novel-grafis-buya-hamka-orang-pinggiran

Denyut Nadi Agama Orang Pinggiran dalam Bengkel Buya

Di usia 80 tahun, Ahmad Syafii Maarif masih terlihat kuat dan bugar. Ia masih kuat mengayuh sepedanya. Sepeda yang tua itu masih nampak bagus terawat. Melalui sepeda itu, ia berkeliling, melihat beragam kehidupan manusia yang dijumpainya. Maarif menulis dan membagikan kisahnya pada kita melalui bukunya Bengkel Buya (2016). Buya yang sudah uzur ini masih setia membaca kahanan  (gejala). Sebagai seorang yang tua, ia makin peka. Sepeda yang ia pakai mengingatkan saya pada Sepeda Merah karya Kim Dong Hwa. Bila di Kim Dong Hwa setia mengayuh sepedanya dan keliling desa dan kota mengantar surat, Syafii setia mengayuh sepedanya membaca apa yang dijumpainya.

Di Yogya, ASM menjumpai beragam tokoh, orang-orang kalah. Dikisahkan saat sepedanya rusak, Syafii melihat Tukang Bengkel yang begitu ramai di dekat perempatan. Tukang Bengkel yang rajin itu menarik ongkos murah sekali. Itupun seperti mengganti ongkos kerusakan, sedang upah bengkelnya seperti tak ditariknya. Ketulusan itu membuat ASM merenung dan tertegun : “ Jika orang punya mata batin yang tajam dan rindu menemukan ayat-ayat Allah yang tersebar dimana-mana, tak usahlah menguasai Teori Big Bang (ledakan dahsyat) atau harus paham karya fisikawan invalid Inggris, Stephen Hawking— A Brief History Of Time—, yang belum tentu mudah dicerna.”

novel-grafis-buya-hamka-orang-pinggiran

Judul buku: Bengkel Buya
Penulis: Ahmad Syafii Maarif
Tahun: 2016
Halaman: 100 halaman
Penerbit: Mizan
ISBN: 978-9794-433-944-2

Ketulusan Tukang Bengkel yang dijumpai ASM adalah oase di tengah hilangnya spirit tolong-menolong. Spirit kerja dan ketulusan. Orang sering bekerja tapi tak tulus. Orang sering bekerja dengan penipuan di dalamnya. Bekerja dengan mencurangi orang, timbangan yang dikurangi, korupsi adalah potret dari gambaran masyarakat kita yang penuh krisis. Apa yang dilakukan Tukang Bengkel adalah gambaran dari harapan masih ada di negeri ini di tengah pesimisme dan jurang putus asa. Orang-orang seperti Tukang Bengkel itulah yang kembali menyadarkan kita bahwa bekerja dengan ketulusan tak menyebabkan kita rugi dan jatuh dalam kemiskinan. Justru kita akan jatuh dalam kemiskinan moral yang belum tentu bisa bangkit lagi saat kita bekerja dengan menggunakan kebohongan, penipuan, dan kecurangan.

Saat pulang dari Jakarta, ASM menemui orang yang menyentuh hatinya. Pak Kunto namanya. Sopir taksi bandara Adi Soemarmo. Pak Kunto sebenarnya adalah orang yang beruntung. Dilahirkan dari keluarga mantan hakim di era Sukarno. Ia sempat menikmati bangku kuliah, tapi ia tak selesai. Biaya kuliah harus dihabiskan untuk biaya berobat batu empedu yang ia derita. Setelah berkeluarga, ia pun berhasil menikahkan anaknya. Paska menikah, menantunya pergi ke Kalimantan Timur. Namun apa daya, ia jadi jarang kirim uang. Kebutuhan yang makin berat itu menuntut Pak Kunto harus membanting tulangnya di usia tua. Ia jadi sopir taksi. Pak Kunto adalah cermin dari betapa semangatnya orang Indonesia meski didera berbagai ujian dan beban hidup yang tak mudah.

Saat Buya di rumah, tiba-tiba ada seorang yang datang bertamu padanya. Pak Tugimin datang mengantarkan undangan untuk Khotbah Jumat. Ia meminta Pak Syafii Maarif untuk menjadi Khotib. Tugimin Suronoto adalah takmir Masjid Syuhada. Pak Tugimin adalah orang yang berada di balik hidupnya Masjid Syuhada. Pak Tugimin sering memakai sepeda tuanya untuk mengantar surat kepada khotib yang akan khotbah jumat di Masjid Syuhada. 27 Mei 2006 terjadi Gempa Bumi di Yogyakarta dan sekitarnya. Rumah Pak Tugimin juga terkena korbannya, meski rumahnya tak begitu parah. Pak Tugimin pun membantu tetangga dan orang-orang di sekitarnya. Cerita Pak Tugimin pun ditulis Buya di Rubrik Resonansi Republika. Saat ada orang yang tersentuh membacanya, Pak Pangai, H. Ibrahim Pangai pun ingin menghajikan Pak Tugimin. Ketulusan dan keikhlasan Pak Tugimin pun berbuah kebaikan.

Tokoh yang menyentuh lagi dalam novel grafis ini adalah Pak Suparmin. Pak Suparmin adalah korban gempa Yogyakarta 2016. Tangannya terkena bangunan akibat gempa. Setelah gempa, Suparmin bekerja sebagai tukang asah pisau. Imannya mengantarkan padanya untuk tak mau mengamen. Saat Pak Suparmin menawarkan asah pisau di rumah buya itulah, perkenalannya dengan buya bermula. Kisah Pak Suparmin yang cacat fisik ini tak membuat jiwa kemanusiaannya tumbang. Ia lebih memilih hidup dan bekerja sebisanya daripada hidup meminta-minta. Suparmin dulunya kerja sampai di luar kota Yogyakarta. Namun kini setelah ada istri dan anaknya, ia hanya berkeliling di Yogya saja.

Kehadiran tokoh-tokoh yang diangkat Buya di Bengkel BuyaI (2016) memberikan kita sentuhan moral dan nurani. Mereka adalah orang-orang yang mengamalkan agama dalam laku. Agama tidak muncul dalam lisan dan mulut mereka layaknya pengkhotbah, tapi laku mereka seperti menyentuh kita semua. Sifat tulus Si Tukang Bengkel, kegigihan Pak Kunto, keikhlasan Pak Tugimin merawat Masjid Syuhada, hingga daya hidup Suparmin yang gigih.

Semua tokoh yang hadir dalam Novel Grafis Bengkel Buya (2016) memberikan sentuhan nurani pada kita. Saat makin derasnya krisis moral di negeri ini, hadirnya orang-orang ini menyentak kita bahwa masih ada hawa optimisme di tengah hawa pesimisme dan miskinnya harapan.

*) Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo

, , ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan