cara-orang-beriman-mengatasi-masalah

Cara Orang Beriman Mengatasi Masalah

Di saat kita tak lagi berdaya, dan merasa tak punya kuasa, saat itulah kita merasa memerlukan bantuan dari yang paling berkuasa, paling memiliki kekuatan, yakni Tuhan. Itulah yang terjadi saat manusia terjepit, tak lagi memiliki sandaran, dan tak tahu lagi siapa yang harus dimintai pertolongan. Pengalaman ini pernah saya alami, saat terjadi gempa bumi di Yogyakarta, saat kebanyakan orang berteriak “kokoh-bakoh” berulangkali, pada akhirnya tak mampu mencegah runtuhnya bangunan karena gempa. Dan akhirnya mereka pun  masih saja berteriak “kokoh-bakoh”. Dan perkataan itu pun tak mengubah keadaan. Gempa tetap berlangsung, bangunan dan rumah mereka pun tak lagi kokoh.

Bagi orang beriman, tentu saja, ucapan mereka bukanlah “kokoh-bakoh”, tetapi menyebut asma-Nya. Tuhan memiliki banyak asma, tetapi 99 yang dituliskan dalam Al-qur’an adalah asma-Nya yang dituntunkan bagi kaum mukmin untuk meminta dan menyebutnya. Sebagaimana yang diajarkan Rasul “Barang siapa yang membaca ayat kursi dan bagian akhir surah Al-baqarah ketika dalam kesusahan, niscaya Alloh menolongnya”(HR. Ibn Sunni dari Qatadah).

Melalui kitabnya, Tuhan telah menuntunkan bagaimana cara orang beriman agar terhindar dari kesusahan dan kesulitan. Tuhan menciptakan kesusahan, kesulitan, bukanlah sebagai bagian dari beban manusia, tetapi sebagai ujian, agar hambanya meminta kepadanya. Dalam doa itulah, bukan hanya mulut kita yang mengucap, tetapi juga hati kita melisankan, dan pikiran kita meminta dengan penuh harap dan kekhusyukan.

Orang yang di dalam hatinya penuh kesombongan, tentu saja tak mau, dan enggan berdoa. Bukan hanya merasa sanggup menolong dirinya sendiri, tapi mereka juga merasa jalan keluar itu datang dari dirinya sendiri. Ia merasa bisa hidup tanpa datangnya pertolongan Tuhan.

Ada berbagai cara orang beriman mengatasi masalah yang dituntunkan oleh Islam, agar kita terbebas dari rasa gundah, dan sedih. Buku karya al-Mansyawi ini membeberkan bagaimana cara orang beriman (kita) agar keluar dari kemelut masalah yang ada di dunia ini dengan tuntunan yang diajarkan oleh Islam. Kunci masalah yang pertama adalah  Al-qur’an. Melalui ayat-ayat yang ada di dalam Qur’an kita bisa menyimak doa para nabi, dan rasul saat mereka ditimpa kesusahan. Mulai dari Adam, sampai dengan nabi Muhammad SAW. Mereka para rasul pun dan para nabi, tetap meminta pertolongan dari Alloh. Mereka tetap meminta belas kasih dan rahmatNya. Apalagi kita, selaku pengikut para rasul, tentu saja dituntunkan untuk meminta dan berdoa kepada Tuhan. Melalui Al-qur’an itulah, kita sudah dicontohkan bagaimana al-qur’an telah mengajarkan berbagai cara meminta pada Alloh.

Ada berbagai ayat yang diriwayatkan memiliki manfaat memudahkan semua urusan. Diantaranya adalah ayat kursi, yang memiliki manfaat untuk mengusir setan. Kedua adalah ayat yasin. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas r.a : “Barang siapa membaca surah yasin pada waktu pagi, hari itu ia akan diberi kemudahan hingga sore hari. Barang siapa membacanya pada malam hari, malam itu ia akan diberi kemudahan hingga waktu subuh tiba”. Banyak lagi ayat lain seperti ayat mempermudah rezeki, hingga menyembuhkan dari rasa sakit. Kesemua ayat itu menghadirkan satu kesimpulan bahwa Allohlah tuhan yang memiliki kekuasaan terhadap makhluknya. Karena itulah, ia pun mengabulkan dan senang ketika hambanya memohon pertolongan dan meminta kepadanya.

Jalan keluar berikutnya dalam menghadapi masalah adalah Asmaul-Husna. Nama-nama Alloh itu bukan sekadar nama, tetapi juga menjelma sebagai tangan Tuhan. Melafalkannya berarti juga membawa Tuhan turun dengan kekuasaannya. Bumi, manusia, dan segala yang ada di dunia ini hanyalah terjemahan, dan bukti betapa melimpahnya kekuasaannya.

Kita pembaca buku ini pun tak hanya dibuat tenang, dan tenteram, tetapi juga bertambah yakin dengan pertolongan Alloh. Pembaca pun diajak untuk mengingat doa Rasulullah yang diajarkan pada Fatimah Az-Zahra : “ Wahai Zat  yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurusi makhluk-Nya, dengan rahmat-Mulah aku memohon pertolongan. Jangan lupakan diriku meskipun hanya sekejap mata, dan perbaikilah semua urusanku”.

Cara berikutnya adalah dengan Shalat. Di dalam shalat itu pula, terdapat lafadz-lafadz dan doa-doa kita kepada Tuhan. Melalui shalat kita dituntunkan bukan hanya memasrahkan diri kepada-Nya, tetapi melalui itu pula, kita dituntunkan agar tak berhenti untuk terus meminta dan berserah diri pada-Nya. Di shalat tahajud misalnya, Tuhan membuka pinta rahmat yang begitu luas dan ampunan yang begitu luas. Bahkan Allah pun berfirman “Adakah yang memohon ampunan, Aku akan mengampuninya. Adakah yang berdoa, Aku mengabulkan doanya”. Itulah gambaran betapa ijabahnya waktu di sepertiga malam terakhir.

Pembuka pintu masalah berikutnya adalah Shalawat Pada Nabi. Siapa yang paling banyak bershalawat pada nabi, kelak ia akan berada di sampingnya di hari akhir. Itulah kurang lebih perkataan Rasul. Shalawat mengajarkan kita agar semakin mencintai nabi, meneladaninya, dan terus-menerus menjadi pengamal sunnah-sunnahnya. Dengan shalawat itu pula, kita tidak hanya mengucapkan salam kepada nabi, tetapi kita juga dituntun untuk mengucap shalawat sebab Allah pun bersama para malaikat-Nya juga mengucapkan shalawat pula pada nabi kita.

Dua yang terakhir yang merupakan kunci menghadapi masalah kita adalah dengan Doa dan Tawasul. Dengan berdo’a kepada Tuhan, maka Tuhan pun akan mengabulkan. Dialah yang mengabulkan apa yang kita lisankan maupun yang kita ucapkan secara zahir. Tentu saja permintaan kita tak selalu dilimpahkan di dunia, ada permintaan kita yang ternyata ditangguhkan, dan akan dikabulkan di kehidupan kelak. Itulah mengapa kita dilarang untuk putus asa dari rahmat dan pertolongan-Nya.  Tawasul diartikan dengan meminta kepada-Nya disertai dengan melakukan apa yang disukai-Nya. Di antara tawasul adalah menyebut nama Allah, beramal shaleh, sedekah, dan istighfar.

Di antara tawasul yang memiliki hikmah luar biasa adalah mengucapkan induk istighfar, Rasul berpesan :“siapa yang mengucapkannya di waktu sore  dengan keyakinan, lalu meninggal dunia pada malam harinya, maka ia masuk surga. Sementara siapa yang mengucapkannya dengan penuh keyakinan di waktu pagi, lalu meninggal pada hari tersebut , pasti ia masuk surga”. Itulah keenam jalan yang dituntunkan bisa membuka kita dari berbagai masalah. Hal itu telah dipraktikkan bukan hanya oleh orang-orang sebelum kita, tapi juga oleh Rasul dan nabi kita.

Meski terkesan ringan, tapi ada ujian untuk istiqamah dalam mempraktikkannya. Keenam kunci itu bukan hanya semakin menambah kita yakin akan kekuasaannya, tetapi menambah keyakinan kita bahwa benarlah firman-Nya yang mengatakan “Hanya dengan mengingat-Nya, hati akan menjadi tenang”. Tenang di sini bukan berarti mabuk, tetapi tidak ada lagi kekhawatiran dan kegundahan di saat menghadapi musibah dan juga ujian dari-Nya.

*) Pengasuh MIM PK Kartasura, Pengelola doeniaboekoe.blogspot.com

, , , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan