novel-haji-murad-karya-leo-tolstoy

Di Balik Kisah Haji Murad

Oleh Budiawan Dwi Santoso

Haji Murad (2013). Novel ini mengisahkan tentang kisah nyata Haji Murad (1790-an-1852), seorang pejuang Muslim Chechnya, pejuang bangsa Avar, yang bersama dalam perlawanan rakyat Dagestan dan Chechnya melawan Rusia pada tahun 1811-1864. Dan, meskipun ia telah mati, sebelum perang itu sendiri berakhir, Murad tetap dikenal dan dikenang oleh bangsanya dan orang Rusia sendiri sampai kini.

Sosok historis dan kontroversial yang didengar Leo Tolstoy (1828-1910), ketika bertugas sebagai tentara di Kaukasus itulah, yang membuat Tolstoy menggarap kisahnya sebagai penghormatan atas kepahlawanan dan perjuangan yang gagah berani. Leo Tolstoy sendiri, yang dikenal sebagai salah satu sastrawan dari Rusia; seorang pemikir sosial dan moral pada masanya; serta dikenal karya-karyanya bercorak realis, bernuansa religius sarat dengan perenungan moral dan filsafat itu, telah ia buktikan semua lewat novel ini—tanpa melupakan novel-novel lainnya, seperti Childhood (1852), Boyhood (1854), Youth (1856), ataupun War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873).

Dalam novel ini, Haji Murad, yang digambarkan tubuhnya ramping, matanya lebar, salah satu kakinya lebih pendek, kepalanya yang botak ditutup oleh papakha (topi tinggi) dan serban merupakan sosok yang tenang, ramah, pemberani, orang suci, sehingga disebut sebagai dzigit di hadapan kawan dan lawannya.

Shamil, seorang imam dan pemimpin militer-religius ketiga di Dagestan dan Chechnya, sekaligus atasannya Haji Murad; lalu Pangeran Semyon Mikhailovich Vorontsov (komandan dan ajudan kerajaan di Rusia) dan istrinya, Putri Marya Vassilievna Trubetskoy; dan Mikhail Tarielovich Loris Melikov, seorang negarawan dan menteri dalam negeri Rusia pada masa itu, merupakan sebagian tokoh yang menjadi lawan dan kawan, turut menghormati sosok Haji Murad.

Adapun hubungan rumit antara mereka, yang terkadang menjadi kawan sekaligus lawan ini sebenarnya dikarenakan sifat asali yang dimiliki setiap manusia, yakni setiap orang bisa mengalami kecurigaan, kepercayaan, kecemasan, dan ketakutan. Selain itu, mereka juga bisa cenderung baik dan jahat hanya karena tujuan yang dimiliki. Inilah, yang tersajikan lewat tokoh-tokoh dalam novel ini. Dimana, Leo Tolstoy, sekali lagi mampu meramu kondisi kejiwaan setiap tokoh, yang kerap dialami oleh orang-orang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kita ini.

Di situlah, pembaca akan menemukan Shamil yang menjadi atasan Haji Murad, dengan tiba-tiba memutuskan untuk menangkap Haji Murad, baik hidup atau mati yang dikarenakan ketakutan berlebihan apabila pada nantinya Haji Murad akan menggeser kekuasaannya. Lalu, Mikhail Tarielovich Loris Melikov yang pada awalnya simpatik dan percaya pada Haji Murad, tiba-tiba mulai ragu dan ada rasa tak percaya terhadapnya ketika mengetahui kisah, sikap, sekaligus sifat Haji Murad yang hidup untuk menyenangkan diri, tidak memikirkan apa pun (hlm. 101). Dan, Haji Murad yang suka membelot dikarenakan karakteristiknya yang begitu. Inilah, yang langsung memantik kesadaran pembaca bahwa seorang pejuang—bisa dikatakan hero (pahlawan), tetap memiliki sisi buruknya. Setiap manusia tak terlepas dari sisi putih dan sisi hitam dalam dirinya.

Itupun belum lagi kisah tokoh-tokoh lain yang melakukan pengkhianatan, perselingkuhan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Yang jelas, pembaca, sekali lagi takjub terhadap Leo Tolstoy yang menggambarkan tokoh-tokohnya dengan penuh kedetailan, baik ditinjau dari segi fisiologis, sosiologis, maupun psikologisnya. Di hadapan pembaca, Tolstoy seperti memberi bukti sekaligus ingatan, bahwa seorang pengarang tak boleh mengandalkan imajinasi belaka, tak boleh terlepas dari realitas sejarah dan sosialnya, serta harus memiliki pemikiran yang kompleksitas, cerdas, sekaligus bernas.

Ingatan itu juga yang menautkan pembaca pada novel ini bahwa di balik kisah hidup Haji Murad yang dipenuhi peperangan, selain pembaca menemui rumah-rumah penduduk yang hancur, atap runtuh, orang-orang membunuh dan dibunuh, dan pembakaran ladang gandum, pembaca juga akan menyadari sekaligus membayangkan bagaimana kehidupan orang-orang gunung yang istimewa, penuh semangat, dan puitis lagi. Lalu, pembaca juga akan menemui kisah kehidupan keluarga petani—kisah yang tak luput dan selalu disajikan Leo Tolstoy dalam pelbagai karyanya—yang setiap memiliki anak putera, maka harus wajib militer dan mengabdi pada negara atau kerajaannya. Dan, di saat putera-puteranya harus berperang demi kepentingan negara dengan resiko besar, yakni kematian, di saat itulah orang tua semakin sadar bahwa menjadi tentara sama saja dengan menyambut kematian. Seorang tentara bagaikan tubuh yang menunggu ajal dan mengenangnya—menyakiti jiwanya—adalah sia-sia (hal. 76). Baginya, perang menyebabkan keputusasaan dan penderitaan semakin ‘berada.’

Sudut pandang terhadap tentara dan perang itu akan lain lagi bila yang menyatakan dari seorang tentara atau pihak militer. Dimana, dalam hal ini direpresentasikan oleh seorang perwira Rusia yang tampan bernama Butler. Baginya, perang hanya permasalahan untuk menghadapi bahaya, kemungkinan menghadapi kematian, dan oleh karenanya, mendapat penghargaan dan hormat rekannya di sini dan teman-temannya di Rusia. Baginya, suasana perang itu puitis (hal. 160).

Inilah, pelbagai kisah di balik novel Haji Murad. Dimana, ia (Haji Murad) sendiri mati di hadapan para tentara Rusia dengan gagah berani dan tanpa menyerah, karena setiap peluru yang menghantam ke tubuhnya berkali-kali tak membuat rubuh seketika. Ia masih bisa berdiri, melawan dan membunuh lawannya. Sebuah kematian yang juga disodorkan dan disadarkan oleh serpihan bunga widuri pada Leo Tolstoy yang melihatnya di tengah ladang, dengan kondisi bunganya telah tercabuti, patah, dan tergilas oleh roda, akan tetapi tetap bisa berdiri.

novel-haji-murad-karya-leo-tolstoyJudul buku: Haji Murad

Penulis : Leo Tolstoy

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta, Jakarta

Cetakan: I, Juli, 2013

Tebal: 242 Halaman

 

 

 

*) Budiawan Dwi Santoso, alumnus Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah FKIP UMS

Resensi Lain dari Budiawan Dwi Santoso: ‘ Sihir ’ dari Agus Dermawan T

, , , , , , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan