teh-warung-angkringan

Angkringan Peter

Tempat jajanan seperti ini telah hadir jauh sebelum Peter berada di Yogyakarta, bahkan mungkin sebelum Peter lahir ke dunia. Untuk pertama kalinya Peter merasakan makan nasi bungkus dalam porsi yang sangat kecil dengan secuil oseng tempe atau oseng teri di atasnya. Peter merasa tidak kenyang, meski bertubuh langsing dia termasuk ke dalam kategori “rakus”. Di sebuah angkringan di perempatan Rejowinangun, Peter menghabiskan sampai lima bungkus nasi kucing sekaligus. Waktu itu, harga nasi kucing hanya seribu rupiah. Sebenarnya Peter merasa kurang sregg dengan menu-menu di angkringan. Selain kebanyakan sudah dalam keadaan dingin, Peter pun tak biasa berhadapan dengan suasana tempat yang urakan, semaunya, dan terlalu merdeka. Namun karena lapar tiba-tiba melanda pada tengah malam, maka dengan terpaksa pemuda bule ini memaksakan diri mencoba makan di angkringan.

Peter terbiasa dengan aturan makan yang formal dengan pisau di tangan kanan dan satu garpu di tangan kiri, ada buah-buahan sebagai pencuci mulut, ada jus, dan ada banyak pelayan yang menunggui di samping kursi makannya. Di rumahnya di Jerman, Peter tak pernah sekalipun makan sambil bersila, selonjor, atau bahkan ongkang-ongkang kaki di bangku lapuk seperti bangku angkringan. Kemerdekaan pola makan Peter terikat oleh tradisi keluarga bangsawan. Ja’im alias jaga image adalah bagian yang harus dipelihara dalam segala tindak-tanduknya, termasuk saat mereka menggelar acara makan. 

Butuh waktu lama untuk Peter agar bisa beradaptasi dan menerima segala tradisi di kota seribu budaya ini. Peter yang resmi menjadi mahasiswa UGM pada tahun 2010, kini telah bermetamorfosa menjadi Peter yang sangat Jogjakarta. Peter sudah fasih berbahasa Jawa, Peter sangat cinta dengan blangkon dan baju adat Jawa, Peter kerap tampil dalam gelaran budaya, dan Peter pun menjadi penjual angkringan.

Perubahan Peter memang sebuah keajaiban. Peter yang berjanji takan lagi makan di angkringan untuk ke dua kalinya, tiba-tiba berubah 360 derajat. Keajaiban itu datang dari sebuah wajah ayu sang penjaga angkringan yang membuat Peter selalu ingin kembali ke sana. Mungkin hari ini ketika Peter merasa sempurna dengan hidupnya Peter harus berterima kasih kepada Darsono, pemuda Jawa tulen yang dahulu memaksa Peter untuk makan di angkringan untuk kali kedua.

“Ayo, Ter! Angkringan ini lain dari yang lain. Rasanya enak, semua enak. Dijamin bakal ketagihan. Kemon Pren! Ajak Darsono waku itu dengan logat Jawa dan sok-sok English.

“Dimana-mana angkringan sama. Bikin mual perutku. Apalagi itu air minum malah disimpan di atas asap.” Tolak Peter seraya menjulurkan lidah seperti orang mual.

“Jangan menghinalah, Ter! Angkringan adalah bagian dari kebanggaan kami.” Darsono tampak kesal. Apa begitu menjijikan makanan angkringan hingga bule yang satu ini begitu tidak suka? “Kalau kamu tidak suka, kenapa waktu itu kamu bisa menghabiskan lima bungkus nasi kucing sekaligus? Itu artinya kamu  memang suka.” Lanjut Darsono mengungkit kembali kisah Peter yang menghabiskan nasi kucing sampai lima bungkus sekaligus.

“Aku terpaksa, karena aku sangat lapar. Karena lapar, rasa tidak enak pun jadi enak. Tapi aku tidak mau mencobanya lagi.” Peter membela diri.

“Harusnya kamu bersyukur masih menemukan angkringan di tengah malam, di mana para penjual makanan sudah pada tutup.” Darsono mencoba menasehati teman bulenya itu.

“Tapi aku tidak suka. Kamu jangan memaksa, Don! Nanti saja aku akan pergi ke kafe pavoritku.”

“Ya, sudah! Nek kowe ra gelem rapopo! Tapi ya temeni akulah..aku ra duwe konco. Aku gak ada teman, understand!” Darsono kembali membujuk Peter dengan bahasa campur sarinya.

“Ok…ok…aku temenin you, tapi aku tidak makan. Aku hanya akan merokok.” Peter mengalah, dia pun bersedia menemani Darsono ke angkringan.

Angkringan MBAK TUTIK, begitulah namanya. Pengunjungnya ramai. Terletak di kawasan Taman Siswa, di trotoar jalan yang remang-remang. Sang pemilik angkringan hanya menaruh penerangan pada bagian gerobaknya saja. Sedangkan gelaran tikar yang terhampar pada bagian trotoar lainnya hanya diterangi oleh lampu minyak tanah zaman old. Bahkan di beberapa bagian cenderung gelap. Penerangan hanya mengandalkan penerangan lampu dari gedung-gedung tinggi yang terpasang agak jauh dan sorot lampu kendaraan yang lalu lalang.

Mbak Tutik sendiri sebenarnya sudah tidak ada, tepat tiga bulan lalu. Lalu usahanya itu diteruskan oleh suaminya yang dibantu oleh anak semata wayangnya bernama Ayuningtyas atau lebih dikenal dengan panggilan Ayu.

Darsono sibuk memilih menu angkringan yang diinginkan. Hal yang paling wajib yang harus dia pilih adalah tempe mendoan dan cabe ijo plus satu teh anget. Sedangkan Peter yang dari awal sudah tidak bersemangat berangkat ke angkringan tampak mojok di tempat paling ujung. Tidak ada gairah apapun apalagi gairah menyantap menu angkringan, dia hanya sibuk dengan rokoknya yang selalu ngebul seperti kereta uap.

“Arep tak gaweke kopi, Ter?” Darsono mencoba menawari teman satu angkatannya itu.

“What you mean? Apa maksudmu?” Peter yang belum fasih berbahasa Jawa nampak kebingungan mengartikan ucapan Darsono.

“Halah..halah…ni bule! Mau aku bikinin kopi? Tuh..rokokmu, mesake ga ada kawannya. Rokok plus kopi baru mantap.” Ujar Darsono seraya sedikti tertawa.

“Tidak usah! Kamu laper, mending gak usah banyak ngomong.” Ucap Peter ketus.

“Aseemmm ni bule…yo wis…. yo wis…… tak maem sik yo.”

Darsono yang kebelet lapar sudah tidak mau melakukan percakapan apapun dengan bule ngeyel itu. Dia fokus terhadap semua makanan di hadapannya. Dia habiskan dua bungkus nasi kucing, dua tusuk telur puyuh, ceker ayam, kepala ayam, dan tentunya tempe mendoan. Tidak lupa dia seruput teh anget kuku yang membuat seluruh tubuhnya berkeringat. Terlihat Darsono menyeka keringat-keringat kecil di jidatnya. Tak lama terdengar bunyi wwwwoooookkkk…tanda Darsono bersendawa. “Alhamdulillah” Ucap Darsono.  Setelah merasa kenyang, Darsono kemudian sedikit merebahkan badannya ke belakang, kedua tangannya menopang tubuh tambun Darsono. Kakinya dibuat selonjoran.  Angin sepoi-sepoi dengan rela hati mengipasi tubuh Darsono yang kegerahan. Darsono memejamkan mata, dia sedang menikmati kemerdekaannya makan di tempat yang penuh dengan kebebasan.

Peter yang diam-diam mengamati tingkah Darsono  perlahan terbawa suasana. Dia yang dari tadi hanya duduk bersila perlahan berselonjor. Dia pun sedikit merebahkan badannya ke belakang ditopang kedua tangan. Dadanya dibuka, lalu angin alam terasa menusuk daging hingga tulang. Peter merasakan kesejukan yang berbeda yang tidak dia dapat saat bergulat dengan angin AC. Tidak disangka, ternyata bersantai di tempat seperti itu jauh lebih menarik. Peter mulai menyukai tempat angkringan, meskipun hanya sekedar untuk bersantai. Untuk  mencoba menyantap menu angkringan kembali Peter belum berani,. Ajaran keluarganya yang mendoktrin Peter untuk selalu makan dengan menu ala resto yang mewah belum bisa diubah.  Dan kemudian, perubahan itu tiba-tiba datang ketika Peter menemani Darsono membayar makanannnya di angkringan MBAK TUTIK.

“Aku tak bayar dulu, kamu tunggu yo!” Pinta Darsono seraya bangkit.

“Aku ikut.” Tampak Peter bangkit dan membenahi celana pendeknya yang kusut.

Sesampai di depan gerobak angkringan, Darsono menyodorkan beberapa lembar uang kepada pemilik angkringan. Kebetulan yang melayani adalah suami Almarhum Mbak Tutik. Rupanya si bapak pemilik angkringan tak punya kembalian, kemudian dia segera memanggil anaknya yang sedang sibuk mencuci gelas bekas kopi dan teh manis di bagian belakang angkringan.

“Ayu…yu….di sakumu ada uang receh, Nduk?” Bapak itu tampak sedikit teriak. Tidak lama datanglah gadis tinggi kecil dengan kulit sawo matang menghampiri Darsono dan Peter.

“Ini Mas kembaliannya, matursuwun!” Ucap Ayu dengan wajah penuh keramahan.

Darsono segera mengambil kembalian uangnya, sedangkan Peter tampak terpaku. Untuk sejenak Peter tenggelam dalam pesona alami Ayu. Wajahnya yang polos tanpa riasan dengan rambut terurai hitam legam membuat Peter terjebak pada satu rasa kagum yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Rasanya, meskipun Ayu tidak mancung seperti teman-teman senegaranya tapi baru kali ini dia dapat melihat kecantikan natural yang sesungguhnya. Peter terpesona, dan Peter jatuh cinta pada pandangan pertama.

Untuk hari-hari berikutnya, tanpa sepengetahuan Darsono dia kerap datang ke angkringan MBAK TUTIK. Peter memberanikan diri memesan kopi atau teh anget. Dia akan selalu duduk di bangku yang dekat dengan gerobak agar dapat melihat segala gerak-gerik Ayu. Dengan memberanikan diri pula Peter mulai mencoba menu makanan di angkringan tersebut walau sedikit demi sedikit. Dan akhirnya Peter mengakui bahwa menu di angkringan itu rasanya sangat enak. Peter  fikir bahwa semua itu dimasak oleh Ayu sehingga rasanya lebih nikmat, padahal sesungguhnya sebagian besar adalah titipan orang.

Segala rasa yang dimiliki Peter pada satu waktu kemudian tersampaikan berkat usaha Darsono sang sahabat. Darsono sendiri awalnya memendam rasa pada Ayu, tapi karena dia menyadari bahwa Peter lebih tampan darinya akhirnya dia membuang jauh rasa itu. Dia fikir orang ganteng dapetnya yang cantik, dan yang gendut harus sama yang gendut pula. Nah, itu baru cocok biar gak tumpang tindih!

“Gak nyangka jodohmu di sini, Ter!” Ucap Darsono pada satu pertemuan dengan Peter. Setelah kelulusannya di tahun 2014, Darsono tak pernah lagi jumpa. Darsono yang asli Jogja, malah merantau ke luar negeri untuk melanjutkan studi S2. Di sana dia nyambi kerja pada sebuah perusahaan yang membutuhkan ilmunya.  Sedangkan Peter yang orang luar negeri malah berniat menghabiskan seluruh hidupnya di Jogja bersama Ayu yang kini telah memberinya satu orang putera yang tampan.

“Ya, Aku berterima kasih padamu. Karena kamu aku bisa mendapatkan Ayu. Dan aku menjadi sangat cinta dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan angkringan.” Ucap Peter seraya menyeruput teh anget buatannya sendiri. “Andai waktu itu kamu tidak memaksaku pergi ke angkringan, mungkin ceritanya akan berbeda.” Peter melanjutkan.

“Aku malah salut padamu. Kamu jauh-jauh dari Jerman rela menyimpan ijazah sarjanamu hanya demi fokus berbisnis angkringan.”

“Aku hanya merasa angkringan adalah peluang besar untuk aku kembangkan. Benar juga kata orang, tak kenal maka tak sayang. Dulu aku tak suka karena tidak mengenal jauh seperti apa itu angkringan. Tapi setelah aku terjun pada bisnis ini, angkringan tidak hanya sebagai tempat nongkrong, namun didalamnya ada nilai sosial yang sangat tinggi. Ada kemerdekaan bagi siapa saja yang ingin menikmatinya tanpa perlu bayar mahal, ada interkasi  yang tanpa batas antar sesama pengunjung tidak perduli itu orang kaya atau miskin semua duduk pada tikar yang sama bahkan tikar yang usang sekalipun. Benar katamu dulu, bahwa angkringan adalah bagian dari kebanggaan masyarakat Jogja. Njaluk ngapuro nek biyan aku ra pernah menghargai keberadaan angkringan.” Ucap Peter seraya menepuk-nepuk bahu Darsono.

“Rapopo, aku faham. Dulu kamu masih awam dengan kota Jogja. Kamu belum bisa lepas dari bayang-bayang tradisi keningratanmu di Jerman.”

“Keluargaku sudah tidak peduli denganku sejak aku memutuskan menetap di sini. Terlebih ketika mereka tahu saiki aku dodolan angkringan, mereka merasa malu.” Sedikit berkaca-kaca mata Peter saat menceritakan perihal kelurganya di Jerman.

“Sing sabar wae, yang penting anak bojomu sayang sama kamu.” Darsono mencoba menangkan hati Peter. “Angkringanmu wis duwe cabang?” Lanjut Darsono.

“Wis ono papat. Yang dua di kawasan Kota Gede dan yang satu di sekitaran UGM dan sekitaran Adi Sutjipto.”

“Wah, hebat! Padahal angkringanmu ini terbilang sangat ramai. Ada banyak pelayan lagi. Kamu memang calon pengusaha sukses, Ter!” Darsono mengacungkan dua jempolnya pertanda dia sangat bangga dengan pencapaian teman bulenya itu.

Angkringan milik Peter dinamai sesuai namanya sendiri, ANGKRINGAN PETER.  Sejak dibuka dua tahun lalu, nama ANGKRINGAN PETER terkenal sampai mana-mana bahkan pernah diliput beberapa kali oleh media televisi nasional. Hal itu secara tidak langsung telah membuat ANGKRINGAN PETER semakin bertambah jumlah pengunjungnya.  Terlebih Peter terkenal di media sosial sebagai bule penjaga angkringan yang super ganteng. Oleh karena itu tak heran jika ada pengunjung dari luar kota yang sengaja berwisata kuliner di ANGKRINGAN PETER. Banyak diantaranya yang meminta selfi layaknya dengan seorang selebritis.

“Mister…mister…hey mister! may ay foto whit you! Foto…foto..Okeh…okeh lah atuh mister” Pinta seorang pengunjung dari Jawa Barat yang baru pertama kali makan di ANGKRINGAN PETER.

“Owh…njenengan ajeng foto kalih kulo, monggo silahkan!” Timpal Peter seraya teresenyum ramah. Sang pengunjung pun melongo….kaget gak nyangka ternyata bulenya pintar bahasa Jawa.

 

 

, ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan