pagi-ku-hilang-tembang-cinta-agata

Pagi Ku

 

Tepat pukul 03:00 pagi aku terbangun dari tidurku. Mimpi buruk yang selalu saja menganggu tidurku, hal ini menjadi alasan kenapa aku terbangun pada jam-jam yang pada umumnya orang-orang sedang tertidur pulas.

Sudah tiga hari ini aku terjaga sampai jam 12 malam kemudian terlelap sebentar dan kemudian kembali terbangun lagi ketika  jarum jam menunjukkan pukul 03:00 pagi.

Akmal kembali datang ke hidupku. Satu minggu yang lalu ia datang ke cafeku. Setelah sekian lama ia meninggalkanku dan memilih menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Ia datang dengan permintaan maaf atas kesalahannya yang telah membuat aku terluka.

Bukan maksud untuk tidak memaafkan kesalahannya, hanya saja aku lebih memilih untuk menganggap semua yang terjadi di masa lampau itu tidak pernah terjadi. Akan lebih baik juga kalau ia tidak datang kehidupku dan mengganggu hidupku yang baru.

Namun peristiwa masa lalu itu tiba-tiba muncul lagi entah dengan alasan apa ia memenuhi seisi otakku. Sudah ku coba untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan di cafe, tapi peristiwa itu kembali muncul lagi dan terbawa sampai ke alam mimpiku.

Peristiwa-peristiwa itu seperti arwah penasaran yang bergentayangan dan menghantui orang-orang, kemudian memberi pilihan pada orang yang dihantuinya untuk memilh antara hidup atau mati. Aku seperti orang yang jiwanya sedang terganggu. Yang bingung harus diapakan hidupnya agar kembali seperti biasanya. Bukankah sudah hampir 3 tahun ini aku baik-baik saja tanpanya ?

Setelah peristiwa itu, setelah semua hancur hanya karena sesuatu alasan yang sama sekali tak bisa diterima oleh otakku. Lalu kenapa tiba-tiba kau hadir lagi, menguasai pikiranku, menganggu hidupku ? Belum puaskah atas tindakanmu yang membuat aku terluka ? Bukankah pilihan orang tuamu adalah yang terbaik untukmu ? Bukankah ia lebih baik dariku ? Hingga kau merelakan cintamu hanya untuk harta dan pangkatmu itu ? Kau itu pengecut. Benar-benar pengecut.

Ah, sudahlah. Aku lelah sekali, aku ingin tidur.

Aku kemudian memejamkan mataku, berusaha untuk kembali tidur karena aku harus memiliki tenaga ekstra untuk kembali bekerja besok pagi.

Aku melihat sekitarku, semua berubah menjadi gelap, tapi diujung kegelapan itu ada cahaya. Aku berlari menuju cahaya itu. Semakin aku mendekat kearah cahaya itu semakin cahaya itu menjauh dariku. Aku terus berlari mengejarnya, aku terus berlari tapi ketika aku menengok kebelakang ada cahaya yang tiba-tiba datang menghampiri. Aku berkedip, namun setelah mataku terbuka aku mendapati pintu berwarna coklat di depanku. Aku membuka pintu itu, menulusuri ruangan yang ada dibalik pintu.

Ada sebuah tirai putih di ruangan itu. Aku mendekat lalu membuka tirai itu. Air mataku mulai bercucuran membasahi pipiku, tubuhku tiba-tiba melemas dan sontak saja aku langsung terjatuh ke lantai. Aku tak percaya atas apa yang baru kulihat di depan mataku ini.

Aku mencoba berdiri dengan sekuat tenagaku sambil memegang sisi dinding yang ada di sebelahku sebagai penopang tubuh. Aku ingin memastikan. Aku kemudian menghampiri sosok yang baru saja kulihat tadi.

Tubuhku kembali melemas, lututku bergetar, semua badanku tiba-tiba saja tak bisa kugerakkan. Aku seperti robot, kaku.

Aku kembali menguatkan tubuhku, berjalan mendekat sosok yang ada di bangsal itu. Sesosok pria yang gagah sedang berbaring lemah, seluruh badannya sudah kaku, wajahnya sangat pucat, bibirnya berwarna biru, dan tangannya terlipat menyilang. Aku terisak melihatnya. Air mataku semakin mengalir deras membasahi pipiku.

Dengan badan yang tak lagi memiliki daya, aku menggenggam tangannya erat, mencium punggung tangannya. Tangannya terasa sangat dingin seperti es, tapi aku tak peduli. Ini terakhir kali aku bisa menggenggam tangannya, karena esok aku tak akan melihatnya lagi.

Tak lama suara kaki orang berjalan menghampiriku, aku berbalik mendapatkan sesosok wanita paruh baya mendekat ke arah aku berada lalu merangkulku pelan. Ada kehangatan dipelukannya.

“Sayang, relakanlah ia, ia sudah tenang di sana. Tuhan pasti memberikan tempat terbaik untuknya di surga. Sudah sayang, jangan menangis lagi.” Kata wanita itu.

“Ibu, aku mencintainya ibu, kenapa dia pergi meninggalkanku ibu ?” Tangisku makin menjadi-jadi.

Aku melepas rangkulan ibuku, kemudian berbalik arah untuk merangkul kekasihku itu.

ADI…ADI… bangun sayang, aku ada di sini, bangunlah sayang. ADI…ADI

Aku terbangun dari tidurku. Mengusap wajahku yang basah dengan air mataku. Hatiku tak karuan rasanya, khawatir, cemas, dan gelisah bergabung menjadi satu.

Aku bergegas bangun dari tempat tidurku, mengambil handphone yang ada di meja kosmetikku. Aku akan segera menelpon Adi atau mengirim ia pesan untuk menanyakan keadaannya, tapi di layar handphoneku ada notif panggilan tak terjawab dari ayah Adi 10 kali. Hatiku semakin menjadi-jadi rasanya. Aku segera menelphone kembali ayah Adi.

“H-hallo om a-ada apa om?” Tanyaku sambil gemetaran.

“Iya Nisa, Nisa bisa datang ke rumah sakit sekarang ?” Ayah Adi kembali bertanya.

“Bisa om, tapi sebelumnya ada apa ya? Siapa yang sakit om ? Adi ? Adi baik-baik saja kan om ?”

“Nanti om jelaskan setelah kamu sampai.”

“Baik om. Nisa segera kesana”

“Iya Nisa, om tunggu ya”

Aku langsung menutup telefonku.

Dengan berlari secepat kilat aku masuk ke kamar mandi untuk cuci muka. Aku tidak bisa mandi lagi, sekarang waktu sangat berharga bagiku.

Setelah selesai aku mencuci muka, aku langsung bergegas ganti baju, tanpa ada riasan wajah  satupun yang tertempel di wajahku aku langsung mengambil tas ranselku dan bergegas keluar dari apartemenku.

Taxi yang sudah kupesan sebelumnya telah terparkir di depan apartemen. Aku berlari terburu-buru mengampiri taxi itu.  Aku terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan orang terdekatku khususnya Adi.

“Pak tolong antar saya ke rumah sakit secepatnya di Jalan Melati No.2.” Wajah ku sangat pucat bahkan tanganku juga ikut mendingin seperti es. Kepanikan ini tak bisa membuat ku tenang.

“Pak tolong lebih cepat!” Perintah ku.

Supir taxi itu pun menambah kecepatan laju taxinya. Sudah 45 menit berlalu dan akhirnya aku sampai di depan rumah sakit itu.

Aku langsung memberi uang sewaan taxi yang sudah aku persiapkan sedari tadi di dalam taxi.

“Ini, Pak.” Aku membayar uang sewaan itu dan keluar untuk segera berlari masuk ke rumah sakit.

“Terimakasih non.”

Aku langsung berbalik dan memulai lariku. Aku berlari dalam kepanikan, tanpa aku sadari aku hampir saja menabrak adik kecil yang bermain di depanku. Rambutku yang sedari tadi tidak aku ikat makin berantakan karena lariku.

Langkah ku terhenti ketika aku teringat kalau aku tak tau ruangan apa yang akan ku tuju. Aku mengambil ponsel di dalam tasku. Tanganku terhenti untuk mengambil ponsel di dalam tas, aku melihat sosok Alia adik Adi berjalan menunduk dengan air matanya yang bercucuran deras.

Kakiku mulai berjalan menghampiri adik kecil Adi itu. Wajahnya yang putih bersih itu memerah seperti buah tomat, tangisannya begitu menyayat hati bagi siapapun yang melihatnya.

“Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?” Tanyaku sambil memeluknya.

“Kak Nisa.” Tangisan itu semakin menjadi-jadi.

Aku menghapus air matanya. “Ada apa Al, semua baik-baik saja kan ?” Tanyaku lagi. Kali ini badanku mulai bergemetaran menyaksikan Alia menangis di depanku.

Cukup lama aku menunggu jawaban dari Alia.

“Kak Adi meninggal Kak.”

Mataku mulai meredup pelan.

Bruukkkk,, aku langsung pingsan setelah mendengar jawaban dari Alia.

Pagiku.

Kini semuanya hancur. Aku kehilanganmu. Sosok pria tangguh yang mencintaiku.

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan