novel-klasik-mas-marco

Mengintip Bahasa di Novel Klasik Mas Marco

          Meskipun karya Mas Marco tidak hanya Student Hidjo, setidaknya Student Hidjo (1918) menempati urutan karya Marco yang sampai kini layak jadi perbincangan. Kita mengenali karya ini sebagai karya yang cukup kontroversial, selain karya ini tak masuk dalam kategori karya sastra yang lahir awal abad 20, buku ini membuat pihak kolonial gerah dan dilecehkan. Hal ini dikarenakan kekuatan bahasa Marco Kartodikromo yang secara lugu dan dengan halus menyerang kolonial melalui novelnya ini. Justru karena di kemas dengan format novel itulah, karya Marco lebih masuk untuk dibaca di kalangan kaum terpelajar Hindia Belanda waktu itu. Sampai kini pun, saya kira pembaca novel Marco justru hadir dari kalangan kaum terpelajar. Meski demikian, bahasa yang digunakan oleh Mas Marco Kartodikromo menggunakan “bahasa yang bergerak” meminjam istilah Agung Dwi Hartanto (2008).

            Marco sengaja memilih bahasa yang sehari-hari dan terkesan kelas rendah, untuk melakukan kritik terhadap situasi pada waktu itu. Mas Marco Kartodikromo menurut Muhidin M. Dahlan (2014) menduga bahwa ia melakukan hal itu karena ia tak berpendidikan tinggi sebagaimana gurunya Tirto Adhi Soerjo. Ia belajar dari gurunya tentang sastra dan jurnalisme. Agaknya karena kebiasaan menjadi editor di koran-koran gurunya di waktu itu, Mas  Marco Kartodikromo  meloloskan bahasa yang lugas, kasar dan sering mendapatkan pres delicth. Karena itulah, penjara adalah tempat yang hampir rutin dimasuki oleh Marco Kartodikromo. Penjara kemudian membuat bahasanya semakin bergerak, liar, dan tidak luwes. Ia cenderung tak mensortir bahasanya ala editor. Ia justru membiarkan bahasanya sebagaimana orang melakukan percakapan.   Karya Student Hidjo (1919) bisa dilihat sebagai contoh bahasa Marco Kartodikromo yang lugas dan tanpa tedeng aling-aling. Kita bisa melihat contoh ini dalam bahasa yang sama rasa, sama rata. Simaklah percakapan dalam petilan novel Student Hidjo berikut : “ Apakah Tuan tidak lebih senang makan makanan Jawa?”. Hidjo pun menjawab “ Nee, tidak! Saya lebih senang makanan Eropa!”(SH, 68). Cara Marco berbahasa menunjukkan bahwa ia sama sekali tak menunjukkan bahwa ia minder dan malu. Ia tak ragu-ragu menempatkan posisinya sebagai orang Eropa, bukan orang Hindia Belanda yang terjajah. Meski demikian, kita bisa melihat bahasa Marco yang lain dalam bentuk yang lebih ilmiah dan terpelajar dalam kisah Babad Tanah Jawi di tahun 20-an. Di dalam buku ini Mas Marco memadukan apa yang ia kuasai dalam segi bacaan dan wawasan sejarahnya serta pengalaman menulisnya. Dari Ki Hadjar Dewantara ia belajar tentang dunia pergerakan. Dari Cipto Mangunkusumo ia belajar bagaimana bahasa agitasi, dan dari Tirto, ia belajar bahasa sastra.  

            Karya Marco Kartodikromo memang tak masuk dalam kategori sastra Indonesia modern dalam kategori karya sastra. Ia tak dimasukkan pula dalam nama Persatuan Jurnalis Indonesia di masa itu. Namun demikian, Bakri Siregar dalam bukunya Sejarah Sastra Indonesia Modern (1964) mencatat tiga nama sastrawan yang menjadi tokoh awal sastra Indonesia modern. Mereka adalah Mas Marco Kartodikromo, Semaun, dan Rustam Effendi. Karya-karya Marco Kartodikromo, baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia secara tegas pertama kali melemparkan kritik terhadap pemerintahan jajahan serta kalangan feodal. Dua karya Mas Marco yang menonjol adalah Student Hidjo (1919) dan Rasa Merdeka (1924). Karena isinya berupa kritik terhadap imperialisme Belanda, sebagai sastrawan dan juga wartawan yang revolusioner, Mas Marco sering keluar masuk penjara, dan meninggal di tanah pembuangan Digul (Sembodja, 2009). Semaun menghasilkan novel Hikayat Kadirun (1924), Rustam effendi menulis lakon Bebasari (1926). Ketiga tokoh sastra itu mengalami masalah di jaman kolonial Belanda. A. Rinkes kepala Balai Pustaka menyebut novel itu sebagai “bacaan liar”.

            Arti bahasa Marco seolah menunjukkan bagaimana cara hidup dan pikiran Marco. Yang liar, keras,dan tak pernah kenal kompromi ( Dahlan,2014). Dari sisi inilah bahasa Marco menunjukkan keseharian, kehidupan penulis, dan menunjukkan wajah dan cita-cita pengarang baik cita-cita kesetaran, pendidikan dan juga kemerdekaan.

*)Penulis adalah Santri Bilik Literasi SOLO, Pengasuh MIM PK Kartasura

, , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan