Jangan Khawatir, Pacarku Tidak Memilih Presiden

“Coba bayangkan,” temanku mengandaikan, bahwa semua manusia di bumi ini pada akhirnya tiba pada sebuah periode teknologi yang demikian canggih, yang mana pada setiap kota diletakan mesin besar untuk memformat ulang masing-masing dari kita.

“Kita ambil contoh,” katanya, “Kau masuk ke dalam mesin itu seolah-olah ke dalam mesin ATM, lalu beberapa menit kemudian kau keluar lagi dengan bentuk tubuh yang bukan milikmu lagi. Jangan kaget kalau ternyata di dalam mesin besar itu terdapat sebuah format untuk membentuk ulang fisik manusia. Jadi ketika masing-masing dari kita masuk ke dalamnya kemudian keluar lagi kita telah sama dengan orang-orang di sekitar kita yang masuk dan keluar terlebih dahulu. Tiba-tiba kita mendapati bahwa kita semua sedang membentuk kerumunan besar layaknya koloni semut dengan warna kulit yang sama, rambut iklan sampo yang sama, bermata hijau zamrud, berbibir merah apel, berkaki jenjang dengan betis bulir padi, dada malaikat, bokong fotogenik, dan perut enam kotak atau delapan kotak kalau lebih. Maka pada saat itu, kau tidak akan membedakan lagi ibumu dari teman wanitamu.”

Aku langsung dapat membayangkan mesin yang diandaikan temanku, berdiri kokoh di sebuah pusat kota sementara orang-orang sedang antri di depannya. Setelah semua terformat dengan baik, maka tidak akan ada lagi seseorang yang disebut cantik atau buruk rupa, semua wanita adalah satu model wanita yang sama dan seorang pria adalah cerminan pria di sampingnya.

“Kekacauan besar pasti akan terjadi.” Aku berkata kepada temanku.

“Setidaknya tidak akan timbul rasisme.”

“Kalau ada mesin semacam itu, aku jelas-jelas tidak akan masuk ke sana.”

“Aku pun begitu.” Sahut temanku, “Tetapi bagaimana bila tidak ada pilihan untuk mengelak? Misalkan, pilihan untuk masuk ke dalamnya menawarkan umur yang lebih panjang misalnya.”

“Aku akan berusaha tidak tergiur, setidaknya saat ini aku sudah mulai memikirkan kemungkinan buruk bila ikut-ikutan masuk ke dalam lalu terformat. Mati pada usia tujuh puluh tahun tidak masalah bila dibandingkan menjadi mahkluk mengerikan seperti itu.”

Temanku membungkukan tubuhnya ke atas meja kemudian menyodok bola satu per satu ke dalam lubang. Hingga tersisa bola hitam nomor delapan di sudut kiri, dia menyerahkan stick kepadaku.

“Kalau kau bisa memasukan bola itu dari sini maka kita anggap saja mesin sialan itu tidak perlu tercipta di dunia ini.” Dia menepuk pundakku kemudian berdiri di dekat bola hitam. Aku menyodok bola putih dengan kencang sekali hingga menabrak bola hitam, lalu kedua bola itu secara berurutan memantul ke tengah meja, terus bergerak ke utara dan masih secara berurutan dengan yang hitam di depan, mereka masuk ke dalam lubang di depanku.

Temanku merentangkan tangannya, dia terlihat sangat yakin bahwa pengandaiannya bakal benar-benar terjadi bila aku tidak mampu memasukan bola hitam.

“Kau dengar,” dia berkata beberapa sesaat kemudian, “Yang paling kusesalkan nanti jika mesin itu ada adalah seleraku terhadap wanita. Bagaimana jadinya bila semua wanita terformat? Apa aku harus memacari seorang gadis yang sebelum masuk ke dalam mesin itu ternyata tidak cantik sama sekali? Atau ternyata mengidap kelainan tertentu sehingga tidak layak dijadikan pacar?”

“Aku malah melihat itu sebagai keuntungan jika ternyata pacarku nanti adalah seorang model sebelum terformat.”

“Kemungkinan semacam itu kecil sekali,” Protes temanku, “Aku lebih melihat kecenderungan wanita jeleklah yang kemudian masuk ke dalam mesin format dan menjadi pasanganku. Siapa yang mau rugi?”

Dia mungkin saja tidak bermaksud apa-apa, namun aku merasa seakan-akan dia sedang menyinggungku. Bagaimanapun juga, pacarku Juli, lumayan. Perjumpaan kami biasa saja; suatu malam aku mengirim ‘hai’ ke facebook-nya kemudian membuat janji temu.

Temanku, ketika pertama kali bertemu Juli dia terang-terang bertanya padaku mengapa aku memacari gadis itu.

“Seleramu jatuh.” Kata temanku. Entah bagaimana, perkataannya tentang selera menyeretku lebih jauh. Seperti gaung yang berulang-ulang. Setelah bersama Juli, seleraku terhadap makanan sering berubah. Sebelumnya Aku menyukai mie instan pedas, tetapi setelah kedatangannya penggunaan kata ‘pedas’ berarti pas-pasan.

“Nanti kau kena usus buntu.” Juli memperingatkanku bila aku bertanya apakah masih ada cabai yang bisa kugunakan.

“Ini tidak seberapa pedas.”

“Masa? Lidahku terbakar begini.”

Aku tidak tahu bagaimana kami bisa tetap bersama cukup lama. Juli bisa memasak sup sambil menelepon teman wanitanya dan masakan itu tetap terasa sempurna. Dia bisa mendekorasi rumah dengan jenius. Dia memiliki banyak teman dan sekali dua kali berlibur ke pantai kuta. Aku tidak. Aku biasa-biasa saja bahkan di hari yang paling istimewa sekalipun. Di antara kami tidak pernah tercipta sesuatu yang mistis, semacam benang penyambung. Dia bukanlah gadis yang memberiku tatapan hangat di saat-saat yang paling kubutuhkan. Dia mengulurkan asbak ketika seharusnya Aku pengen baca, atau sebaliknya membuang botol-botol minuman bekas padahal Aku baru hendak membuat hiasan menggunakan itu.

Kacau benar,” kataku kepada temanku, “Aku dan Juli hanya menjalin hubungan sebab akibat yang tidak nyaman. Dia menjawab sebab aku bertanya. Tidak ada komunikasi yang benar-benar komunikasi. Kau tahu maksudku.”

Kepada temanku itu aku menjelaskan bahwa kami, aku dan Juli, sama-sama saling merasa satu sama lain bahwa dia bukanlah orang yang bisa membuatku mengekspresikan perasaan secara lengkap dan gamblang. Ketika aku berbicara kepadanya, aku hampir yakin aku sedang berbicara kepada seseorang di sebuah konser yang riuh. Dia bukanlah seorang gadis yang ketika aku menatap matanya dunia di sekitar berhenti berputar sesaat.

Di luar hari-hari yang berat yang kulalui bersama Juli, aku menjadi penulis gelap bagi siapa saja. Dari artikel murahan hingga buku-buku motivasi, dari humor-humor garing hingga novel-novel cengeng. Menghabiskan berjam-jam, bahkan seharian di depan komputer, dengan kopi instan dan rokok murah. Komputerku memiliki jaringan internet yang kubayar setiap bulan sekitar dua ratus delapan puluh ribu rupiah. Aku hidup dengan banyak membaca dan mengetik, memburu tulisan di internet, dan bertemu orang-orang di sosial media; baik orang asing maupun kawan lama. Dan sesekali mengakses situs porno.

Aku bagai pelacur tanpa rahasia apa-apa untuk para pemesan tulisan itu. Suara musik mengiringi sekotak hidupku ini dari pagi sampai malam, sesekali kubiarkan terus berputar hingga pagi berikut menyusul, hingga monitor panas dan kubayangkan bisa meledak sebentar lagi. Suatu waktu datang temanku berkunjung, pagi-pagi, sementara komputerku sedang memutar lagu-lagu Amos Lee satu album yang kudownload secara gratis dari internet. Sudah dari kemarin sore lagu-lagu itu berulang-ulang. Aku tidak peduli komentarnya.

“Amos Lee.” Aku berkata sebelum dia bertanya.

“Lagu macam apa ini?”

“Seperti yang kau dengar.

Aku tidak mengerti dengan seleramu, teman.” Sahabatku mengeluh sambil tertawa lemah agar aku tidak tersinggung.

“Sama.” Jawabku. Sahabatku memang tidak mengerti seleraku seperti yang dia bilang. Aku terlalu malas berdebat. Menurutku orang boleh saja membedakan selera dengan jelas, tetapi tidak ada yang tahu mengapa selera bisa berbeda-beda. Ibaratnya kita makan sate kambing di suatu tempat, lalu kita bertanya kepada salah seorang mengapa dia ketagihan sate kambing dan dia mungkin menjawab bahwa karena rasa mericanya yang meresap. Lalu saat dia balik bertanya, kita mungkin akan menjawab bahwa bau kambing di dalam sate itu yang membuat kita gila sate kambing. Begitu maksudku soal selera.

Setelah temanku pulang, komputer baru kumatikan untuk kuhidupkan lagi satu jam kemudian dengan lagu yang masih sama. Ketika hal ini menjadi rutinitas, Aku mulai usil mengumpulkan semua lagu-lagu terbaik menurutku. Lagu jelek menurut orang, kalau menurutku bagus maka berarti bagus. Di dalam komputer, ada sebuah playlist yang memuat sekitar seratus lagu_semuanya lagu terbaik menurut seleraku. Jadi sepanjang hari pertama kuputar semua lagu tersebut sambil melakukan kegiatan di rumah. Bangun pagi, ke kamar mandi sikat gigi, mandi, bercukur dan sebagainya. Ke dapur membuat sarapan dan mengaduk kopi di dalam gelas besar. Jika sedang hari sabtu atau minggu, aku tidak menulis tetapi mengambil buku dan membaca.

Sesekali, hari menjadi indah karena lagu-lagu terbaik dan segala sesuatu berjalan sesuai harapan di sekitarku.

Saat Aku mulai bosan, maka sebuah lagu bagus akan menjadi jelek kedengarannya. Aku memilih lagu-lagu lain yang menurutku bagus menggantikan lagu-lagu yang mulai membosankan. Aku mencari di internet yang menyediakan menu download lagu gratis, mendengarkan segala macam lagu dari semua genre sambil menyeleksinya. Anehnya, lagu-lagu terdahulu yang kusisihkan karena jelek, kini sebagian telah masuk dalam playlistku. Aku bisa saja mendengar lagu pop sepanjang hari jika hari sedang mendayu pelan, lalu bila perasaanku berubah aku akan memasang rock atau jazz. Begitu terus selama berbulan-bulan.

Seringkali jika aku keluar rumah ke tempat-tempat umum, dimana orang memutar musik di toko-toko speaker atau di mall-mall, lagu yang sebelumnya merupakan lagu kesukaanku yang kemudian menjadi membosankan, kini terdengar begitu nikmat. Maka aku akan kembali ke rumah untuk memutar kembali lagu tersebut. Aku yakin perasaanku terhadap lagu itu masih sama ketika di mall tadi. Tetapi meleset. Jelek sekali di telinga.

Yang terjadi belakangan adalah aku memutar lagu secara acak. Telingaku tidak peduli lagi apakah bagus atau buruk. Hanya sesekali, kebetulan aku berhenti sejenak dari membaca buku atau apa, dan mendengar lagu secara saksama, rasa lagu yang jelek itu memaksaku menggantinya. Bila semua kedengaran jelek, aku mematikan komputer dan duduk membaca dalam keheningan.

“Kau ini pecundang atau apa?” dia berkata di telepon. Kebetulan hari ini seleraku terhadapnya sedang menurun.

“Aku sedang demam. Kemarin keluar hujan-hujan mencari buku makanya Aku terserang flu.”

“Semua orang pernah flu, bego. Jangan jadikan alasan untuk tidak menghubungiku.”

“Ssst. Bisa kecilkan suaramu?” Kalau dia terus mencincangku dengan kata-katanya maka seleraku akan terus turun hingga melewati angka nol.

“Aku hamil.”

“Apa?”

“Aku HAMIL.”

“Astaga! Jangan bilang aku…”

“Siapa lagi!”

Aku turun ke bawah, meraih sweater dari lemari lalu terbang di jalan bagai drakula. Gadis itu sedang hamil dan aku lupa bahwa dia sudah jadi istriku. Sesampainya di sana dia sedang duduk di bangku panjang di bawah pohon mangga. Tangannya memegang pisau mengupas mangga mentah.

“Lagu macam apa itu?” aku duduk di depan wanita itu, memandang perutnya yang samar di balik daster. Aku langsung teringat pada sahabatku ketika dia melontarkan pertanyaan yang sama kepadaku. Pasti perasaannya waktu itu sama sepertiku sekarang.

“Memangnya ada apa dengan selera musikmu?” dia memandangku, sedingin musim dingin yang buram. Dia akan menikamku jika aku masih saja berbicara, jadi aku memilih diam. Dia sedang galak-galaknya, dan bisa jadi benar-benar hamil. Dan lagu lawas dari film komedi warkop terus berputar di sekitar kami.

Burung kakatuaaaHinggap di jendelaNenek sudah tuaGiginya tinggaaalll….dua!!

Aku mendengungkannya, makin lama lagu itu makin enak.

“Jadi?” aku bertanya setelah lagu itu berakhir.

“Iya. Aku dalam masalah sekarang.” Ujarnya sambil mengunyah sepotong seperti bukan mangga dalam mulutnya, tetapi seiris dari tubuhku.

“Baiklah, Aku akan bertanggung jawab. Aku akan merawat bayi itu.”

“Lalu bagaimana denganku? Otakmu taruh dimana?”

“Kau bisa cuti dulu setahun. Lagipula kay tidak serius kuliah, lagipula orang tuamu tidak benar-benar peduli padamu.”

“Tetap saja bila mereka tahu aku bunting mereka akan membunuhku.”

“Menurutku mereka tidak akan tahu. Mereka tidak pernah meneleponmu. Kau yang selalu menelepon mereka, itu pun saat kau butuh uang.

“Mereka pasti akan bertanya tentang kabarku, khususnya ayahku. Apa aku harus berbohong?”

“Apa jawabanmu selama ini saat ayahmu bertanya.”

“Begitu-begitu saja. Aku jawab aku baik-baik, sehat-sehat saja.”

“Terus?”

“Itu saja. Mereka tidak pernah mengorek informasi yang lebih tentang kesehatanku atau tentang kebutuhanku.”

“Berarti tidak usah khawatir.” Kataku.

“Takutnya aku tidak bisa menahan diri. Aku baca di internet, wanita hamil mudah terharu. Bagaimana bila aku tiba-tiba mulai menangis saat menelepon ayahku dan dia mulai bertanya macam-macam?”

“Makanya jangan menangis.”

Dia melemparkan beberapa kulit mangga ke dadaku, “Laki-laki memang paling enak.”

Jangan memancingku kalau seleraku sedang buruk.” Kuambil kulit mangga yang jatuh ke atas pangkuanku dan mulai menggigitnya. Rasanya tawar sekaligus asam.

Suatu hari kami berada di ranjang berdampingan dengan malas. Juli setengah berbaring sementara perutnya hampir saja membuat dia tidak mampu melihat tv.

“Kau nonton apa?”

“Tidak nonton apa-apa.” Jawabnya.

“Kalau Rhoma Irama dan Jokowi jadi mencalonkan diri, kau akan pilih siapa? Menurutmu siapa yang lebih asyik bila jadi presiden?” aku bertanya lagi.

Tanpa memedulikanku, Juli memencet tombol merah dan tv itu mati. Dia mengernyitkan dahi saat menatapku, seakan-akan hendak bertanya; “Kau berbicara kepadaku atau kepada televisi bodoh itu?” lalu membalikan tubuh dan tidak mau bergerak lagi. Dia tidak pernah peduli pada pemilu yang akan jatuh tanggal sebentar lagi. Juli, seperti gadis muda lainnya, tidak ambil pusing. Seringkali aku berharap dia bangkit dari tidurnya, menatapku dengan jengkel sambil berkata, “Persetan dengan pemilu!” supaya Aku dapat bertanya, “Apa kau tidak akan memilih?” dan dengan naif dia akan menjelaskan, mungkin dengan sedikit serius bahwa dia tidak akan menjadi bagian dari orang-orang yang akan memilih presiden. Dia tidak ingin menjadi bagian dari angka-angka, yang segera dilupakan usai perhitungan suara. Seterusnya, dia akan berkata bahwa dia sebenarnya sudah muak memilih seseorang yang dikiranya akan menjadi tumpuan harapan bangsa namun kemudian menjadi penguasa yang tidak tahu diri. Dia benci kecewa lagi, terhadap harapan absurd yang sekosong nyanyian burung murai pada malam yang kering di sebuah negeri yang berutang terhadap janji-janji. Lebih penting baginya adalah memilih antara menggugurkan kandungannya atau meninggalkan bayi kami setelah dilahirkan kepadaku seorang diri.

Mendengarnya supaya aku punya alasan untuk tertawa, seakan-akan dia telah melontarkan semacam lelucon konyol tentang sebuah kepercayaan terhadap seseorang, di waktu yang tidak tepat di mana harga pasar sebuah kepercayaan sedang anjlok berat. Kemudian dia akan kembali tidur. Tidur terus. Lantas mengigau tidak jelas.

Aku memandang wajahnya yang halus lembut, helaian rambutnya yang terjatuh di dahi dan bahu, dan getaran napas di dadanya. Aku tidak bisa membayangkan jika di dunia ini semua hal selalu sama, semua pendapat selalu benar, semua janji selalu diingkari, segala hal yang cantik dalam ciri khas yang sama. Aku tidak tahu apakah kamus akan menciptakan kata selera, sementara dari selera hal besar bisa dipilih seperti ketika anda hendak memilih seorang presiden bagi negaramu.

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan