pemikir-pendidikan-yang-membebaskan

Dialog Dua Pemikir Pendidikan

 

Kenikmatan belanja buku bekas itu tak tergantikan. Bukan hanya keramahan penjualnya, tapi juga waktu berlama-lama disana, menyentuhi bukunya, menciumi bau kertasnya, sampai dengan membongkar-bongkar buku yang tercecer di lapak pemiliknya. Itu yang kualami sebelum mendapati buku bertajuk Belajar Bertanya : Pendidikan Yang Membebaskan (1995). Buku ini memang sudah lawas, namun isinya tak bisa dikatakan lawas alias sudah kudet kalo kata anak jaman sekarang.

Buku ditulis oleh Paulo Freire, nama yang tak asing bagi dunia pendidikan. Seorang tokoh pemikir pendidikan dari Brasil yang telah cukup membumi gagasan-gagasannya. Melalui buku-buku pendidikan yang telah ia tulis diantaranya Pedagogy of the Opressed (Pendidikan Kaum Tertindas), Cultural Action for Freedom (Aksi Kebudayaan Untuk Pembebasan), serta surat-suratnya yang diterbitkan dengan judul Surat-Surat ke Guinea-Bissau.

Aku tergoda dengan Paulo Freire lagi. Setelah sekian lama bukuku Pendidikan Kaum Tertindas hilang dipinjam adek-adek di kampus. Kini aku menemui Paulo Freire lagi, tapi bersama penulis lain menulis buku, penulis itu bernama Antonio Faundez. Ia adalah guru besar filsafat di Chili sampai 1973. Dan kini, mengajar di University Institute of Development Studies Jenewa.

Buku ini berisi dialog dari berbagai macam topik sampai dengan pendidikan. Porsi pendidikan memang lebih banyak dibahas dibuku ini. ada pengakuan menarik yang diberikan oleh Paulo Freire di halaman 3 misalnya ia menulis : Saya tidak mengingkari nilai dari menulis buku secara pribadi atau secara berdua, seperti yang dilakukan oleh kaum intelektual yang tak terhitung banyaknya. Tetapi saya yakin pada nilai suatu buku yang dibuat secara bersama-sama dalam bentuk dialog, sehingga dengan demikian kita secara bertanggungjawab bisa membuka diri kita untuk berbagi pengalaman yang bermakna tentang tugas yang dilakukan bersama-sama.

Kalimat terakhir ini memang benar adanya. Paulo pernah bekerja bersama Dewan Gereja dan melakukan pengajaran di berbagai daerah belahan dunia untuk meneliti, mengamati dan mengambil solusi dari masalah-masalah pendidikan. Salah satu yang sudah dia kerjakan adalah bagian pemberantasan buta huruf. Sedangkan Antonio Faundez sendiri bekerja sebagai Konsultan dalam Pogram Pendidikan Dewasa di Dewan Gereja Sedunia.

Dalam dialog, memang kita sering menemukan kegagalan dalam berfokus. Buku ini pun demikian pula, tapi setidaknya buku ini menarik tema besar tentang pendidikan. Bolehlah kita mengutip beberapa pemikiran-pemikiran bagus di buku ini. Misalnya Paulo Freire menilai tentang toleransi. Toleransi menurut Paulo Freire diartikan sebagai kebijaksanaan atau kebajikan untuk mampu hidup dengan apa yang berbeda itu agar mampu memerangi musuh bersama. Dalam makna itulah, maka toleransi itu merupakan suatu kebajikan revolusioner dan bukannya suatu kebajikan liberal-konservatif.

Paulo Freire memaknai toleransi bukan sekadar pengakuan, tetapi juga kebajikan revolusioner. Dengan cara itulah, Paulo Freire bukan hanya diterima di berbagai belahan dunia, tetapi juga mampu menyelami pemikiran yang ada saat dia menyelami masyarakat dan orang-orangnya. Salah satu topik yang disoroti dalam dialog di buku ini adalah mengenai pengalaman kedua penulis menyelami kehidupan sehari-hari. Antonio Faundez menulis kalau orang-orang tidak merenungi kehidupan sehari-hari, maka mereka tidak menyadari bahwa ada jurang antara gagasan-gagasan dan nilai-nilai ini dan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Dialog yang berkesan dan digarisbawahi menjadi judul buku ini ada  di halaman 49-59 kita akan menemukan filosofi atau bagaimana dua pemikir ini menyoal budaya bertanya di sekolah-sekolah kita. Paulo Freire membuka dengan pernyataan keras :  Keinginan para siswa itu terkadang dapat menggoyahkan keyakinan diri para pengajar. Itulah sebabnya, dengan membatasi keingintahuan para siswa pada kemampuan-kemampuan berekspresi mereka, pengajar-pengajar yang otoriter sekaligus membatasi keingintahuan mereka sendiri. Dari sudut lain pula, kalau para siswa dibebaskan untuk bertanya, mengenai suatu pokok, hal ini sering memberi para pengajar itu semua sudut yang baru, sehingga memampukan mereka untuk selanjutnya merenungkannya lebih kritis.

Antonio sendiri juga berpendapat bahwa Dalam mengajar, pertanyaan-pertanyaan telah dilupakan. Pengajar-pengajar maupun murid telah melupakannya. Padahal seperti yang saya pahami, seluruh pengetahuan bermula dari mengajukan pertanyaan. Mulai dengan keingintahuan. Paulo Freire pun menanggapi persoalan ini dengan mengatakan Sekolah-sekolah pada umumnya menolak adanya pertanyaan-pertanyaan. Ini bukan hanya masalah untuk memasukkan sebuah session  tanya-jawab kedalam kurikulum diantara jam sembilan sampai jam sepuluh misalnya. Bukan itu masalahnya. Masalah yang kita hadapi bukanlah kegiatan mengajukan pertanyaan yang dibirokratisasikan, tetapi untuk menerima kehadiran kegiatan mengajukan pertanyaan itu. Keberadaan (eksistensi) manusia, yang muncul akibat mengajukan pertanyaan-pertanyaan adalah akar dari perubahan di dunia ini.

Inilah saya kira inti dari dialog kedua pemikir pendidikan ini. Mereka sama-sama memandang bahwa pendidikan yang membebaskan tak mungkin tercipta tanpa adanya keberanian untuk bertanya dan mempertanyakan. Sebab dari sanalah, kebenaran bukan sekadar sebuah penerimaan melulu, tetapi merupakan sebuah usaha pencarian terus-menerus yang dinamis, salah satu caranya adalah dengan bertanya. Sehingga kesadaran kritis para siswa-siswa muncul.

 

*) Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, Penulis Buku Ngrasani! (2016)

, , , , , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan