etos-intelektual-herb-feith

Herb Feith dan Etos Intelektual

Meski pada dekade ini  telah banyak kajian dan penelitian tentang negeri kita, tapi kita tak bisa melupakan kerja indonesianis yang mengawali menekuni Indonesia. Kisah para indonesianis ini tak hanya piawai, tekun dan ulet dalam mengkaji Indonesia, lebih dari itu, para indonesianis memiliki misi lebih jauh tak hanya dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga kepedulian akan kemanusiaan dan apa yang terjadi di negeri ini.

Itulah gambaran yang ditunjukkan oleh Herb Feith. Herb Feith adalah sosok intelektual yang mengalami lintas identitas dan akhirnya menemukan jati dirinya sebagai seorang intelektual di Indonesia. Ia adalah pria keturunan Yahudi yang mengalami konflik dan penindasan akibat rezim fasisme Hitler. Karena kondisi itulah ia mesti mencari suaka, dan Australia adalah tanah yang kelak mengantarkan dia pada ketertarikannya menjadi peneliti di Indonesia.

Masa kecil Feith menunjukkan masa-masa gemilangnya, ia terlalu cepat menyesuaikan diri sebagai keturunan Yahudi, dan mengalami masa-masa penyesuaian dengan kebiasaan, dan kehidupan barunya di Australia. Sudah semenjak usia muda Feith justru menemukan liberalisasi pemikiran dan kesadaran kemanusiaannya. Jemma Purdey mengutip dalam buku ini: “waktu itu saya membaca berbagai buku yang mengubah cara pandang saya menjadi seorang humanis. Saya mulai melihat agama Yahudi sebagai suatu rintangan. Mungkin karena saya mulai bosan, ditambah perasaan ingin memberontak, saya mulai menyebut diri sebagai penganut sosialis dan internasionalis. Apalagi saya kesal dengan ajaran Yahudi yang mengharuskan kami berpacaran dengan sesama orang Yahudi (h.28). Ia tak lagi berpikiran tertutup dan mempertahankan tradisi Yahudi sebagaimana ibunya. Baginya kepedulian untuk membuat dunia lebih baik sudah menjadi visi awalnya semenjak masa mudanya.

Kecerdasan Feith makin tampak tatkala ia  bersekolah di Melbourne High School. Disinilah, kelak ia akan bertemu dengan pujaan hatinya dan menambatkan cita-cita awalnya untuk meneliti Indonesia. Kebijakan-kebijakan pemerintah Australia yang mengarah pada kepedulian dan perannya di Asia Tenggara membawa Herb Feith ikut terlibat dalam perhatiannya pada isu-isu Indonesia. Di kala itu, Indonesia masih dalam perjuangan menuntut kemerdekaannya.

Pada tahun 50-an, Herb terlibat dalam United Nations Intershool Committee (Komite Antar Sekolah Bangsa-Bangsa) yang turut memperhatikan nasib Negara tetangganya Indonesia. Kepedulian Feith dan teman-temannya pada Indonesia membawanya memilih jurusan ilmu politik di Universitas Melbourne. Setelah menyelesaikan sarjananya, Feith makin menekuni Indonesia. Di Jakarta ia mulai mengamati bagaimana gejolak dan perkembangan Negara ini dari dekat. Dari Jakarta inilah, kelak ia akan bertemu dengan Don Anderson, George MT. Kahin, Geertz dan teman-teman lainnya dari Cornel University.

Kehadiran Herb pertama kali di Indonesia tak langsung mulus. Ia mengalami culture shock ketika melihat Jakarta yang sesak, macet dan penuh dengan ketimpangan antara yang kaya dan miskin. Dari amatannya, ia melihat banyak yang timpang dan salah dengan pemerintahan di sini. Pelan-pelan ia mulai memiliki jaringan yang cukup luas mulai dari kolega dari lingkungan akademisi, dan juga lingkaran kekuasaan. Herb melihat situasi dan pergantian kabinet di masa Soekarno, sampai pada pergantian rezim dari Soekarno sampai ke Soeharto. Pada masa transisi itulah, ia mesti kembali ke Australia. Di saat ia mengalami pelarangan ke Indonesia, ia menjelajahi Asia-tenggara, utamanya Filipina. Thesisnya berhasil dengan tajuk : Political Development in Indonesia in the period of the Wilopo Cabinet, April 1952-June 1953 ( perkembangan politik di Indonesia di bawah Kabinet Wilopo, April 1952-Juni 1953), ini merupakan penelitian pertama mengenai politik Indonesia pasca- kemerdekaan.

Etos dan Kesederhanaan

Jemma Purdey memberikan sajian menarik tentang Feith. Meski dilengkapi dengan data yang segudang, tapi tak mengurangi bagaimana cara Jemma yang unik menghadirkan sosok Feith. Sosok Feith ditampilkan secara sederhana dan apa adanya. Sosoknya yang ramah dan penuh keterbukaan serta sikap kepeduliaannya kepada kemanusiaan ditunjukkan detail dalam buku ini. Mulai masa mudanya, Feith sudah bergelut pada cita-cita perdamaian, hingga masa ia di Indonesia memerhatikan kehidupan kaum bawah dan kehidupan pembantunya. Feith mengalami saat-saat pembantunya kehilangan anak perempuannya yang sakit tak tertolong. Gejolak batin ini memberi pengaruh pada diri Feith lebih dalam, ketika ia harus berjuang dalam menciptakan dunia yang lebih baik.

Masa-masa menjadi  professor merupakan masa dimana Feith bekerja penuh pengabdian dan pengajaran. Akan tetapi masa-masa itu ia tinggalkan, dengan resiko hilangnya tunjangan dan minimnya gaji. Meski demikian, ia justru fokus pada “Indonesia”, setelah lama berkeliling Asia Tenggara belum menemukan subjek kajian yang menarik selain Indonesia. Kerja itulah yang menghasilkan buku paling monumental bagi Indonesianis pertama yang meneliti tentang perubahan konstitusi di Indonesia (The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia).

Kerja yang luar biasa ini memperoleh sanjungan dan pujian dari para sarjana Cornell seperti M.T. Kahin, Benedict Anderson, dan lain-lain. Feith telah menunjukkan pada kita dengan keteguhan sikap dan kesederhanaannya, hampir ia tak pernah memikirkan dan menyoal perkara pribadi lebih dari itu melalui penguasaan dan tanggungjawabnya sebagai ilmuwan, ia lebih memilih bekerja dan kembali pada misi intelektualnya, sebagai seorang peneliti Indonesia dan berjuang untuk misi besarnya yakni pada perdamaian dan keadilan sosial. Jemma Purdey melalui buku ini menunjukkan pada kita sosok Feith dengan kesederhanaan dan etos intelektualnya, yang jauh dari misi pribadi, melainkan sebaliknya selalu bercita-cita sebagai seorang humanis dan internasionalis.

*)Penulis adalah Pegiat Bilik Literasi SOLO, Pengasuh MIM PK Kartasura

,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan