cinta-lama-bersemi-kembali

Cinta Lama

Kutenteng sebuah kamera saku yang sengaja kupinjam dari seorang tetangga. Bukan ingin bergaya, hanya saja ini adalah hari spesial. Ini hari adalah hari terakhir aku mengakhiri perjalanan sebagai seorang pengguna seragam putih abu. Setelah hari ini perjalanan baru sebagai manusia dewasa dimulai: mungkin ada yang kuliah, bekerja, atau bahkan mengawali hidupnya sebagai seorang istri. Dan hari ini aku tahu bahwa aku akan kehilangan dia. Ya, beberapa orang berkata bahwa dia akan pergi jauh melintasi laut. Dia akan mengikuti ayah bundanya merantau di tanah Sumatera. Maka dengan kamera saku ini, diam-diam akan kuambil gambarnya. Janjiku adalah dengan menyimpan gambarnya baik-baik hingga aku benar-benar tahu apakah aku dan dia berjodoh atau tidak. Cinta ini memang tak sampai, hingga berbelas tahun kemudian cinta ini memang tak pernah sampai.

            Dawai-dawai kasih yang kuuntai saat remaja untuknya memang sejati adanya. Meski Tuhan  takdirkan aku tercipta dari tulang rusuk selain tulang rusuknya, nyatanya tidak mudah mengenyahkan sesuatu yang seolah telah menjadi bagian dari darahku, yang mengalir dalam setiap nadiku, dan selalu menjadi bagian dari setip desah nafasku. Aku tetap cinta, meski cinta ini hanya sebuah rahasia.  Mungkin hatiku sedikit berdusta kepada ia yang sekarang kusebut suami, karena nyatanya jauh di hati kecilku selalu ada cinta saat remaja.

            Dunia ini sempit, saat di keramaian di sebuah kota kecil di bagian Barat Pulau Jawa secara tak sengaja motor yang kukendarai menyerempet seorang anak kecil yang bermain di gang sempit sebuah pemukiman padat penduduk. Sejak delapan tahun lalu aku memang perantau di perkampungan tersebut.

            “Kamu tidak apa-apa, dek?” Tanyaku pada anak kecil itu. Anak itu menggeleng. Tapi aku tahu bahwa dia merasakan sakit di bagian kaki karena sempat terjatuh. Sebagai bukti rasa tanggung jawab akupun mengantarkan dia pulang ke rumahnya. Niatku adalah jika sudah bertemu orangtuanya maka akan kuajak dia periksa ke dokter dan kalau tidak mau akan kuberikan sejumlah uang untuk biaya perawatan. Barangkali anak itu benar-benar terluka, meskipun tidak nampak luka dari luar.

            “Ini rumahnya, kak!” Kata anak itu, yang kemudian kuketahui dia memiliki nama Rafa Syahputera.

            Aku pun mengetuk pintu rumah Rafa. Rumah mungil itu sangat asri dengan beberapa hiasan bunga dan sedikit pepohonan hijau di samping kirinya.

            “Ayah ibumu ada di rumah, kok belum dibuka pintunya?”

            “Ibu spertinya sedang ke tempat paman di selatan sana, tapi ayah sepertinya ketiduran karena seharian pergi untuk melamar pekerjaan.”

            “Melamar pekerjaan? Memang sebelumnya ayahmu tidak bekerja?”

            “Ayah dulu bekerja di Medan. Karena kami baru pindah ke sini satu minggu yang lalu terpaksa ayah mencari pekerjaan baru di sini.”

Sebab sekian ketukan tidak ada yang merespon, akhirnya Rafa masuk ke dalam rumah. Dia memanggil ayahnya. Selang beberapa detik ayahnya muncul di hadapanku. Untuk beberapa saat aku tidak menyadari apa yang kulihat. Hingga pada satu titik otakku memutar kembali tentang sebuah wajah yang kukenal dulu. Ya, kali ini garis hidupku seolah berada pada alur sebuah sinetron yang sudah dapat ditebak endingnya, di mana pemeran utama akan selalu bertemu kembali dengan kekasih sejatinya sekalipun terpisah jauh, dan berakhir penuh suka cita. Hanya saja untukku tidak demikian. Sejuta getir terasa saat perbincangan dengan Ayahnya Rafa berakhir.

            “Apa aku tidak salah lihat, kamu Hamid kan, teman SMA ku?” Tanyaku ingin yakin.

Ayahnya Rafa mengangguk. Membenarkan.

            “Aku kira hanya aku yang mengingat wajahmu, Ayu. Kukira kau tak mengenalku.” Hamid tersenyum, senyum yang sama seperti dulu.

            “Bagaimana bisa aku lupa. Kamu adalah temanku yang.. paling kuingat” Jawabku sedikit kaku.

            “Bagaimana ceritanya bisa datang ke sini bersama Rafa?”                  

            “Maafkan aku, tadi aku menyerempetnya tak sengaja. Apa Rafa anakmu?” Tanyaku ingin lebih pasti.

            “Bukan!” Jawab Hamid pendek. Sebuah jawaban yang sejujurnya membuatku bahagia barangkali saja Hamid memang belum beranak istri, tetapi sekaligus membuatku kaget. Bagaimana bisa Rafa mengakui bahwa Hamid adalah ayahnya. Aku ingin pasti, jadi biarlah kutanyakan lebih jauh padanya.

            “Lalu, siapa Rafa?”

            “Rafa adalah anaknya Annisa. Aku mencintai Rafa seperti aku mencintai ibunya. Annisa adalah istriku.”

Berat nafas ini kuhembuskan. Pertemuan ini serupa busur panah yang menikam jantungku. Jantung yang baru saja berdebar kencang penuh mesra karena bersua rupa dengan cinta lama. Meski berpayah-payah, akhirnya aku harus menyadari kembali akan takdirku, bahwa sepatutnya cinta ini hanya tumbuh untuk ia yang telah menjadi jodohku…

BACA JUGA:

, ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan