selingkuh-dalam-mimpi

Garda dalam Mimpi-Mimpi Nuri

Wanita dengan rambut sebahu dan berbulu mata lentik itu tiba-tiba terjaga dengan banyak keringat yang tanpa disadari membasahi tubuhnya yang mungil. Beberapa butiran bening dan terasa dingin terlihat menempel di keningnya.

Kaget, ya begitulah yang Nuri rasakan. Sudah hampir sepuluh tahun lalu dirinya tidak pernah berjumpa dengan pria itu. Boro-boro harus memimpikannya, mengingat-ngingatnya pun tidak pernah. Tapi apa yang terjadi kali ini, hampir tiga hari dalam seminggu Nuri selalu bermimpi hal yang sama tentang pria itu: bertemu dan memadu kasih layaknya Romeo dan Juliet. Lebih dari itu, apa yang menimpanya bukan hanya sekali dua kali, tapi sudah terjadi sejak hampir tiga tahun lalu, tepatnya ketika Nuri memutuskan menikah dengan Abhan, lelaki yang kini menjadi suaminya.

“Astaghfirullah”, Nuri mengusap wajahnya. Dia melirik ke arah kiri, nampak Abhan sedang terlelap dengan sedikit dengkuran.
Nuri memeriksa jam dinding, rupanya jam tengah menunjukan pukul setengah satu malam. Ada yang bilang bahwa mimpi di tengah malam itu memiliki makna, berbeda dengan mimpi yang hampir menyentuh pagi, itu namaya kembang tidur. Lalu, apa makna dari mimpi-mimpinya itu. Adakah pesan yang ingin disampaikan si pria yang selalu hadir dalam mimpinya itu? Bukankah Nuri tidak pernah memiliki masa lalu apapun dengan pria itu kecuali sedikit cerita kecil di zaman SMA dulu? Lagi pula Nuri sedikit tahu dari media sosial bahwa pria itu pun sudah beristri bahkan beranak dua, itu artinya dia pun sudah memiliki kehidupan sendiri dan tak mungkin memikirkan hal lain selain keluarga kecilnya.
Garda, begitulah nama pria yang akhir-akhir ini kerap mengusik malam-malam Nuri. Tidak banyak yang Nuri ingat, kecuali dulu dia adalah teman sekelas Nuri dan anak emas para guru. Garda pun termasuk ke dalam golongan anak pintar dan pujaan para gadis. Garda memang ganteng dan sangat aktif serta berjiwa kepemimpinan yang sangat baik. Nuri memang sedikit naksir. Dan ternyata gelagat Nuri diketahui oleh Garda. Nuri merasa bahwa Garda pun merasakan apa yang di rasakan Nuri, tapi sayangnya ternyata Garda terlihat merasa malu jika harus mengakui perasaannya. Usut punya usut ternyata Garda merasa tidak se-level dengan Nuri yang pendiam dan anak buruh. Garda lebih memilih Gina, gadis kaya yang lincah dan terkenal. Padahal setahu Nuri, tidak pernah sedikitpun Garda menaruh hati pada Gina. Tapi tatkala Gina menyatakan cintanya pada Garda, ternyata Garda tak mampu menolak dan dengan serta merta melupakan Nuri. Sekalipun Garda dan Nuri sekelas dan punya rasa yang sama, tapi Garda selalu bertingkah seperti orang yang tak mengenalnya. Hal itulah yang membuat Nuri berjanji untuk tidak ingin lagi mengingat Garda apalagi berharap banyak. Maka sejak perpisahan sekolah sepuluh tahun lalu, Nuri sudah benar-benar menghapus Garda dari ingatannya.
“Ah, itu hanya mimpi!” Nuri berusaha menghapus fikirannya yang mulai enggak-enggak. Secepat mungkin dia kembali ke tempat tidur dan memeluk suaminya yang masih terlelap.
***
Tok…tok…tok…terdengar suara ketukan pintu dari luar. Nuri bergegas ke ruang depan. Sebelum membukakan pintu biasanya Nuri selalu mengintip dulu dari balik tirai siapa sekiranya tamu yang datang. Jika mencurigakan Nuri tidak akan membukanya dan memilih mengunci diri. Tapi jika itu orang yang dikenalnya, tentu saja dengan senang hati Nuri akan membuka pintu rumahnya. Wajar saja Nuri sangat berhati-hati karena dari pukul delapan hingga sore nanti Nuri ditinggal kerja oleh Abhan. Jadilah dia sendiri di dalam rumah.
” Kamu, Nen?!” Nuri hampir teriak girang melihat siapa yang datang. Rupanya itu adalah Neni, sahabatnya sejak SMA.
Nuri mempersilahkan masuk, mereka mengobrol ngalor-ngidul hingga tak terasa sudah hampir tiga jam Neni bertandang di rumah Nuri.
“Jadi besok kamu mudik ke Garut bareng suami dan kakakmu, Nen?” tanya Nuri seraya menyeruput teh yang dari tadi hampir dilupakannya.
“Ya, kita akan ngadain tahlil Mak Isoh yang ke-40 harinya. Kita anak-anak dan para cucu disuruh kumpul semua. Ulfa yang dari Tasik dan Garda yang dari Bogor juga akan datang. Kapan lagi kami saudara sepupu bisa kumpul kalau tidak ada acara keluarga seperti ini,” jelas Neni.
Garda, ya Nuri baru ingat bahwa Garda adalah saudara sepupunya Neni dan Ulfa. Mereka satu angkatan. Hanya bedanya, Garda lebih moncer dalam segala hal di sekolahan sedangkan Neni dan Ulfa cenderung biasa-biasa saja, bahkan mereka lebih memilih bersahabat dengan Nuri yang memang keturunan orang biasa.
“O…ya itu…itu…kabar si Garda bagaimana…Ulfa juga bagaimana?” Sedikit kaku Nuri menanyakan perihal Garda.
“Mereka baik. Ulfa sudah punya anak satu, kalau Garda sudah dua. Tapi sayang, istrinya Garda…” Neni berhenti bercerita hingga membuat Nuri penasaran.
“Istrinya Si Garda kenapa?” Tanya Nuri dengan wajah yang sangat serius.
“Istrinya Garda…dia….gendut!” Jawab Neni sembari tertawa terbahak-bahak.
“Ah, kamu! Kirain kenapa. Jangan suka ngehina lo…dia tuh kakak sepupumu.”
“Bukan ngehina, tapi fakta. Kalau difikir-fikir lebih cantikan kamu, Nur!”
Nuri sedikit kaget dengan ucapan Neni. Apa jangan-jangan dulu Neni tahu kalau dia pernah naksir Garda?
“Namanya juga jodoh, kan sudah diatur. Mungkin juga istrinya Garda itu orang berpendidikan dan pintar seperti dia, jadi mereka serasi.”
“Bener, Nur! Aku dengar dari Uwak Asep kalau istrinya Garda itu anak orang terpandang di desanya dan kaya raya. Bahkan sekarang Garda dibangunkan rumah mewah oleh mertuanya.”
Penjelasan Neni cukup meyakinkan Nuri bahwa dari dulu Garda memang selalu mencari pasangan yang sebanding dengannya terutama dalam masalah sosial. Nuri yang tadinya ingin bercerita tentang Garda yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya merasa bahwa itu tidak penting lagi. Meski kehadiran Garda dalam mimpinya terasa rutin dan aneh, tapi Nuri yakin itu hanya bunga tidur.
“Aku pulang dulu ya. Besok-besok kalau suamiku libur aku mampir lagi ke tempatmu.” Neni berpamitan dan tak lama dia lenyap di belokan gang rumah.
Hari ini tanggal dua belas, itu artinya Neni sudah berada di Garut untuk acara empat puluh hari Mak Isoh. Neni mengirim foto-foto kebersamaan dia dengan keluarganya di kampung lewat pesan WA kepada Nuri. Neni bercerita bahwa dia sangat senang berkumupul bersama sanak saudaranya. Dalam foto itu tampak Ulfa yang sedang menggendong anaknya yang kalau dilihat-lihat lebih mirip ke bapaknya. Ulfa tampak jauh lebih kurus dibanding dengan zamannya sekolah dulu. Di sisi kirinya tampak seorang pria dengan batik coklat digandeng wanita bertubuh subur. Entah apa yang terjadi, tapi ketika melihat foto pria itu hati Nuri tiba-tiba bergetar. Nuri hafal benar bahwa itu adalah Garda. Dan…mungkin saja wanita gemuk yang menggandeng mesra lengan Garda itu adalah istrinya.
Nuri menarik nafas. Wajah Garda tidak berubah, masih tampak seperti anak SMA. Ya, wajahnya sama persis dengan yang selalu Nuri lihat dalam mimpi.
Untuk sekian lama Nuri menyimpan diam-diam foto Garda dalam memori teleponnya. Bukan Abhan tidak pernah menanyakan, namun tak sedikitpun suaminya curiga tentang keberadaan foto tersebut sebab Garda berfoto bersama semua keluarganya.
“Ini foto Neni bersama keluarganya. Ada Ulfa juga, lumayan bisa mengobati rasa kangen aku sama sahabat-sahabatku.” Jelas Nuri pada satu waktu. Waktu itu Abhan tidak menjawab apapun, kecuali tersenyum dan meninggalkan Nuri sendiri di ruang tengah.
Semakin hari sejak gambar Garda disimpan di memori telepon Nuri, maka sejak itu pula keberadaan Garda semakin sering mengganggu tidur nyenyak Nuri. Mimpinya seperti nyata. Nuri bahkan sempat terbawa kebahagian semu yang dirasakannya saat memadu kasih bersama Garda, tentunya dalam mimpi. Nuri kerap merasakan bunga-bunga di hati tatkala terbangun dari tidur, bukan karena ada sambutan dari suami tercinta yang mengecup keningnya dan mengucapkan selamat pagi untuknya, tapi karena semalam dia bermimpi berduaan dengan Garda yang menyanjung-nyanjungnya seperti Dewi.
Berulangkali Nuri mengelak, tapi entah mengapa dia akan semakin rindu dengan Garda. Mungkin Nuri sekarang sudah lupa bahwa dulu Garda pernah menganggapnya tak ada. Mungkin Nuri juga lupa bahwa sekarang Garda dan dia telah memiliki pasangan masing-masing. Kehadiran Garda dalam mimpi-mimpinya telah menghipnnotis Nuri, dia lupa akan kenyataan sebenarnya bahwa sesungguhnya dia dan Garda terpisahkan oleh dinding kemustahilan. Atau Nuri tidak pernah memakai logikanya, bahwa mungkin saja Garda tidak pernah bermimpi tentangnya walau itu hanya sebentar apalagi merasakan kerinduan yang seperti Nuri rasakan sekarang. Jika sudah begitu, bukankah cinta bertepuk sebelah tangan sepuluh tahun lalu akan kembali terulang lagi kini?
Ya, Nuri telah lupa segalanya. Kerinduannya pada Garda telah membuat dia menduakan Abhan di dalam hatinya. Nuri menjadi kurang perhatian kepada Abhan, dia sibuk di media sosial hanya demi memantau Garda: Barangkali dia sekarang online. Tapi sayang, sejak beberapa bulan lalu Garda tak aktif lagi di dunia maya. Hingga akhirnya Nuri memutuskan menelepon Neni yang lama tak memberinya kabar.
Untuk beberapa saat telepon dari Nuri tidak diangkat Neni. Namun di ujung keputus asaannya, tiba-tiba terdengar suara Neni menyahut…” Halloo….!”
Untuk beberapa lama Nuri dan Neni berbincang lewat telepon, tampak butiran kecil perlahan mengalir di pipi Nuri. Pelan-pelan telepon Nuri terjatuh dan akhirnya dia menangis sesenggukan. Nuri membungkukan badan dan menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya. Nuri terduduk di lantai, hingga tak disadarinya Abhan telah memeluk tubuhnya.
“Kamu kenapa, apa kamu sudah dengar tentang Garda?” Tanya Abhan seraya menyeka air mata Nuri.
Nuri tersentak kaget, bagaimana bisa Abhan tahu kalau dia baru saja menanyakan perihal Garda pada Neni. Bukankah selama ini Abhan tidak pernah tahu siapa itu Garda?
“Apa yang kamu katakan?” Tanya Nuri dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
“Garda teman kuliahku. Dia bercerita tentangmu saat aku mengiriminya undangan pernikahan. Dulu dia sangat mengagumimu, tapi dia merasa bodoh karena tidak menghiraukan perasaanmu. Dia menitipkanmu padaku, karena kamu wanita baik-baik. Garda mengakui bahwa dirimu adalah salah satu wanita terbaik yang bisa dijadikan istri. Aku juga tahu kamu selama ini kerap memandangi foto Garda. Tapi biarlah, toh aku selalu merasa yakin bahwa sampai akhir hayatku kau akan tetap jadi istriku.”
Mendengar penjelasan Abhan Nuri tak mampu berkata apapun, kecuali rasa tidak percaya yang dibalutnya dengan rasa sedih yang tak terkira…sebab hari ini ketika dia ingin meluapkan rasa rindunya pada Garda dengan cara menelepon Neni, Nuri malah mendapatkan kabar yang tak diduganya: bahwa Garda telah tiada.
Ya, Garda telah tiada sejak sebulan lalu karena penyakit kanker yang selama ini didiamkannya dari keluarga. Dan Abhan adalah satu-satunya sahabat Garda yang mengetahui perihal penyakit Garda. Mereka kerap bertukar cerita lewat telepon tentang apapun yang terjadi, tanpa sepengetahuan Nuri.

,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan