan gue mogok. Dan sekarang tuh mobil menyendiri di tempat sepi. Gimana coba kalau ada yang nyuri. Mampus deh gue!”

“Makanya, lo jangan marah-marah ma gue! Mending lo sekarang ikut gue!” Raya menarik tangan Nayla. Dengan terpaksa dia pun berdiri dan menuruni anak-anak tangga hingga lantai dasar kampus.

“Ada apa sih, Ray?”

“Lo khawatir dengan mobil lo kan? Tuh lihat!” Tangan Raya menunjuk ke arah parkir yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Oh…ya ampun mobilku. Kok bisa ada di sini?” Nayla berlari dan langsung menciumi mobil sport kesayangannya. “Aduh..mobilku, jangan mogok lagi ya”

“Sudah…jangan kayak orang gila! Mobilmu lo dah bagus. Coba aja!”

Nayla pun mencoba menyalakan mobilnya, dan benar saja mesinnya sudah hidup.

“Lo senanag, Nay?”

“Iya, Ray! Tapi ngomong-ngomong ini semua lo yang lakuin? Lo bawa mobil gue ke bengkel?”

“Gue? Idih…najis bener sih bawa mobil lo kebengkel. Lo aja dari kemarin ketus mulu ma gue gara-gara gue muja-muji Dody terus. Lagian mana gue tahu mobil lo mogok…”

“Iya..ya..sorry! Gue ngaku salah deh. Habisnya sebel ma tuh si tukang ojek.”

“Mulai sekarang lo nggak usah sebel-sebel ma Dody.”

“Lo tau siapa orangnya yang dah rela benerin nih mobil sampai akhirnya ni mobil bisa sampai kampus sini? Ya, Dody lah orangnya.”

“Hah! Yang bener lo, Ray?” Nayla tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.

“Kalau lo gak percaya lo tanya aja orangnya langsung! Gue pergi dulu. “ Raya langsung ngiprit dari hadapan Nayla. Rupanya dia masih tidak bisa menerima kalau Nayla masih suka menjelek-jelekan Dody.

Nayla terpaku, memandangi mobilnya yang sudah sehat wal’afiat. Dia tak habis fikir kenapa Dody sebaik itu padanya. Padahal sikap Nayla kepada Dody begitu buruknya. Apa mungkin itu hanya taktik Dody saja untuk menarik perhatian Nayla si gadis paling cantik di kampus itu? Lagi pula, dari mana Dody punya duit buat bayarain servis mobil yang harganya mahal? Ah, paling-paling dia ngutang, begitu fikir Nayla.

Nayla gak mau ambil pusing memikirkan tentang Dody yang sudah berbaik hati. Dia segera memacu mobilnya meninggalkan kampus. Di tengah perjalanan dia mampir di sebuah mini market untuk membeli minuman segar. Nayla sangat kehausan. Dia memarkir mobilnya di sebelah kiri. Dan ketika hendak masuk di depan pintu secara tak sengaja dia berpapasan dengan orang berjaket ojek online.

“Kamu, Dody?” Tak disangka, Nayla bertemu dengan Dody kembali.

“Iya, Nay! Belanja ya?”

“Oh anu…aku mau beli minum saja. Habis dari kampus kamu langsung ngojek ya, ni dah ganti stelan?” Pandangan Nayla sinis menelusuri penampilan Dody yang tukang ojek banget. “O..iya, makasih ya udah mau benerin mobilku. Biar aku ganti deh berapa habisnya buat nyervis mobilku itu?” Lanjut Nayla seraya membuka dompetnya.

“Tidak usah, Nay! Lagian yang benerin mobil kamu tuh temenku sendiri. Jadinya gratis.” Ucap Dody seraya tersenyum.

“O…jadi pake jasa temen ni…ya lagian juga kalu bayar biayanya mahal banget. Tapi ya udah bilang makasih aja buat temennya itu.”

Dody mengangguk. Dia segera naik motor bututnya dengan menenteng banyak minuman segar dan banyak cemilan.

Nayla yang diam-diam terus memperhatikan Dody merasa penasaran, buat apa si tukang ojek itu memborong makanan dan minuman sebanyak itu? Pelan-pelan timbul rasa ingin tahunya. Lebih dalam lagi, Nayla pun merasa penasaran tentang kehidupan Dody di luar kampus dan di luar dari pekerjaannya sebagai tukang ojek.

Mobil Nayla terus membuntuti motor butut Dody. Dan sampailah di sebuah lorong kecil. Nayla terpaksa memarkir mobilnya di pinggir jalan. Dengan berat hati dia pun harus mengendap-endap mengikuti langkah Dody yang terus berjalan di gang sempit. Akhirnya, Nayla melihat Dody memasuki suatu wilayah lapangan kecil yang di sana terdapat sebuah bangunan sederhana dari kayu dan bambu, sebut saja itu saung. Di saung itu, Dody disambut meriah oleh anak-anak yang terlihat bersuka cita.

“Kak Dody datang…!” Teriak salah satu anak seraya memeluk Dody. Tak ayal, anak-anak yang lain pun langsung melakukan hal yang sama.

“Nah, sekarang kalian duduk ya! Kak Dody bawakan minuman dan makanan enak buat kalian.” Terlihat Dody mengeluarkan seluruh minuman dan makanan yang dibelinya di mini market.

Anak-anak langsung berhamburan memburu makanan yang dibawa Dody. Beberapa di antaranya jingkrak-jingkrak kegirangan karena mendapatkan makanan dan minuman favoritnya. Dody terlihat begitu gembira, dia tertawa menyaksikan keriangan anak-anak.

“Sekarang kalian duduk dan kita mulai belajar. Kita mulai mengenal kata waktu. Jadi, kalian akan diajari bagaimana cara menanyakan waktu atau jam dalam Bahasa Inggris. Sudah siap?”

“Siaaaaaaaaaaaaaap!” Sahut anak-anak serentak.

Nayla menarik nafas. Kali ini dia melihat sisi lain dari Dody. Benar saja, Dody memang orang baik. Kebaikannya tidak hanya sebagai pencitraan belaka untuk menarik perhatiannya, tapi memang itu adalah pribadi yang sesungguhnya. Jauh dari sangkanya, sekalipun Dody hanya sebagai tukang ojek, tapi dia bisa bemanfaat buat orang lain. Di sini, di tempat kumuh ini, tempat di mana Nayla berdiri mengintip kegiatan Dody, Nayla melihat sebuah ketulusan yang dipancarkan dari seorang manusia sederhana yang tidak hanya cerdik pandai tapi juga memang benar-benar berkharisma. Lihat saja bagaimana Dody bisa mengajari anak-anak pemulung berbahasa Inggris secara gratis. Dan setelahnya Nayla melihat beberapa orang tua menghampirinya dan minta diajarinya mengaji iqro. Sungguh sebuah pemandangan yang kemudian meluluhkan keangkuhan Nayla. Nayla merasa diri tak berguna, selama ini dia hanya berpongah ria mengandalkan harta orangtua. Mungkin benar kata Raya bahwa mulai sekarang dia harus berhenti membenci dan menghina Dody.

Malam-malam berlalu. Entah mengapa bayang-bayang kebaikan Dody selalu mengganggu fikiran Nayla jika hendak tidur. Bahkan terkadang terbawa hingga mimpi. Nayla yang diam-diam mengambil foto Dody dan menyimpannya kini mengakui kalau Dody memang tampan. Sebuah ketampanan yang tidak hanya hadir secara dhohiriah tapi juga secara bathiniah. Nayla mulai mengagumi Dody, dan kemudian tumbuh rasa rindu. Nayla selalu ingin cepat kembali ke kampus, mengintai ruang kuliahnya, atau mengintip ruang oraganisasinya. Nayla selalu bahagia ketika melihat Dody berbicara lantang di hadapan teman-teman seorganisasinya. Dia benar-benar penuh wibawa. Terkadang Nayla berniat gabung di organisasi kemahasiswaan yang digawangi Dody, tapi niat itu urung direalisasikan karena terganjal rasa malu. Rupa-rupanya Nayla tak ingin rasa jatuh cintaya pada Dody diketahui siapa pun, apalagi oleh Raya. Jika Raya tahu akan hal itu, habislah sudah dia kena ejekan Raya yang super ganas.

“Bu, mie goreng dan jus jeruk satu ya.” Nayla memesan makanan favoritnya di kantin kampus. Dia duduk di kursi paling ujung. Dan dari kursi itu Nayla melihat Dody sedang duduk sendiri di kursi paling depan. Hati Nayla senang bukan main. Dari jauh dia terus memperhatikan Dody. Semakin diperhatikan ketampanan Dody semakin bersinar. Nayla benar-benar jatuh cinta. Rasanya dia ingin mengungkapkannya, tapi dengan cara apa? Ah, tahu! Nayla punya cara untuk mendekati Dody. Nayla akan datang ke meja Dody dan meminta maaf atas semua salahnya. Itu cara yang paling jitu untuk lebih dekat dengan Dody. Paling-paling nanti Dody mempersilahkan Nayla untuk duduk bareng di meja itu dan mungkin…akan makan bersama. Nayla tersenyum kecil. Dia pun bangkit dan segera melangkah ke arah Dody. Namun sebelum sampai di meja Dody, tiba-tiba Nayla dikejutkan oleh kedatangan Raya. Dan ternyata…Raya tidak datang untuk menghampirinya, namun dia datang menemui Dody.

“Sudah pesan makanan?” Terdengar Raya memulai percakapan.

“Belum, kan nunggu kamu.” Jawab Dody sedikit pelan.

“O..ya nanti kita ke toko buku dulu ya.”

Dody terlihat mengangguk. Selebihnya percakapan Raya dan Dody  terlihat sangat akrab. Tidak ada kecanggungan di antara mereka. Bahkan sesekali terdengar gelak tawa. Nayla yang berdiri di belakang kursi mereka dibuat panas bukan kepalang. Tidak disangka ternyata Raya telah lebih dulu dekat dengan Dody. Nayla tak kuasa menahan rasa cemburunya. Dia segera membalikan badan dan berlari sekencangnya hingga tak disadarinya seorang mahasiswa lain yang sedang menenteng semangkuk soto ditabraknya.

PRAKKKK…suara piring pecah.

“Oh, ma….maaf!” Ucap Nayla gelagapan.

“Ah. Hati-hati donk! Baju saya kotor ni…”

‘ Iya..aku…aku minta maaf!”

Nayla yang sedang terbakar rasa cemburu segera menghambur keluar, dia tak memperdulikan pecahan piring yang harusnya dia bersihkan sendiri.

“Ih, dasar nggak bertanggung jawab. Udah nabrak malah kabur nggak mau bersihin!” Gerutu mahasiswa yang ditabrak itu.

Raya yang melihat kejadian itu langsung mengejar Nayla ke luar kantin.

“Nay, ada apa lo kok kayak yang panik gitu?” Tanya Raya seraya memegangi tangan Nayla.

“Nggak kok, Ray! Aku cuma nggak enak badan pengen cepat pulang.”

“Gue antar ya, Ray!”

“Nggak usah gue dah baikan kok. Eh, tapi ngomong-ngomong kok lo bisa makan bareng ma si Dody sih?”

“O..itu..ya kan gue udah menjadi anggotanya organisasi yang dipimpin Dody. Baru beberapa hari saja sih. Terus gue mau kasih kabar ni..kalau sekarang gue dah jadian ma Dody.” Terang Raya senyum-senyum kecil.

DUAAARRRRRR…..Nayla yang sedang cemburu semakin cemburu saja mendengar perkataan Raya. Kini dia benar-benar sedang dihantam petir di siang bolong. Kali ini Nayla kalah saing dari Raya, sungguh suatu keadaan yang memukul telak reputasinya sebagai gadis paling cantik dan paling dipuja di kampus.

“Lo nembak dia, Ray?” Nayla berusaha tenang, dia berusaha menutupi kecemburuannya.

“Iya sih aku yang nembak. Tapi Dody mau kok. Dia bilang asal cewek itu tulus dan tidak sombong, dia mau menjalaninya. Kalau cantik mah itu nomor sekian.”

Nayla terdiam. Raya sepertinya sedang melempar sindiran untuknya.

“Ya sudah, selamat ya! Kalau gue sih nggak level ma tukang ojek, ya minimal dia harus seorang polisi atau pilot gitu!” Dengan terpaksa Nayla harus kembali bersikap angkuh di hadapan Raya ketimbang membiarkan harga dirinya babak belur. “Gue pergi dulu!” Lanjutnya kemudian berlalu.

Mobil Nayla melaju kencang. Emosinya tingkat tinggi. Dalam perjalanan Nayla menangis. Tak disangka lelaki yang dipujanya malah jatuh kepelukan sahabatnya sendiri. Benar kata pepatah, jangan terlalu membenci nanti ujung-ujungnya malah menjadi cinta, bahkan cinta yang luar baisa. Dan kini, cinta luar biasa Nayla untuk Dody tak terbalas. Dia kalah start oleh Raya. Fikiran Nayla melayang-layang. Nayla lupa bahwa dia sedang berada di belakang kemudi. Akhirnya, BRAKKKK………sebuah pohon di pinggir jalan dia hantam. Nayla segera sadar dengan apa yang terjadi. Dia mengamati seluruh tubuhnya, ternyata masih baik-baik saja. Nayla cepat keluar. Tampaklah bagian depan mobil mewahnya rusak berat. Sekumpulan warga yang mengetahui kejadian itu langsung berhamburan mendekat.

“Bawa ke bengkel dekat sini aja Mbak mobilnya!” Saran salah seorang warga.

“Bengkel besar kan Pak?”

“Oh, besar banget, Mbak! Yang nyervis juga mobil-mobil sport kayak gini. Dijamin terpercaya.” Ucap warga tersebut seraya mengacungkan jempolnya.

“Iya, makasih infonya.”

Mobil Nayla segera diderek ke bengkel. Nayla merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tidak hati-hati, sampe-sampe mobil kesayangannya ringsek tak berbentuk. Tapi dia masih bisa bersyukur karena tak  sedikitpun terdapat luka di tubuhnya.

“Wah, ni mobil yang tempo lalu pernah kita servis kan? Yang mogok di jalan itu.” Celetuk seorang montir kepada montir lainnya.

“Bener ni..plat nomornya aja sama. Ini punya Mbak?” Tanya montir yang memiliki perawakan kurus tinggi.

“Memang mas tahu ya mobil saya? Pernah diservis di sini?”

“Ya kan yang nyuruh kita buat nyervis mobil ini Pak Dody. Katanya ini mobil temennya yang mogok di jalan.” Terang montir tersebut.

“Bentar..bentar.. Pak Dody? Maksudnya?” Nayla masih belum faham dengan maksud ucapan si montir.

“Ya Pak Dody, bos kita. Tuh orangnya!” Telunjuk montir itu mengarah ke sebuah foto yang berada di ujung ruangan bengkel tersebut.

“Hah, Dody?” Nayla tak percaya.

“Itu temen mbak kan?”

“Tapi dia…tu..tukang ojek…”

“Wah..wah..ternyata Mbak juga kena tipu ya. Pak Dody itu bukan tukang ojek. Tapi dia pemilik banyak perusahaan yang diwariskan orangtuanya untuk dia. Salah satunya ya bengkel modern ini. Dia itu memang sangat sederhana. Dia tak ingin terlihat kaya di kampus. Makanya dia pura-pura jadi tukang ojek. Tujuan lainnya adalah untuk mencari wanita yang benar-benar ikhlas mencintainya bukan karena harta. Sekarang kan banyak cewek yang gila harta. Pak Dody nggak suka itu.”

Mendengar penjelasan si montir Nayla pun terdiam. Sekarang jelaslah bahwa siapa yang jadi juara, bukan dia yang selalu angkuh melainkan Raya si gadis polos yang selalu jujur dengan hatinya. Nayla sadar betul bahwa selama berteman dengan Raya, tak pernah sekalipun gadis itu bersikap sombong atau merendahkan orang lain. Sebuah tabi’at yang kontras dengan kepribadiannya.

“Selamat Raya, sekarang kau benar-benar mendapatkan seorang raja yang bijaksana dan berhati mulia.” Hati Nayla berbisik. Untuk kedua kalinya, telaga di mata bening Nayla tumpah. 

BACA JUGA:

, ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan