Bermimpi Jadi Pilot

Suatu waktu di masa kecil, aku pernah bermimpi menjadi pilot. Aku sudah lupa apa yang jadi pemicunya. Barangkali waktu itu sedang musim hujan sehingga bersama saudara-saudaraku kami mengejar capung di dekat lapangan sekolah yang becek, atau bisa jadi aku malah sedang menerbangkan layang-layang kemudian berfantasi kalau akulah pengemudi layang-layang tersebut, atau mungkin saja saat itu aku sedang disuruh tidur siang oleh ayahku ketika mendengar bunyi pesawat terbang di atas atap rumah lalu aku berlari keluar untuk melihatnya. Aku lupa mana yang benar dari ketiganya. Dan aku lupa pernah bermimpi setinggi itu karena hari-hari menjelang dewasa adalah hari-hari krusial saat seseorang dapat dengan mudah melemparkan mimpinya ke tempat sampah.

Pada usia dua puluh tiga tahun, setelah setengah tahun bekerja sebagai penjaga mesin fotocopy, dengan tidak memiliki tabungan, dengan hubungan yang ruwet; Aku berhenti. Sebelumnya, Aku sudah berhasil mengajak tidur teman sekampusku beberapa kali hingga dia hamil dan kami berdua tidak tertolong. Kedua orang tuaku yang mendengar berita setelah Mei mengandung tiga bulan mengirimku sejumlah uang dengan pesan singkat; “Itu uang terakhir dari bapak dan mama. Sekarang kau sudah dewasa.”

Mei lebih parah. Dia menunggu hingga melahirkan dulu baru pergi ke rumah orang tuanya, membawa serta bayi kami yang baru berusia kurang dari dua bulan. Lalu dua hari kemudian, malam hari, dia datang ke kosku lengkap dengan kopor besar dan bayi itu.

“Mereka menolak merawat anak ini.” Katanya putus asa. Kami baru semester lima lalu memiliki seorang bayi tentu sangat mengerikan. Seolah-olah lampu masa depan mulai meredup perlahan di depan kami. Atau seperti ketika kau sedang menyusun bata menjadi tangga lalu suatu hari tiba-tiba baaamm! hancur berkeping-keping. Kau bahkan tidak tahu yang kau lakukan setelah itu; menyusun ulang bata atau hanya membersihkan keping-kepingnya yang hancur.

Kami tidak saling menyalahkan, malah kami tertawa sewaktu-waktu menyadari betapa cerobohnya hidup di usia awal dua puluhan, dan kami bertahan. Jadi kami telah sepakat; dia mengambil cuti satu tahun untuk merawat bayi sementara Aku mencari kerja. Kami mengontrak sebuah rumah dan membeli barang-barang untuk kebutuhan si bayi. Dan mau tidak mau aku harus mencari kerja.

Aku melamar di sebuah warung internet mula-mula saat sedang dibutuhkan seorang karyawan. Gajinya delapan ratus ribu rupiah per bulan. Setelah seminggu, lantaran memperoleh shift malam setiap hari Mei tidak tahan dan menyuruhku berhenti. Bayi kami selalu terbangun saat tengah malam sehingga Aku semestinya berada di sana membantu gadis itu; mengganti popok dan sebagainya.

Aku mendapat pekerjaan sebagai penjaga mesin fotocopy beberapa hari kemudian dengan rincian tugas berupa fotocopy, laminating dan scan. Itu adalah pekerjaan yang cukup mudah dengan gaji 1,2 juta per bulan, namun tidak mudah dijalankan bila teman-teman kampusku yang datang. Aku tidak kuat menyembunyikan rahasia dari mereka.

Tiga bulan kemudian aku berhenti. Mei menjadi kurus sebab bayi kami harus gemuk dan sehat sementara uang dari pekerjaanku bahkan tidak mampu mengajaknya keluar sekedar menonton film di bioskop. Hanya sesekali kami makan malam di warung sup kambing Pak Min, selebihnya Aku sedih melihatnya.

Berikutnya, lamaranku diterima di sebuah toko buku sebagai salah satu karyawan marketing. Bulan pertama, dari sebagian gaji pertamaku yang senilai 1,5 juta kubelikan gaun untuk Mei. Bukan gaun yang bagus, tetapi rasanya istimewa sekali. Aku mengajak Mei pergi ke sebuah distro malam hari, dia melihat gaun itu tergantung di sana. Dia tidak bilang bahwa dia khawatir jika dia tidak mendandani dirinya dan mengenakan pakaian bagus maka dia tidak akan menarik lagi di mataku. Dia hanya berkata bahwa salah satu mantan teman kuliahnya pernah berbicara dengannya soal gaun itu, kalau saja dia punya uang Mei akan membelinya.

Hari-hari kami mulai terasa lebih ringan. Satu tahun berselang, bayi kami telah belajar merangkak dan berdiri, dia dapat tertawa dengan keras dan menangis nyaris tanpa henti. Aku melihat kepada Mei dan bayi kami, berusaha menyangkal perasaan bahwa aku sedang terjebak di sana tanpa masa depan.

Satu waktu, saat itu sedang hujan dan pengunjung menjadi sepi, aku mengambil sebuah buku lalu duduk di pojok kemudian mulai membaca.

Kisahnya begini;

Ada sebuah pasangan suami-istri yang hidup sangat sederhana karena keduanya telah melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan gaji murah. Sang istri bekerja sebagai penulis lepas dan bekerja sama dengan berbagai penerbit dalam hal tulis menulis sementara sang istri bekerja pada sebuah lembaga social yang merawat para penderita lumpuh dan anak-anak terlantar. Kalau dihitung secara keseluruhan, dalam sebulan kedua suami istri di atas memperoleh penghasilan bersih sebanyak 1 juta rupiah. Dari 1 juta sang suami mendapat jatah sebanyak dua ratus ribu rupiah untuk bersenang-senang sementara sang istri mendapat jatah yang sama untuk urusan kecantikan. Mereka hidup taat serta terlibat dalam banyak urusan sosial dari sumbangan pembangunan rumah ibadah sampai arisan dengan tetangga, dari pembelian mainan untuk anak-anak terlantar sampai penyediaan makanan kucing peliharaan sang suami. Begitulah kehidupan mereka sehingga mereka makan dan minum secara sederhana dan hanya menyisihkan sebanyak seratus ribu rupiah sebagai tabungan.

Setelah hampir dua puluh tahun kehidupan mereka begitu terus, suatu hari kedua suami istri ini memutuskan untuk berubah. Mereka ingin kaya, menikmati hidup dan setidaknya mulai memikirkan kehadiran seorang anak. Butuh waktu sebulan bagi mereka mencari jalan keluar sebelum mendapatkan ide untuk memalsukan kematian keduanya.

“Banyak orang akan tersentuh oleh karena amal baik kita. Yang kita lakukan hanyalah pindah dari kota ini secepat mungkin dan menghilang. Coba pikirkan berapa yang akan diberi oleh badan amal tempatmu bekerja? Kemudian dari keluarga orang-orang lumpuh yang kau rawat?”

“Ini benar-benar ide kiamat.” Sahut sang istri berdebar-debar.

“Orang-orang itu boleh saja membayar pekerjaan kita dengan gaji kecil, namun setelah mereka menaruh belas kasih terhadap kita maka mereka tidak peduli lagi berapa uang yang akan dikeluarkan. Lihat saja.”

“Eh, tunggu dulu.” Sang istri berpikir sebentar kemudian bertanya, “Menurutmu, apakah saya layak dikenang oleh mereka?”

“Tentu saja. Hitung berapa banyak waktu yang kau buat untuk kebaikan? Dua belas jam selama sehari dalam dua puluh tahun. Kau tidak pernah terlibat pertengkaran dengan siapa pun dan tidak pernah molor kerja. Kau dicintai dan diterima tetangga. Anak-anak memuja dirimu bagaikan ibu mereka yang hilang.”

Dalam seminggu sesudah kesepakan kedua suami istri ini, barang-barang rumah tangga mereka dipindah diam-diam. Mereka menjual perkakas yang besar dan yang tidak mungkin disertakan dalam pelarian, membawa pakaian lama serta yang tidak terpakai yang jumlahnya benar-benar beberapa potong saja ke pusat donator fakir miskin. Tetapi mereka menyisakan beberapa supaya kelihatan rumah itu masih berisi dan tidak menimbulkan kecurigaan. Lalu suatu pagi, saat tetangga bangun, mereka mendapati rumah sepasang suami istri tadi telah kosong dan sunyi.

Dalam beberapa hari berikut, seorang tukang pos membawa sebuah surat kepada tetangga terdekat mereka dan isinya menyatakan bahwa kedua suami istri telah tewas sewaktu mereka sedang menikmati liburan di kampung halaman. Dalam surat, tidak disebutkan nama kampung halaman, sebelumnya dalam kehidupan mereka kedua suami istri itu tidak pernah mengatakan dari mana mereka berasal.

Dari tempat persembunyian, suami istri tadi menuliskan beberapa surat untuk dikirimkan kepada lembaga amal dan anak-anak terlantar serta kepada kepala penerbit tempat suaminya bekerja. Isi surat sang istri menyatakan suami sudah wafat dengan tenang sementara isi surat sang suami menyatakan kematian sang istri. Mereka melakukannya dengan bersih tanpa kesalahan.

Berita mengenai kematian sang istri yang mendadak begitu memukul badan amal karena mereka kehilangn tokoh tauladan. Mereka berniat datang berbela sungkawa namun tidak jadi karena di dalam surat dinyatakan jenazah sang istri sudah berada di rumah orang tuanya di daerah yang jauh. Maka dikirimlah sejumlah uang. Ketika para orang tua orang-orang lumpuh mendengar berita ini reaksi mereka sama seperti badan amal. Lalu mereka mengirimkan sejumlah uang.

Namun, yang terjadi dengan surat kematian sang suami sedikit lebih dramatis. Ketika surat tersebut sampai ke kepala penerbit, seluruh staf diberitakan dan mereka bersedih hati karena sang suami itu adalah seorang pegawai lepas yang amat produktif. Tulisannya telah mempengaruhi banyak orang dan mengangkat nama orang-orang. Kepala penerbit meneruskan berita itu kepada orang-orang terkenal, orang-orang terkenal menyampaikannya lagi kepada lembaga yang menaungi mereka. Dari lembaga itu dikeluarkanlah sejumlah bantuan keuangan yang lumayan besar untuk hidup selama sepuluh tahun lewat orang-orang terkenal itu. Selanjutnya orang-orang terkenal yang namanya terangkat karena buah tangan sang suami, meneruskan uang kepada kepala penerbit dengan jumlah yang telah dipotong karena mereka menganggap jumlah itu terlalu besar. Lalu kepala penerbit melakukan hal yang sama dengan uang itu sehingga saat dikirimkan uang sisa lima juta rupiah saja.

Tidak hanya sampai di situ, surat kabar online dan media masa memuat berita mengenai figure mereka sehingga keduanya menjadi terkenal. Dalam sebulan lembaga-lembaga tempat sang suami dan sang istri bekerja sebelumnya mendapat bantuan dan terkenal mendadak. Dalam setahun kasus korupsi bantuan keuangan muncul ke permukaan dan memancing perseteruan berbagai pihak. Tetapi di persembunyian, kedua suami istri tadi hidup tetap sesederhana sebelumnya dan setelah lima tahun, persediaan mereka habis. Masalah pun datang. Sekarang, setelah mereka menjadi terkenal tanpa sengaja, mereka sedang berpikir keras bagaimana untuk keluar kembali ke kehidupan yang sebenarnya tanpa diketahui orang-orang yang mengira mereka telah mati.

Cerita itu selesai. Tidak terlalu bagus tetapi aku seperti merasa seseorang tengah meletakan buku itu dengan sengaja di sana agar aku membacanya, dan agar aku mengetahui pelajaran sederhana bahwa di dunia yang luas ini seseorang di dekatku saja tentu punya masalahnya sendiri. Aku seharusnya berdiri tegak menatap tiang bendera, menghayati hidup seberapa pun masa depan tampak suram di ujung lorong.

Kupikir-pikir, hidup kami memang selucu dan sehancur hidup sepasang suami istri dalam cerita. Aku seharusnya tinggal memilih saja; berlari keluar dari pintu depan dan menyambut sebuah mobil yang sedang melaju kencang dengan tangan terentang sambil berteriak; ‘aku datang, ambilah beban dari pundak mudaku ini’ atau berjalan pulang ke rumah kontrakan dengan sendu, menerima uluran tangan Mei dan mengganti popok bayi kami lalu berusaha hidup senormal mungkin; seperti hujan yang turun pada musimnya, seperti roda sepeda, seperti buku pada rak itu. Sesekali buku itu mungkin akan jatuh ke lantai, tercerai dan kusut. Lalu sepasang tangan akan datang merapikannya. Mudah bukan? Semudah jika aku bernyanyi untuk bayi kami hinggap dia terlelap sehingga aku dan Mei akan bercinta diam-diam. Lalu kami berhenti jika bayi itu terganggu, bahkan tidak tidur lagi hingga pagi.

Di momen tersebut, aku mulai memikirkan mimpi masa kecilku menjadi pilot. Dan ketika melihat diriku sendiri dalam seragam putih dan topi putih, aku bisa melihat rumahku pudar di bawah sana, seorang pramugari dengan senyum menggoda yang datang membawaku segelas minuman tetapi dalam matanya dia menwariku segala kenikmatan apa saja yang bisa kureguk darinya. Aku membayangkan hotel-hotel berbintang serta perjalanan menyenangkan, petualangan masa muda yang liar dan panas, dan lebih dari itu aku tidak pernah membayangkan memiliki bayi dan seorang gadis yang meletakan hidup mereka ke atas telapak tanganku. Mimpiku menjadi pilot adalah tentang hidup di atas awan dan melihat ke bawah.

**

 Ilustrasi: google

,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan