menjadi-orang-tua-kreatif

Menjadi Orangtua Kreatif

Menjadi orangtua merupakan berkah. Tetapi kebanyakan orangtua masih belum memahami secara sadar bahwa sebenarnya menjadi orangtua memerlukan bekal. Selain bekal pengalaman, juga bekal pengetahuan. Pengalaman ini bisa diperoleh dari orangtua kita terdahulu, dari cerita-cerita dan khazanah yang ada di keluarga kita di masa kita kecil hingga dewasa, sampai menjadi orangtua.

Modal yang kedua adalah pengetahuan. Pengetahuan ini, yang sampai sekarang cenderung kurang dipelajari oleh kebanyakan orangtua. Mereka cenderung memudahkan dan menganggap mudah urusan mendidik anak. Boleh jadi karena urusan parenting, atau pengasuhan anak di Indonesia cenderung dianggap penting saat kita ada masalah. Sebut saja ada masalah dengan anak kita, maka segera kita berkonsultasi dengan psikolog, dengan ahli anak, membaca buku, sampai mendatangi dokter spesialis anak.

Kesadaran orangtua di negeri kita boleh jadi memang masih minim. Oleh karena itu, buku-buku yang ditulis mengenai parenting tetaplah penting di masa kini. Salah satunya adalah buku yang ditulis oleh Al Tridhomanto yang bertajuk Pola Asuh Kreatif (2013).

Buku yang terdiri dari delapan bab ini boleh dibilang tak begitu tebal, selain bisa kita bawa kemana-mana, buku ini dikemas dengan ilustrasi menarik. Di buku ini kita akan disuguhi mengenai betapa pentingnya pengasuhan anak di era sekarang.

Kita juga bakal mendapati bagaimana kreatifitas yang kita punya bisa mempengaruhi dalam pengasuhan anak. Salah satu  tema yang dibahas di buku ini adalah mengenai bermain dilihat dari sudut pandang teoritis. Menurut buku ini, ada empat jenis permainan dari segi teoritis diantaranya adalah permainan fisik, kreatif, imajinasi dan manipulasi.

Permainan fisik lebih condong kepada gerak, permainan kreatif bisa berupa permainan yang mengasah kreatifitas, seperti puzzle, atau permainan kriya. Permainan imajinasi bisa berupa permainan yang membuat anak berimajinasi misalnya tebak-tebakan. Dan terakhir permainan manipulasi adalah permainan yang menggunakan alat bantu seperti gunting, dan lain sebagainya.

Menurut penulis, keberhasilan pengasuhan orangtua, tidak hanya tergantung pada orangtua sendiri, tetapi juga melibatkan sekolah selaku institusi pendidikan yang ikut mendorong perkembangan dan pertumbuhan anak yang baik. Pengasuhan anak perlu memperhatikan tahap perkembangan anak. Tahap-tahap perkembangan anak menurut penulis ada empat macam diantaranya ; perkembangan fisik, perkembangan motorik, perkembangan kognitif, dan perkembangan psikososial.

Perkembangan anak tak bisa dilepaskan dari orangtua, lingkungan sosial dan lingkungan pendidikan (sekolah). Ketiga elemen itu mesti memiliki komunikasi dan sinergisitas yang baik untuk mendukung tumbuh kembang anak. Dengan komunikasi dan sinergi yang baik, tentu saja akan tercipta iklim yang mendukung agar anak menjadi tumbuh dan berkembang secara maksimal tak hanya dalam hal pendidikan, tetapi juga dalam hal sosial.

Saya memiliki kisah tentang hal itu. Di Blora, ada anak yang secara pendidikan kognitif baik, tetapi secara sosial tak memiliki hubungan yang romantis dengan lingkungan sosialnya khususnya pemuda di daerahnya. Anehnya, sikap orangtua justru mendukung anak tersebut, hal ini tentu menjadi hal yang merugikan pada perkembangan sosial anak.

Tentu saja di kota-kota besar hal ini menjadi lumrah, selain karena lingkungannya yang semakin asosial, juga disebabkan faktor sosiologis yang menuntut anak-anak kita menjadi individu yang bersikap individualistis. Perkumpulan RT/RW pun semakin jarang, yang ada tarikan iuran. Hal ini secara sosial semakin membuat hubungan antar sosial kita semakin renggang. Mau tidak mau faktor ini juga dilihat oleh anak kita ,sehingga mereka ikut serta semakin tak mengerti etika-etika pergaulan sosial.

Faktor sosial menjadi penting yang tak bisa ditinggalkan sebagai seorang orangtua dan anak yang kreatif. Bagaimana ia akan menjadi seorang yang kreatif, tanpa karya, tanpa pengakuan, dan tanpa hubungan sosial yang baik.

Secara umum penulis menyoroti bagaimana tanda-tanda atau ciri khas anak kreatif. Pertama kemampuan motorik yang lebih awal seperti berjalan, memanjat. Kedua, anak mampu berbicara dengan kalimat yang lengkap, kosakata yang banyak dan daya ingat yang baik. Ketiga mampu membandingkan dengan anak yang lain. Terakhir, adanya daya ingat yang baik misalnya kemampuan mencoba meski salah (h.35).

Buku ini memang menyoroti parenting dari sisi mendampingi anak agar berfikir kreatif. Ada metode atau cara yang diharapkan penulis membantu orangtua bisa mendorong anak berfikir kreatif. Beberapa faktor pendorong tersebut diantaranya adalah mengajak anak berfikir kreatif setiap hari. Kedua, menggunakan kedua sisi tubuh anak untuk menggerakkan tubuh mereka seperti menggambar, menulis, dan sebagainya. Ketiga, mengenalkan sosok yang bisa dijadikan teladan. Keempat meningkatkan perbendaharaan kata pada anak. Kelima, melatih kemampuan anak dalam mendengar. Keenam, melibatkan warna saat belajar dan bermain. Ketujuh, melatih ketelitian anak. Kedelapan memberikan liburan yang kreatif. Kesembilan melatih kemampuan otak kanan anak dengan bernyanyi, berpuisi atau menggambar. Terakhir, jangan terlalu serius terhadap anak (h.113).

Sebagai buku panduan untuk orangtua, buku ini mungkin cukup praktis. Tetapi, buku ini belum memberikan contoh bagaimana orangtua yang telah berhasil mendidik anaknya dengan kreatif. Seperti bagaimana orangtua Jokowi mendidik anaknya, atau orangtua lain yang mampu melahirkan orang kreatif. Seperti Habibie misalnya, bagaimana orangtuanya mengajar dan mendidiknya.

*) Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, tuan rumah Pondok Filsafat Solo

, , , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan