I Remember You

Ketika tangannya terulur… aku hanya diam. Dia menarik kembali tangannya lalu menampakkan cengirannya. Aku mengangkat alis, heran. Dia melangkah mundur. Tiba-tiba dadaku sesak tanpa sebab.

“Padahal kau hanya perlu menggapai tanganku saja, Monika.”

Ada apa ini? Kenapa sakit sekali?

***

Setelah membereskan buku yang berserakan akibat pelajaran yang baru saja berakhir, aku pun menoleh ke luar jendela kelas. Ternyata ada untungnya juga aku duduk di dekat jendela. Ah, aku ingat sesuatu, kalau dipikir-pikir, ini sudah dua minggu semenjak aku pindah ke sekolah ini, SMAN 1 Jakarta, dan seperti di sekolahku sebelumnya, di sini membosankan. Dan keadaan di sini semakin buruk saat gadis tomboy bernama Nabil selalu menggangguku sejak aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Kalau saja bukan karena pekerjaan ayahku yang sekarang, aku akan tetap tinggal di Surabaya.

“Hoy, Monika!”

Tubuhku bergetar. Aku segera menoleh ke sumber suara. Ah, itu dia. Gadis berambut hitam sebahu, memakai seragam putih abu pendek, dan mengenakan kalung berliontin bintang hitam yang menjadi ciri khasnya, Nabil Carla. Dengan girang dia melangkah ke arahku.

“Makan, yuk!” dia duduk di bangku sebelahku.

Aku menghela nafas. “Apa kau tidak bosan selalu menggangguku?”

“Mengganggu? Aku ‘kan hanya mengajakmu. Lagipula kita ‘kan teman.”

Pelipisku seketika berkedut. Sejak kapan aku menyetujui untuk jadi temanmu, bodoh, gerutuku dalam hati. Aku mengambil nafas dalam sementara dia terus memperhatikan.

“Kenapa kau tidak makan di kelasmu bersama temanmu di sana? Kenapa malah ke sini?” tanyaku ketus.

Dia terlihat berpikir keras. “Mungkin karena… kau temanku yang unik,” jawabnya asal-asalan. “Makanya aku selalu ingin di dekatmu.”

Tidak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin dia bisa mengganggapku teman? Padahal jelas-jelas aku adalah orang yang tidak suka padanya. Astaga. Seolah mengacuhkan perubahan air wajahku, dia menyimpan sebuah kotak bekal di atas meja.

“Ayo makan. Hehe….”

Duh. Sebenarnya aku tidak suka dia di sini, seperti hari-hari sebelumnya. Aku ingin menyuruhnya pergi, tetapi itu percuma. Dia tetap akan ada di sini dengan cengirannya yang seperti anak kecil. Dan benar saja, sekarang dia mulai melahap makanan yang ia bawa seraya sesekali menoleh dan tersenyum ke arahku. Aku hanya bisa menepuk keningku kemudian kembali menoleh ke luar jendela.

“Terserah kau sajalah,” ucapku datar.

“Kau tidak lapar?”

“Tidak.”

Jika aku tidak salah ingat, bukan hal menyebalkan seperti ini saja yang selalu ia lakukan padaku. Selain terus mengajakku makan bersama, dia juga mengajakku untuk berangkat dan pulang sekolah bersamanya, dengan alasan bahwa arah menuju rumahku dan rumahnya itu sama. Lalu, jika ada tugas, dia ingin mengerjakannya bersamaku. Dan aku sempat terkejut bahwa ternyata dia memasuki klub yang sama sepertiku, klub pecinta sastra. Yah, bisa dibayangkan, setiap kumpul bersama di ruang klub atau ada acara tertentu yang harus dibahas, dia selalu mengusulkan ide yang menyangkutkan namaku di sana, bagus sekali. Ok, aku sudah pernah berbicara panjang lebar agar dia tidak melakukan hal itu lagi. Namun, sesuai kataku tadi, percuma.

Aku tidak membencinya. Hanya saja, aku tidak suka dia berada di dekatku dan sok mengenalku dengan baik. Aku tahu, aku memang sulit bergaul dan jarang memiliki teman karena sifatku yang penyendiri serta perfeksionis, tapi bukan berarti dengan seenaknya dia bisa masuk ke dalam kehidupanku dan menjadi sosok seorang teman. Ini terlalu tiba-tiba. Bukankah untuk menjadi teman yang baik harus melewati berbagai proses panjang? Bukannya seperti ini. Bukankah untuk menjadi teman diperlukan suasana yang menyenangkan setiap kali bertemu atau sekadar mengobrol? Bukannya malah membuat suasana menyebalkan seperti ini.

***

Bel pulang sekolah berbunyi. Rasa malas langsung menyergap. Aku bukan malas untuk pulang, aku malas dengan hal menyebalkan yang mungkin akan terjadi lagi hari ini. Aku menoleh ke luar jendela, tepatnya ke arah gerbang sekolah yang sudah dilewati murid-murid yang kelasnya berada di lantai bawah. Sebenarnya yang menjadi fokusku bukan itu. Mataku menyipit memperhatikan sosok gadis yang menyender di gerbang. Sedetik kemudian aku menghembuskan nafas berat. Dia lagi.

“Monika!”

Dari kejauhan dia melambai ke arahku yang masih berjalan di halaman sekolah. Senyum terpaksa mengembang di wajahku. Nabil terlihat begitu senang ketika kami mulai berjalan berdampingan setelah keluar dari lingkungan sekolah. Mulutnya terus melontarkan hal-hal yang berkaitan dengan sahabatnya dulu. Dan aku hanya berharap celotehannya akan terhenti dengan segera.

“Dia itu tidak suka cokelat, bertolak belakang sekali denganku. Lalu, ketika musim panas kami bermain di padang rumput, kami berdua selalu heboh. Hehe….” senyumnya kembali terpatri. “Kau tahu kenapa? Dia takut belalang. Dia heboh untuk melarikan diri dari kumpulan belalang sedangkan aku heboh memburu belalang itu untuk menakut-nakuti dia. Hahaha… rasanya itu adalah masa terindah bagiku. Tapi sayang sekali, kalau saja….”

Aku mengernyit. Nabil tiba-tiba berhenti melangkah dengan kepala yang tertoleh pada gang kecil di antara pertokoan di seberang jalan sana. Kulihat wajahnya serius, aku jadi penasaran, ada apa dengannya? Belum sempat aku bertanya, Nabil sudah menjatuhkan tasnya di samping kakiku dan berlari ke gang gelap tersebut.

“Hey, tunggu! Kau mau kemana?”

Sesuai dugaan, teriakkanku diabaikan begitu saja. Aku terpaksa menunggunya di depan toko kue seraya memegang tas selempangnya. Pergi begitu saja dengan meninggalkan barang pada orang lain, kau kira aku tempat penitipan barang? Hah, dasar! Dengan mood setengah-setengah, akhirnya aku menunggu kurang lebih lima belas menit, hingga sosoknya kembali tampak dalam jangkauan pandangku.

Ketika baru saja aku ingin berteriak memanggilnya, tenggorokkanku serasa tercekat.  Nabil kembali ke hadapanku dengan dibopong oleh seorang anak SMP. Tubuhnya penuh luka, mulutnya berdarah. Nabil terus tertunduk lesu. Aku seperti tak dapat mengatakan apa-apa. Yang bersuara hanya gadis bersurai hitam panjang dengan air muka sedih.

“Tolonglah… rawat kakak ini. Dia sudah membantuku. Dia mengusir preman-preman itu,” ucapnya dengan isak tertahan. “Sebelum pingsan, kakak ini mengatakan agar mengantarnya ke sini. Apakah kakak temannya?”

Dan dadaku pun seketika sesak. Teman?

“Y-ya….”

Entah apa yang aku pikirkan, namun itulah yang aku katakan pada gadis muda tersebut. Tanpa berkata banyak, dia lekas tersenyum senang sambil menyerahkan Nabil padaku. Aku pun segera menopang tubuh Nabil yang lemah. Setelah berterima kasih, gadis itu pergi.

Pandanganku terfokus ke arah Nabil. Dia mengusir preman? Jadi dia berlari ke gang sempit itu untuk menolong gadis tadi tanpa memberitahuku terlebih dulu? Tunggu, kenapa pula dia harus memberitahuku kalau dia mau menolong seseorang? Memangnya aku ini siapa dia?

‘Apakah kakak temannya?’

Ah! Sudahlah. Kenapa aku malah memikirkan hal itu?Yang paling penting sekarang, aku harus membawanya ke rumahku dulu. Dengan sangat perlahan aku membopongnya sepanjang jalan sore itu. Hingga aku bernafas lega setelah membaringkannya di sofa rumah. Aku lantas memanggil ibu untuk membawakan kotak obat. Awalnya ibu terkejut saat tahu  ada temanku yang terluka. Ah… teman.

Ketika ibu datang membawa kotak obat, wajahnya tegang sesaat setelah melihat wajah Nabil. Aku pun menatap ibu, heran. Ibu seakan menyembunyikan keterkejutannya, lalu segera mengobati luka Nabil. Nafasku sempat tertahan kala Nabil menggeliat pelan. Nampaknya ia akan segera sadar.

“Sayang, sebaiknya kau buatkan teh hangat.”

Sejenak aku menatap ibu, sebelum akhirnya pergi ke dapur. Setelah selesai membuat secangkir teh hangat, aku kembali lagi ke ruang tamu. Sebelum aku melewati pintu yang menghalangi antara ruang tamu dan ruang keluarga, aku tertegun. Aku dapat mendengar ibu berbicara dengan Nabil yang sepertinya sudah sadar.

“Tante, Nabil tahu Monika nanti pasti akan menyadarinya, tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal itu.”

Aku meneguk ludah. Apa maksudnya itu? Apa yang mereka bicarakan? Kenapa mereka seolah sudah sangat akrab? Sadar bahwa aku telah berdiri terlalu lama di balik pintu, aku lekas menghampiri mereka berdua dengan ekspresi wajah yang biasa. Kemudian meletakkan cangkir teh di meja.

“Monika….” Nabil memperhatikanku.

Aku terdiam sejenak, menatap lukanya yang sudah diperban dan diplester. “Dasar bodoh,” ucapku akhirnya dengan rasa marah yang entah kenapa tiba-tiba datang. “Seenaknya berkelahi tanpa minta bantuan orang lain, kau pikir kau itu pahlawan? Untung saja hanya beberapa luka kecil meskipun tadi kau sempat pingsan. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu? Kau akan merepotkanku, tahu!”

Ibu menghampiriku. “Monika, jangan bicara seperti itu, dia ‘kan teman—”

“Dia bukan teman—ah, sudahlah!”

“Monika, kau marah padaku?”

Aku menatap Nabil. “Tidak! Ck, aku tidak marah padamu, hanya saja… ah!” tak melanjutkan, aku pun segera pergi ke kamar. Tak memperdulikan tatapan matanya yang tertuju padaku.

***

Istarahat makan siang di sekolah pada keesokan harinya, aku pergi ke taman belakang dan duduk di bangku dekat pohon. Aku ingin merenung tentang yang kemarin. Aku bingung dan merasa… aneh. Mulai dari percakapan anatara ibu dan Nabil, dan mengenai aku yang tiba-tiba marah setelah Nabil bertindak gegabah untuk menolong anak SMP itu. Melihatnya terluka membuat dadaku sesak. Ada apa denganku? Kemudian tentang kata ‘teman’ yang sudah kuakui saat anak SMP itu bertanya apakah aku temannya Nabil atau bukan, rasanya aku semakin bingung.

Teman? Dengan mudahnya aku mengatakan iya saat itu. Padahal sebelumnya, aku masih tidak menyukai Nabil yang terus menggangguku. Benarkah kini aku sudah menganggapnya teman walaupun dia memang menyebalkan? Dan… kemarahanku saat itu… apa karena aku tidak ingin Nabil terluka? Ah! Tidak. Pasti bukan itu. Mungkin ini berlebihan, sebaiknya aku tidak memikirkannya terlalu keras. Mungkin aku marah karena dia membuatku repot. Ya, mungkin karena itu. Dan sepertinya aku harus mengatakannya sekali lagi pada Nabil agar dia tidak menggangguku.

“Monika!”

Aku menghela nafas. Aku tahu suara milik siapa itu.

“Ternyata di sini. Tadi aku mencarimu ke kelas, tapi kau tidak ada. Tidak tahunya kau sedang melamun di sini.” Nabil duduk di sampingku. Aku meliriknya—tepatnya pada luka-luka di tubuhnya yang masih diperban. “Aku membawa bekal double dan aku ingin kau….”

“Nabil….”

“Ya? Ada apa?” sorot matanya menampakkan kebingungan.

Aku menarik nafas panjang dan berkata, “Aku ingin kau berhenti menggangguku.”

“Eh?” dia terdiam, namun seketika tertawa. “Hahahaha… kau ini. Aku sudah pernah bilang, bukan? Kita itu tem….”

“Aku bukan temanmu dan aku tidak pernah menyetujui untuk berteman denganmu. Tinggalkan aku sendiri.”

“Tapi Monika….”

“Aku serius!” ucapku dengan nada tinggi. “Kau menyebalkan! Aku tidak menyukaimu sejak awal! Mulai sekarang, menjauhlah dariku! Jangan dekati aku lagi!”

“Kau pasti bercanda.”

“Lihat aku! Apa aku terlihat bercanda? Apa sejak awal aku berkata seperti ini padamu aku terlihat sedang bercanda, hah?”

Dia menatapku lekat-lekat. “Tidak, kau tidak terlihat bercanda,” jawabnya lemah.

“Kalau begitu, pahami perkataanku tadi!”

Perlahan aku berdiri dan mulai pergi meninggalkannya. Berhasilkah? Tak ada panggilan darinya lagi seperti saat pertama kali aku menyuruhnya untuk menjauh. Kini dia tidak mengejarku. Dan kenapa rasanya dadaku sesak? Setelah mencapai koridor, aku berbalik untuk melihatnya. Ah, dia masih di sana. Hanya bergeming menatap bekal makan siangnya. Ok, nampaknya aku berhasil. Dia tidak akan menggangguku lagi mulai dari sekarang. Seraya menarik nafas panjang, aku kembali berjalan menuju kelas.

***

Tubuhku bergidik takut saat melewati lorong sekolah yang terlihat gelap akibat awan mendung yang tiba-tiba muncul. Kulihat jam tanganku, ternyata sudah jam 4 sore. Sekolah sudah sepi. Mungkin aku satu-satunya murid yang masih berada di sini karena baru saja selesai membereskan laboratorium kimia setelah dimintai tolong oleh guru. Dan, apakah ini hari sialku atau bagaimana? Seharusnya jam segini, suasana sekolah masih terang dan tidak semencekam ini. Tapi akibat cuaca yang tiba-tiba mendung, semuanya terlihat menyeramkan.

Kakiku terus melangkah cepat sejak beberapa menit lalu. Aku lekas mengelus dada kala akhirnya keluar dari lorong gelap tersebut. Meski begitu, aku harus tetap cepat. Aku tidak ingin sampai rumah dengan tubuh basah kuyup. Jadi dengan nafas tersenggal, aku tetap melangkah cepat—setengah berlari—di jalanan yang juga nampak mulai sepi. Tiba-tiba…

Duk! Aku segera berbalik setelah menyenggol bahu seseorang. Tanpa pikir panjang, aku lantas meminta maaf. Tetapi, ketika aku mendongak untuk menatap orang itu, aku sangat tersentak.

“Wah, ada Nona cantik yang ingin bermain rupanya.”

Aku sedikit berjalan mundur saat mengetahui lelaki yang aku senggol barusan sedang mabuk. Dia menampakkan seringainya, membuatku merinding. Dan aku semakin merinding saat punggungku menabrak sesuatu. Ketika aku melirik ke belakang…

“Aaaaahhh!”

Kesadaranku menghilang seiring tengkukku yang terasa nyeri. Saat aku membuka mata kembali, aku sudah berada di tempat yang berbeda. Aku berada di sebuah gang yang gelap dan sangat sepi dengan seragam sekolah yang berantakkan dan sedikit kotor. Aku segara duduk dari posisiku yang sempat terbaring lalu mulai merapikan pakaian dengan tangan gemetar, aku ketakutan. Kemudian, seakan ketakutan itu senang menyapaku, lelaki mabuk yang tadi aku senggol dan dua orang lainnya berjalan mendekat setelah keluar dari sebuah pintu bangunan di samping kananku. Mereka menatapku dari atas sampai bawah penuh nafsu, membuat seluruh tubuhku bergetar.

Ketika baru saja aku ingin beranjak dan segera melarikan diri, sebuah hantaman benda keras menyakiti punggungku. Teriakanku refleks terlontar. Sejenak aku melirik ke belakang, ternyata ada lelaki lain di sana. Dia tersenyum iblis ke arahku dan hantaman benda—yang ternyata adalah tongkat baseball kembali membuatku berteriak. Sakit bercampur takut kini mendominasi pikiranku. Ketika perlahan pandanganku kembali memburam, tubuhku disiram dengan air hingga basah keseluruhan. Tenagaku hilang, yang ada hanya rasa sakit. Aku bahkan tak bisa menggerakan tanganku untuk sekadar menghentikan keempat orang itu yang hendak membuka pakaianku. Aku terlalu lemah, lemas, seolah tak bisa untuk tetap terjaga. Detik selanjutnya, aku pun pingsan, namun sebelum itu…

‘Aku takkan membiarkan hal ini terjadi lagi padamu… Monika.’

Ketika semuanya menghitam, dalam pikiranku, dalam bayangku, aku dapat melihat Nabil di tengah lorong. Dia berdiri tak jauh dariku. Apa ini mimpi? Tapi kenapa terlihat begitu nyata?

Ketika tangannya terulur… aku hanya diam. Dia menarik kembali tangannya lalu menampakkan cengirannya. Aku mengangkat alis, heran. Dia melangkah mundur. Tiba-tiba dadaku sesak tanpa sebab.

“Padahal kau hanya perlu menggapai tanganku saja, Monika.”

Ada apa ini? Kenapa sakit sekali?

Bibirku yang semula terkatup, perlahan mulai menyerukan namanya. Pelan… pelan… keras… keras… aku berteriak keras memanggilnya. Namun bagai tak berpita suara, aku berteriak penuh kesia-siaan. Dia berbalik memunggungiku. Mataku membulat saking terkejutnya. Benarkah itu? Dia memunggungiku? Dia mulai berjalan menjauh tanpa menolehku? Ya Tuhan. Meskipun memang aku yang sebelumnya menyuruh dia untuk itu, tapi sekarang rasanya… menyakitkan.

Kupaksa kakiku berjalan di tengah lorong asing yang gelap ini. Aku ingin menggapainya. Asalkan aku bisa menggapainya dan membuatnya berhenti berjalan, itu sudah cukup. Tapi, mengapa rasanya sulit sekali? Nafasku tersengal saat kusadari kakiku melangkah begitu cepat sejak lima menit lalu. Aku berhenti berlari dan dia masih tetap melangkah.

Bukan ini yang aku maksud. Bukan! Tolonglah, seseorang… seseorang tolong hentikan dia. Meskipun aku beteriak, suaraku tak mengudara. Meskipun aku berlari, jarak antara kami tak berkurang. Dan ketika air mataku mulai berlinang, tanpa sadar kini tangankulah yang terulur ke arahnya…

“Nabil… Nabil… pegang tanganku, Nabil! Aku… mohon….”

Lalu, dalam sekejap semuanya menjadi hilang. Perlahan kelopak mataku terbuka. Rupanya aku tersadar dan itu memang mimpi. Aku segera bangkit dengan rasa heran karena tidak mendapati empat lelaki tadi namun sebagai gantinya aku melihat Nabil yang terbaring penuh darah dan luka. Wajahku tegang, aku segera mendekat dengan sisa tenagaku.

“Nabil! Nabil!” aku memangkunya dengan air mata yang hampir menetes. “Sudah kubilang, bukan? Jangan mendekatiku lagi.”

Tanpa membuka mata, dia tersenyum, lalu berbicara dengan nada parau, “Sudah kubilang, aku takkan membiarkan hal ini terjadi lagi padamu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku yakin suatu saat nanti kau akan ingat… Monna.”

Hatiku sakit mendengarnya. Monna? Panggilan macam apa itu? Kenapa tiba-tiba hatiku berdesir dibuatnya?

“Monna? Mengapa kau memanggilku begitu?”

Hening. Jantungku mulai berdetak semakin cepat.

“Hey.”

Dia tetap diam. Aku sedikit menggigit bibir bawahku yang bergetar.

“Jawab aku, Nabil.”

Tak ada yang menyahut. Hingga perlahan air mataku mengalir deras, semakin deras… semakin deras… saat aku menyadari satu hal, Nabil tak bergerak lagi.

***

Angin sore berhembus pelan. Sepintas kupandang langit, seakan ada senyumnya di sana. Tanpa sadar air mataku mengalir. Aku mencoba tersenyum, kemudian kembali menatap untaian namanya di sana.

“Nabil….”

Aku jadi teringat kejadian sebulan lalu. Saat aku hampir diperkosa oleh lelaki hidung belang dalam keadaan setengah sadar, namun tak kusangka Nabil datang. Dia menolongku. Aku dapat mendengar suaranya sebelum aku benar-benar hilang kesadaran. Aku bahkan tak menyangka bahwa dengan menolongku dia rela mengorbankan dirinya.

Monna… panggilan yang pertama dan terakhir kali dia ucapkan untukku ternyata memiliki sebuah kenangan. Ibu menceritakannya padaku, hal yang sangat tidak aku duga selama ini. Nabil adalah temanku sejak kecil. Dia selalu memanggilku Monna. Namun aku melupakannya. Aku melupakannya karena amnesia yang aku derita setelah mengalami kecelakaan di kampung halamanku, Tasikmalaya, saat aku kelas 2 SMP. Ibuku mengatakan dulu aku pernah diganggu preman kota saat aku pulang sekolah bersama Nabil. Waktu itu Nabil melindungiku, dia mencoba segala hal untuk menyelamatkanku, tapi… seorang dari preman itu menghantamkan kepalaku dengan keras ke tembok dan menyebabkanku amnesia.

Setelah kecelakaan itu berlalu dan perlahan aku mulai pulih, keluargaku pindah ke Surabaya untuk urusan pekerjaan. Aku tinggal di sana dengan ingatan yang baru karena saat ibu dan ayah mencoba mengingatkanku tentang hal-hal yang telah aku lupakan, kepalaku selalu sakit.

Ketika menginjak kelas 2 SMA semester 2, keluargaku pindah ke Jakarta. Ibuku tak mengira bahwa Nabil ada di sini, makanya saat aku membawa Nabil ke rumah, ibu sangat terkejut. Ibu ingin menceritakan semuanya padaku saat itu, namun dicegah Nabil. Katanya, Nabil ingin aku mengingatnya tanpa dibantu oleh orang lain. Namun sekarang sudah terlambat.

Hari di mana aku mulai mengingat semuanya—walau secara perlahan—adalah hari ketiga di mana Nabil sudah pergi. Aku mengingatnya. Ya, aku mengingatnya saat dia sudah tidak ada. Tapi, aku gagal mengingatnya ketika awal kita bertemu di sekolah. Aku gagal mengingatnya saat dia masih setia di sampingku. Aku malah mengingatnya, mengenangnya ketika sahabatku hanya tinggal sebuah nama. Apa ini karma? Karma karena aku tak mampu mengingatnya sejak awal bertemu?

“Nabil… aku mengingatmu… maaf… maaf… dan terima kasih untuk segalanya.”

Aku mencium nisan di hadapanku. Dalam hati, aku berjanji akan menebusnya. Aku akan bersikap lebih baik dan mencoba untuk bergaul bersama teman sebayaku yang lain. Ini semua untuk mengenang Nabil, juga untuk… menggapai uluran tangannya yang mungkin sampai saat ini masih menunggu keputusanku. Keputusan untuk mengarungi dunia persahabatan yang pernah aku abaikan saat Nabil masih di sampingku.

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan