pelangi-di-matamu-sindiran

Sindiran

 “Apa yang kau harapkan dari sekolah tinggi? Hidup itu soal uang. Tak ada uang, tak bisa bertahan,” kata Bapak lima tahun silam. “Sekolah itu cukup sampai SD. Bisa baca hitung, sudah. Tak perlu sampai kuliah segala. Lihat kawanmu, si Tarmin. Lulus SD saja jadi juragan tebu.”

Meski berlalu bertahun-tahun lalu, kata-kata Bapak tak pernah kulupa. Selalu teringat setiap kali aku ingin meneruskan jenjang pendidikan. Bahkan, saat aku memutuskan kuliah, Mamak bertengkar hebat dengan Bapak. Mamak tak seperti Bapak. Bagi perempuan tua itu, pendidikan yang utama. Terlepas kelak berprofesi apa, setidaknya paham sedikit tentang ilmu.

Sialnya, setelah lulus kuliah, aku belum juga bekerja. Sebenarnya, bukan tak ada kegiatan. Aku mengajar di SD tempatku dulu. Sebagai guru honorer. Ah, kau tahu sendiri. Gaji guru honorer itu tak seberapa. Kalau tak punya modal ikhlas, jangan pernah mau jadi tenaga honorer.  Bisa-bisa, bakal tak kuat di tengah jalan.

Keadaan ini, menambah uring-uringan si Bapak. Baginya, aku harus menghasilkan uang yang banyak demi pertahankan hidup. Demi keluar dari kemiskinan yang sudah kukenal dekat saat lahir.

“Katanya sarjana Pendidikan Sejarah, tapi gaji sepuluh ribu sehari. Memangnya, sepeda itu tak pakai bensin? Tak butuh beras buat makan?” Minggu seperti ini, aku biasa membantu Mamak mengikat daun ketela yang dijual di pasar sore. Dan seperti biasa, Bapak bercokol di atas kursi sambil menghisap rokok kuat-kuat, ditemani segelas kopi. “Terus, kalau mempelajari sejarah, bisa mencari harta karun Majapahit, gitu?” sindir Bapak kembali.

Mamak menatapku cemas. Aku sendiri tersenyum kecut ke arah Mamak. Berusaha memberi pengertian kalau aku baik-baik saja.

“Kalau aku yang jadi orang itu, lebih baik jadi ayam. Dipelihara, setelah besar dipanggang. Bisa kenyang. Lah, jadi sarjana kok gak punya pekerjaan? Ya, mending pergi saja.”

“Cukup, Sa’di! Ehar itu anakmu. Anak kita,” bela Mamak dengan nada tinggi. Ia tak lagi mengikat daun-daun ketela.

“Misni. Misni. Tahu apa kau tentang hidup ini? Bisamu hanya masak di dapur. Jual daun ketela di pasar. Cuma itu. Kau tak lihat si Kardin? Tanpa kuliah dia jadi kaya raya. Kaya.”

Mamak diam. Memilih mengalah. Kalau tak mengalah, bakal terjadi pertengakaran hebat. Jujur, aku tak nyaman mendengar sindirian yang bakal berujung pertengkaran Mamak dan Bapak. Sebagai satu-satunya pemuda yang nekad sekolah tinggi, orang-orang bahkan Bapakku sendiri menilai kesuksesan dengan karir. Dan itu, harga mati.

            “Lebih baik kau berhenti mengajar. Kerja di Kardin atau di mana. Sebelum aku benar-benar mengusirmu dari sini. Usia sudah tua, masih jadi beban orang tua.”

            Kali ini, aku benar-benar marah. Ucapan Bapak teramat kasar. Dia tak lagi menyindir, tapi sudah mengusir. Aku tak mau berlama-lama. Lebih baik aku pergi. Mamak menangis melihatku mengemasi barang. Aku berusaha menenangkan Mamak. Mengatakan kepada perempuan tua itu, kalau aku tak pergi jauh. Hanya bertempat tinggal di ruang kosong di sekolah. Ruang itu ditempati Haris dan Fahmi, relawan dari Ibukota.

            “Kau tak bisa meninggalkan ibumu yang sudah tua ini, Har?” kata Mamak penuh linang air mata.

            “Aku tak pergi selamanya, Mak. Lagipula, aku bisa menemui Mamak kapan saja asal tak di sini. Bertahun-tahun aku pendam ucapan Bapak dan sekarang sudah waktunya. Tak apa Bapak menyindirku sekeras mungkin. Tapi sekarang aku sudah diusir secara halus, Mak.”

            Mamak tak jawab. Dia terus sesegukan. Aku sendiri sudah selesai mengemasi barang. Kulihat Bapak tetap duduk di atas meja, menyeruput kopi.

            “Aku pamit dulu, Pak.”

            Bapak tak mau menerima uluran tanganku. Biarkan saja. Asal dia tahu kalau aku benar-benar keluar dari rumah.

***

Berita kepergianku dari rumah menyebar dengan cepat. Bisa dilihat dari bisikan orang-orang saat berpapasan. Bahkan mereka menyindir secara terang-terangan. Mamak sendiri sering menemuiku setelah pulang dari pasar sore. Biasanya, dia memberiku nasi dan lauk lengkap. Tetapi seringkali aku melarang Mamak membawa nasi. Takut ketahuan Bapak. Lagipula, aku bisa bertahan dengan para relawan di sini.

            “Dengar-dengar, pemerintah sekarang sedang gencar melindungi aset sejarah. Beberapa waktu lalu, sudah ada yang meninjau desa ini,” seru Fahmi sambil menimba air dari sumur.

            “Benarkah? Dalam rangka apa?” tanyaku penasaran. “Biasanya kan, bukti sejarah ataupun sejarah itu sendiri, mudah dilupakan orang-orang.”

            “Sekarang Menteri Pariwisata berhasil membangun wajah Indonesia di kancah dunia. Benar yang dibangun adalah pariwisata lingkungan, baik laut, gunung atau rumah adat. Tapi sekarang sudah merambah ke sejarah. Baik sejarah kerajaan atau sejarah zaman kolonial.”

            Kalau yang disampaikan Haris memang benar, setidaknya kampungku memiliki harapan dilirik pemerintah. Selain terdapat beberapa batu besar peninggalan zaman megalitikum yang tak terurus, ada juga tempat perjuangan pahlawan melawan kolonial, juga bekas prajurit kerajaan Majapahit dan Blambangan.

            Begitulah. Sehari setelah percakapanku dengan Haris, pemerintah kota datang ke desa. Aku yang kebetulan mengajar, melihat mereka berjalan mengamati bangunan bekas Belanda ini. Ya, rumah-rumah peninggalan Belanda umumnya berada di dekat dataran tinggi, perkebunan atau di dekat stasiun. Sedangkan di kampungku, memang banyak kebun tebu dan kopi. Bahkan bekas gudang Belanda juga ada. tak disangka, mereka menghampiri dan menyampaikan maksud kedatangan. Bagai pucuk ulam pun tiba, aku ditawari proyek oleh mereka.

            Semenjak hari itu, rutinitasku bertambah. Membantu wakil pemerintah, memetakan peninggalan sejarah. Sayangnya, kegiatan ini tak sepenuhnya didukung orang-orang. Sama seperti memandang pendidikan, mereka mencibir apa yang kulakukan. Tak apa. Setidaknya desa ini memiliki sejarah.

            “Untuk memastikan apakah jalur ini digunakan pasukan Majapahit sewaktu berkunjung ke Blambangan, mungkin kita butuh rujukan yang lebih banyak, Pak,” ucapku ke Pak Rudi, koordinator tim di kampung.

            Pak Rudi manggut-manggut. Pembuktian apakah kampungku dulunya jalanan yang dilalui pasukan kerajaan lebih sulit daripada membuktikan bukti peninggalan kolonial, atau batu-batu besar peninggalan zaman megalitikum. Dan untuk mengejar target, Pak Rudi memprioritaskan peninggalan Belanda termasuk rel tua yang dulunya digunakan untuk mengangkut hasil tebu-tebu menuju pabrik gula di Semboro, juga beberapa bangunan tua yang digunakan pahlawan saat melawan Belanda yang bakal diurus. Umumnya, bangunan zaman kolonial ini dibangun sebagai bentuk penghormatan karena di tempat itulah mereka ditangkap dan dibunuh. Seperti Bhuna. Anak buah letkol Sroedji itu mati saat hendak mandi di sungai. Konon katanya, orang zaman dulu sakti-sakti. Ditembak tak ada yang mati. Dan satu-satunya yang menjadi kesialan adalah saat mandi. Karena saat mandi, jimat yang digunakan harus dilepas dulu. Jadilah mereka dibunuh tentara Belanda saat mandi di sungai. Dan bangunan-bangunan yang dibangun itu, hampir dipastikan berada di pinggir sungai atau sumber air.

            “Inikah hasil kuliah sejarahmu itu? Dengan menggali batu-batu? Pemulung lebih baik daripada kamu, Har,” tetiba, Bapak yang entah sejak kapan datang, berdiri sambil berdecak pinggang. Haris dan Fahmi yang turut membantuku memetakan batu-batu, mencoba menghalangi Bapak yang mendekat ke arahku.

            “Mau berapa lama lagi kau permalukan aku? Kau tak tahu, orang-orang sudah mengecapmu gila. Gila!”

            “Silakan Bapak dan orang-orang mengecap saya gila. Yang jelas, saya tak akan berhenti dari pekerjaan ini. Lagipula, saya tidak tinggal dengan Bapak lagi, kan? Tidak makan ke Bapak juga. Buat apa Bapak menyuruh saya berhenti?” aku tak bisa bersabar. Sudah waktunya aku sedikit keras dengan Bapak. Tak ada maksud melawan. Tapi ini demi kebaikan batinku juga. Bapak tak jawab. Dengan muka gusar dan bersungut, dia kembali pulang.

Usai pertemuanku dengan Bapak siang itu, semakin tak kuhiraukan hinaan orang-orang. Lagi pula, setelah pemugaran selesai, dan pemerintah kota mempromosikan paket wisata peninggalan kolonial dan salah satunya melewati desaku, orang-orang semakin ramai berkunjung ke desa. Bahkan, pemerintah menyediakan lahan untuk membuka usaha bagi warga di kampung. Tentu, aku ditunjuk sebagai penanggung jawab wisata di desa. Setelah jam mengajar, aku selalu pergi ke area wisata, mengamati keadaan wisatawan. Kuakui, semenjak desa ini menjadi desa wisata peninggalan kolonial, keuanganku sangat stabil dan malah berlebih. Dan kau tahu, Kawan. Orang-orang tak lagi tersenyum sinis saat berpapasan denganku. Mereka menunduk malu, termasuk Bapak yang malu meminta uang meski sepuluh ribu.

BACA JUGA:

 

, ,

Belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan