Mencari Wajah Ibu

“Jangan coba-coba masuk ke dalam goa itu, Har. Kau takkan bisa keluar sekalipun niatmu bukan mencari wangsit.”

Aku mengangguk pelan. Tadi siang, aku kepergok mendaki gunung. Paman tak marah. Hanya memungut sepuntung rokok klobot sambil lalu menceritakan hidupnya di masa lalu.

“Dahulu saja, ada seorang pertapa. Konon, sudah merasakan semua tempat yang dipenuhi pesugihan termasuk lereng Lawu dan Alas Purwo. Sayangnya, ia hilang tak berbekas setelah memasuki goa itu.”

“Kenapa, Paman?” tanyaku tak sabar

Paman menoleh. Sengaja mempermainkan suasana. Disedotlah kuat-kuat rokok buatan yang terbungkus dari kulit jagung itu. Sepintas, gulungan tembakau ini lebih hemat dibandingkan rokok lainnya. Mungkin, daun jagung yang sudah mengering menjadi penyebab hematnya isapan.

“Pertapa itu menghilang karena yang dicari hanya kekayaan saja. Tuhan memang tidak melarang manusia untuk menjadi kaya, Har. Tetapi, bukan kaya harta saja. Andai kau tau cerita kedua anak gunung itu,” Paman menatapku lekat. Aku menunduk malas. Cerita yang akan meluncur dari bibirnya sudah bisa ditebak.

“Zaman dulu itu, ada seorang hebat yang memiliki ilmu dan kesaktian tinggi. Dari penampilannya tak tampak orang berilmu. Suatu saat, sepulang slametan, ia memikul kedua bungkus makanan menggunakan kayu. Persis orang yang menjajakan pisang di kompleks perumahan. Sebungkus ditaruh di depan, sebungkus lagi ditaruh di belakang. Di tengah perjalanan, ia tertidur di bawah pohon kapuk. Saat terbangun, ia terkejut melihat alam sekitar. Dua bungkus makanan tadi berubah menjadi dua gunung yang sekarang diberi nama Gunung Sepikul,”

Ah, cerita ini lagi. Cerita ini lagi. Entah untuk kesekian kalinya Paman mengulang cerita yang sama.

Semenjak Bapak tak lagi ada, Paman mengasuhku seperti orang tua sendiri. Persis cerita Nabi saat diasuh Pamannya, Abu Thalib. Sayang, aku tak sempat diasuh Kakek sebab Kakek keburu pergi menemui Tuhan sebelum aku terlahir ke dunia. Sedang Ibu, aku tak pernah tau bentuk rupanya. Konon, Ibu pergi bersama lelaki lain saat usiaku menginjak dua tahun. Cerita ini kudengar dari bibir Sum, saat kusuruh tanyakan perihal keberadaan Ibu ke emaknya. Sampai menginjak kelas enam sekarang, aku tak pernah mendengar cerita Ibu. Entah dari bibir Bapak, terlebih dari Paman. Adik kakak itu sepertinya sepakat menyembunyikan keberadaan Ibu.

“E…Har, aku sudah mendengar kabar ibumu,” mataku terbelalak mendengar ucapan Sum.

“Ibumu sudah bersuami lagi.”

Mendengar kata suami, sepertinya aku memiliki bapak baru.

“Ada di mana, Sum?” tanyaku memelas.

“Aku lupa nama desanya, Har. Nanti kutanyakan lagi. Eh, tapi suami ibumu orang kaya. Punya banyak harta,” bibir Sum merekah sambil tangan kanannya menepuk pundak.

Aku tak merespon kekayaan suami baru Ibu. Aku hanya mengingat cerita Paman. Saat dilarang memasuki goa di Gunung Sepikul sebab ada pertapa yang tak kunjung kembali sampai sekarang. Ah, bisa saja pertapa itu sudah keluar. Aku akan meminta bantuannya membawa Ibu ke rumah. Seperti cerita di televisi yang selalu kulihat.

“Kenapa kau diam, Har?”

“Kau bisa membantuku?” sengaja tak kujawab pertanyaan Sum

“Pasti aku bantu.”

***

Aku sudah bertanya ke Pak No. Penjaga sekolah. Setelah menulis peta di selembar kertas, Pak No berpesan agar aku melewati Desa Karang Kedawung menuju Lampejih. Sum sendiri tak kubolehkan bercerita perihal kepergianku mencari Ibu. Aku menyuruhnya berbohong dengan bercerita ke Paman, kalau aku ikut kemah di sekolah.

Desa Lampejih itu sangat jauh. Teramat jauh. Memancal sepeda terus menerus, membuat kedua kakiku kikuk. Tak apa. Aku sekedar ingin melihat wajah Ibu. Bukan meminta kekayaan suami barunya. Seminggu lalu, Pak Jo memberi tugas menggambar wajah Ibu. Guru kesenian itu sepertinya tak tau kalau aku tak punya Ibu. Beruntung bagi mereka yang sempat bertemu, tak ada kesulitan menyalin rupa orang yang sudah melahirkannya di dunia. Sebaliknya, aku sendiri tak pernah tau bentuk muka Ibu.

Hanya Sum, satu-satunya teman yang mengetahui latar belakang keluargaku. Mungkin, kasihan melihat temannya yang tak bisa menggambar rupa Ibunya, ia rela membantu mencari informasi tentang Ibuku.

Setelah mengayuh sepeda hampir setengah hari, ada posko amal masjid di pertigaan. Aku tak mau menyiakan kesempatan ini. Segera aku berhenti di samping gubuk. Beristirahat sebentar. Menurut gambar Pak No, belokan sebelah kiri inilah arah ke Desa Lampejih.

“Dari mana, Nak?” sapa seorang lelaki tua yang memegang gayung berisi uang hasil menarik amal.

“Dari rumah teman, Pak,” ucapku berbohong. Jika kuceritakan sebenarnya, bukan tak mungkin aku akan diculik lalu dijual.

“Rumahnya di mana?”

Duh, aku tak bisa jawab. Aku hanya tersenyum sambil menatap ke arah jalan Lampejih.

“Dekat dengan rumahnya Karman?”

Lagi-lagi aku tersenyum sambil mengangguk. Aku tak mengenal nama yang disebut penarik amal ini. Mau Karman, atau Karmin, aku tak peduli.

“Wah, dia beruntung sekali. Hanya bermodal mencari wangsit, sudah bisa membangun rumah yang megah. Istrinya juga tak kalah cantik. Persis artis-artis.”

“Ya, tapi jangan merebut istri orang dong…,” tukas seorang lelaki paruh baya yang bersandar di tiang posko.

“Hush. Tak boleh begitu,” kedua mata lelaki tua itu melirikku.

“Tak apa. Cerita itu sudah turun temurun. Anak kecil saja sudah tau ceritanya. Kalau si Karman mengambil istri orang. Suaminya yang dulu, mati memikirkan perlakuan istrinya. Ah, kasihan sekali nasib anaknya itu. Bapak mati sedang ibunya bersuami lagi.”

Aku yang tak kuat mendengar cerita kedua lelaki itu, memilih pergi tanpa mengucap salam. Aku tak tau, apakah yang diceritakan keduanya adalah nasibku. Seingatku, sebelum Bapak meninggal setahun lalu, tak pernah Bapak bercerita Ibu. Yang kuhapal betul, setiap kali hujan turun, selalu Bapak  duduk di ruang tamu menghadap halaman. Seakan Bapak menghitung jumlah tetesan hujan dari langit. Kendati aku mengajaknya berbicara, Bapak tak pernah mau berkata. Baru setelah hujan usai membasahi bumi, Bapak akan kembali mengajakku bercerita.

“Ibumu pergi saat hujan deras mengguyur desa kita, Har. Bapakmu keluar sambil menggendongmu. Sebab angin berputar di atas gunung merobohkan puluhan kayu. Semenjak itu, Ibumu tak pernah kembali,” ucap Sum sebelum aku pergi tadi pagi.

Ah, aku tak mau tau. Yang ingin kulihat sekarang hanya wajah Ibu. Itu saja. Andai pak Jo tak memberi tugas menggambar wajah Ibu, tak mungkin aku senekad ini. Jika kuceritakan sebenarnya, bukan tak mungkin pula aku akan dijadikan bahan ejekan teman-teman sekelas. Pasti mereka akan tertawa mendengar ceritaku yang ditinggal Ibu.

Sekarang, aku berada tepat di depan rumah megah berlantai dua. Bisa jadi berlantai tiga. Aku tak tau. Rumah ini memiliki taman bunga yang luas. Gerbang bercat kuning jeruk di depanku ini juga tak kalah megah. Tertera ukiran aksara jawa, mirip tulisan Hanacaraka di pintu goa. Sepertinya, ini rumah Ibu. Sesuai gambar pak No, dan sesuai cerita Sumi, rumah Ibu berada di sebelah kiri sebelah kantor Kepala Desa.

Aku tak melihat aktivitas apapun di dalam sana. Hanya seorang satpam yang sibuk dengan layar handphone sambil tersenyum sendiri. Aku tak memiliki cara untuk melihat Ibu. Ah, ternyata aku salah. Ada deru mobil di depan rumahnya. Sepertinya, tuan rumah akan keluar. Benar saja, seorang lelaki seusia pamanku, berjalan sambil mengancing kemeja hitamnya. Di belakang, ada anak kecil yang berlari mengejar lelaki itu. Dan di belakangnya lagi, ada seorang perempuan yang berpakaian hitam bak artis seperti ucapan penarik amal tadi. Perempuan itu, tersenyum mengejar anak kecil yang berlari ke arah suaminya. Ya, perempuan itu. Meski tak jelas kulihat bentuk mukanya, meski aku tak tau apakah itu Ibu kandungku.

Darahku melaju lebih dari biasanya. Ada detakan di dalam dada yang tak seperti biasa. Tak menunggu lama, mobil itu melaju keluar gerbang. Dari sinilah, kulihat jelas rupa perempuan itu. Sembari membuang tisu dari jendela, kulihat untaian rambutnya hitam berkilauan. Bibirnya merah merona, tersenyum hangat yang sengaja melempar tisu tepat ke mukaku.

***

“Ini gambar wajah Ibuku. Cantik seperti artis. Rambutnya panjang terurai hitam. Tapi, Ibu pergi saat aku berusia dua tahun. Ibu pergi saat hujan deras mengguyur. Semenjak itu, aku tak pernah bertemu Ibu. Mungkin, aku tak mau lagi menemui Ibu seandainya ia mencariku.”

Pak Jo termenung. Menatapku nanar. Sudah kuputuskan untuk kuceritakan yang sebenarnya di dalam kelas. Teman-teman tak tertawa seperti dugaanku. Hanya membentuk kelompok kecil. Saling berbisik tentang Ibu. Tak apa. Aku tak marah. Sebab Ibu memang seperti itu. Pergi di saat hujan deras mengguyur. Dan sudah bersuami dengan pertapa di Lampejih sana. Cerita ini, sudah disampaikan Paman semalam. Ia marah karena aku berbohong ikut kemah. Setelah mendengar alasanku mencari Ibu, Paman bercerita sambil mengeluarkan banyak air mata.

, ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan